Transformasi Industri Percetakan: Dari Kertas Ke Layar dan Piksel
Industri percetakan Indonesia bertransformasi lewat AllPrint 2026, memadukan teknologi cetak digital, ekonomi kreatif, dan keberlanjutan lingkungan.
Tuturbangsa.com – Ada anggapan yang sudah lama beredar bahwa dunia percetakan perlahan akan tenggelam ditelan zaman digital. Kertas dianggap sebagai medium masa lalu, sementara layar dan piksel menjadi masa depan yang tak terelakkan. Namun narasi itu justru dipatahkan oleh apa yang terjadi di lapangan. Industri percetakan tidak sedang sekarat – ia sedang bertransformasi, mencari bentuk baru yang jauh lebih luas dari sekadar tinta di atas kertas. Pameran AllPrint Indonesia 2026, yang akan digelar 9–12 Oktober di JIExpo Kemayoran, menjadi salah satu cermin paling jelas dari pergeseran besar ini.
Dari Print Paper Pack Menuju Ekosistem Cetak Multisektor
CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, menceritakan perjalanan panjang pameran ini yang sudah memasuki edisi ke-27. “Awalnya tahun ’95 pameran ini namanya adalah Print Paper Pack. Seiring berjalannya waktu, berubah menjadi Pameran AllPrint Indonesia,” ujarnya.
Perubahan nama ini bukan sekadar rebranding, melainkan cermin dari betapa cepatnya lanskap industri ini berkembang-hingga akhirnya AllPrint dan AllPack harus dipisah penyelenggaraannya karena skala yang sudah tidak lagi tertampung dalam satu venue. “Kenapa dipisah? Karena tempatnya sudah tidak memadai, akhirnya AllPrint dan AllPack harus kita pisah dengan waktu yang berbeda,” jelasnya.
Skala AllPrint tahun ini terbilang besar: lebih dari 400 peserta dari sepuluh negara, mulai dari China, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Singapura, Jerman, hingga Indonesia sendiri sebagai tuan rumah, dengan kurang lebih 20 IKM turut ambil bagian. Investasi yang dibutuhkan pelaku usaha pun bervariasi luas, mulai dari puluhan juta rupiah untuk usaha kecil hingga miliaran rupiah bagi yang ingin masuk ke segmen teknologi yang lebih besar. “Industri kreatif di bidang grafika sangat dinamis, terutama teknologi cetak digital,” ungkap Daud, menandakan bahwa pintu masuk industri ini kini jauh lebih terbuka dibanding satu dekade lalu.
Evolusi Kualitas yang Tak Pernah Berhenti
Menariknya, perkembangan yang terjadi bukan hanya soal jangkauan pasar, tetapi juga kualitas teknis dari mesin cetak itu sendiri. Daud mengamati bagaimana industri ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik dari sisi kualitas hasil cetak, kecepatan produksi, presisi, maupun ramah lingkungannya bahan yang digunakan. “Dari yang tadinya kalau kita ke ruangan cetak itu bau sekali tidak enak, sekarang sudah nyaman. Itu berarti makin tahun makin di-upgrade, baik dari head printer-nya, dari segala jenisnya, serta kualitas dan biayanya,” jelasnya.
Bahkan tinta cetak kini mulai diproduksi di dalam negeri, sebuah kemajuan yang turut menekan biaya produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Cakupan teknologi cetak digital pun kini telah jauh melampaui bayangan konvensional. “Sekarang media ini tidak hanya kertas, seperti kartu kredit, handphone, jam tangan, bahkan curtain termasuk tekstil hijab,” jelas Daud.
Ia bahkan menyinggung fenomena hijab fashion yang bisa dicetak dengan biaya murah-hanya sekitar Rp35.000 per lembar-namun tetap bisa dipersonalisasi dengan nama pemakainya, mengikuti tren anak muda yang gemar berganti gaya setiap minggu. Ilustrasi kecil ini menjadi cermin tajam tentang bagaimana teknologi cetak digital kini merambah jauh ke ranah gaya hidup dan fashion cepat, membuka segmen pasar yang dulu tidak terbayangkan.
