Paruh Baya Bukan Akhir: Mengurai Sunyi Perimenopause Bersama We Pause We Rise

Perimenopause datang diam-diam dengan lebih dari seratus gejala yang jarang dibicarakan. We Pause We Rise memilih membukanya bersama.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Diterbitkan 22 Oktober 2026, 11:55 WIB
Paruh Baya Bukan Akhir: Mengurai Sunyi Perimenopause Bersama We Pause We Rise
Mia Lukmaton -Founder We Pause We Rise Mia /Dok. Tuturbangsa.com

Tuturbangsa.com – Ada fase dalam hidup perempuan yang datang tanpa pengumuman. Tubuh mulai terasa asing, suasana hati naik-turun tanpa sebab yang jelas, dan pikiran sesekali berkabut. Fase itu bernama perimenopause, masa transisi menjelang menopause. Ironisnya, meski dialami hampir semua perempuan, fase ini masih jarang dibicarakan secara terbuka.

Keheningan itulah yang mendorong Mia Lukmaton mendirikan We Pause We Rise, sebuah komunitas yang lahir dari kegelisahan sekelompok perempuan yang mulai memasuki usia paruh baya.

Berawal dari Pertanyaan yang Tak Terjawab

Bagi Mia, perimenopause bukan konsep abstrak. Ia mulai merasakan rasa tidak nyaman pada tubuhnya sejak usia 42 hingga 43 tahun. Kala itu, tak ada yang membicarakannya secara terbuka.

“Tidak ada yang pernah membahas secara terbuka mengenai seperti apa perimenopause itu, apa yang harus di-expect, apa yang harus diketahui, dan bagaimana cara menyikapinya,” tuturnya Minggu (8/10/2026).

Pengalaman serupa ternyata dirasakan teman-temannya. Perubahan pada tubuh, suasana hati, hingga brain fog datang silih berganti, sementara pengetahuan tentangnya nyaris nihil. Dari situ, mereka mulai saling bertanya dan berbagi pengalaman. Percakapan kecil itu perlahan tumbuh menjadi gerakan.

Lebih dari Sekadar Hot Flashes

Selama ini, menopause kerap diidentikkan dengan hot flashes atau rasa panas yang tiba-tiba menyergap. Padahal, menurut Mia, gejala perimenopause jauh lebih beragam, mencapai sekitar 130 jenis.

Spektrumnya luas. Mulai dari yang umum seperti brain fog dan fluktuasi suasana hati, hingga yang jarang disangka, seperti kulit kering dan luka atau perubahan bau badan akibat perubahan hormon. Keragaman inilah yang membuat banyak perempuan kebingungan. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda, tetapi tidak tahu harus menamainya apa.

Angka yang Tak Bisa Diabaikan

Persoalan ini bukan urusan segelintir orang. Mia menyebut, berdasarkan data, Indonesia diperkirakan memiliki 60 juta perempuan yang berada dalam fase ini pada 2030, seiring dengan bonus demografi.

Minimnya pemahaman, menurut Mia, bisa berdampak serius, termasuk pada kehidupan rumah tangga. Ia menyinggung fenomena grey divorce, yakni perceraian di usia paruh baya. Salah satu pemicunya adalah pasangan yang tidak memahami perubahan yang dialami perempuan di fase ini.

Di titik ini, perimenopause tak lagi sekadar urusan medis. Ia menyentuh relasi, keluarga, bahkan produktivitas sebuah bangsa.

Belajar Bersama, Melangkah Bersama

We Pause We Rise hadir sebagai ruang belajar kolektif. Para anggotanya mengumpulkan informasi, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Namun, gerakan ini tak berhenti pada pemahaman.

Setelah mengenali kondisi masing-masing, para anggota diajak menatap babak berikutnya. Ada yang memikirkan untuk berganti bisnis, pindah kerja, pindah ke luar negeri, hingga membuka lembaran baru dalam hidup pribadi. Paruh baya dimaknai sebagai titik untuk bertanya: what’s next?

Agar edukasi yang dibagikan tetap berpijak pada sains, We Pause We Rise berkolaborasi dengan Magnolia Collective, komunitas yang berfokus pada sisi medis. Magnolia membantu menghadirkan informasi dan penjelasan dari para ahli seputar hormon dan kesehatan. Pada momentum Hari Menopause Sedunia, kedua komunitas sepakat untuk saling merangkul dan memperluas jangkauan edukasi.

Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 100 anggota aktif yang mengikuti kegiatan daring maupun luring, sebagian besar berbasis di Jakarta. Informasi juga disebarkan lebih luas melalui media sosial dan acara daring. Untuk bergabung, tidak ada persyaratan khusus. Cukup mengikuti akun media sosial We Pause We Rise dan hadir dalam diskusi yang mereka gelar.

Menghapus Stigma “Sudah Tua”

Di balik semua upaya itu, ada satu pekerjaan rumah besar: stigma. Di masyarakat, perempuan yang memasuki menopause masih kerap dipandang sudah tua dan tak lagi produktif.

Mia menolak cara pandang tersebut. Dengan harapan hidup perempuan yang kini bisa mencapai 80 hingga 90 tahun, usia 40-an sejatinya baru separuh perjalanan.

“Kalau sudah paruh baya atau midlife (starting usia 40-an), berpikirlah bahwa hidup ini masih panjang. Jangan pernah berpikir bahwa kamu sudah ‘lepek’, tua, atau tidak punya apa-apa lagi untuk dinantikan. Masih banyak banget hal yang bisa dikerjakan, dan gejala-gejala yang ada bisa dinavigasi bersama,” pesannya.

Perimenopause mengajarkan bahwa tubuh perempuan terus berubah, dan perubahan bukanlah kemunduran. Yang membuat fase ini terasa berat sering kali bukan gejalanya semata, melainkan kesunyian di sekelilingnya.

We Pause We Rise menunjukkan bahwa kesunyian itu bisa dipecahkan dengan cara yang sederhana: bertanya, mendengar, dan berbagi. Ketika perempuan berani membicarakan tubuhnya, ia tidak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi generasi berikutnya agar tak lagi melangkah dalam gelap.

Jeda, sebagaimana tersirat dalam nama komunitas ini, bukan berarti berhenti. Ia adalah ruang untuk menarik napas sebelum kembali bangkit.

Playlist Saya