Ketika Dunia Fisik Menolak untuk Punah
Salah satu observasi paling reflektif dari Daud datang dari pengalamannya menghadiri pameran industri kreatif fashion di Italia. “Kita pikir digital sudah mengambil alih dan tidak ada lagi majalah fisik, tapi di sana saya lihat di rak itu majalah fisik banyak sekali. Padahal mereka harusnya lebih maju dari kita, tapi majalah fisik tetap mereka cetak dan mereka pakai,” ungkapnya.
Pengamatan ini menantang asumsi sederhana bahwa digitalisasi akan menggantikan segala sesuatu yang bersifat fisik. Kenyataannya, pasar cetak tidak hilang-ia hanya menyusut volumenya sembari menemukan nilai baru sebagai sesuatu yang lebih personal dan bermakna dibanding sekadar informasi yang bisa digulir di layar. “Jadi artinya pasarnya tetap ada, mungkin volumenya lebih kecil,” simpulnya.
Bahkan teknologi tiga dimensi kini turut memperluas batas industri ini jauh melampaui percetakan konvensional. Daud menyebut bagaimana mesin cetak 3D sudah merambah sektor kesehatan, industri mesin, hingga suku cadang-bahkan kaki palsu kini bisa dicetak menggunakan teknologi ini.
Lebih mengejutkan lagi, mesin cetak 3D masa kini bahkan mampu menghasilkan bahan berbahan dasar besi. “Bisa dipakai oleh industri robotik. Kita tahu sekarang AI jadi humanoid, itu kan menggunakan bahan yang lentur seperti kulit manusia, itu juga pakai 3D printing,” ujarnya, menggambarkan bagaimana teknologi cetak kini bersinggungan langsung dengan sektor kesehatan, manufaktur, hingga robotika mutakhir yang tengah menjadi sorotan dunia.
Di luar sisi teknologi, Daud juga menyebut skala ekonomi industri cetak grafika yang tidak main-main, dengan potensi pasar mencapai Rp190 triliun-cakupan yang meliputi percetakan branding, labeling, hingga kemasan produk. “Nah, di AllPrint ini adalah cetak branding, karena tidak ada packaging apa pun yang tidak ada namanya,” jelasnya, menegaskan bahwa hampir tidak ada produk konsumen yang bisa lepas dari sentuhan industri percetakan.
Konsolidasi di Tengah Perubahan Perilaku Konsumen
Bagi Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, transformasi ini menuntut kesiapan kolektif seluruh pelaku industri, dari perusahaan besar hingga UMKM. “Perubahan perilaku konsumen, percepatan teknologi digital, tuntutan produksi yang efisien, serta komitmen terhadap keberlanjutan menuntut pelaku industri untuk terus berinovasi,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa AllPrint Indonesia bukan sekadar ajang pameran mesin, melainkan wadah kolaborasi dan penguatan jejaring-sebuah ruang di mana gagasan bertukar sama pentingnya dengan transaksi bisnis.
Momentum ini juga dimanfaatkan PPGI, organisasi yang telah berdiri sejak 1974, untuk menggelar Musyawarah Nasional ke-11 pada 8 Oktober 2026, mempertemukan perwakilan dari 22 provinsi dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.
“Kehadiran perwakilan dari berbagai daerah menegaskan komitmen PPGI untuk merumuskan arah kebijakan industri grafika nasional secara inklusif, merata, dan berorientasi pada kemajuan bersama,” ujar Ahmad Mughira.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara pameran dan Munas diharapkan mampu mendorong investasi baru, membuka akses kemitraan global, serta memperkuat daya saing produk percetakan Indonesia-sekaligus mempertegas pentingnya keterlibatan pelaku usaha dalam ekosistem e-Katalog pemerintah sebagai jalur pengadaan yang kini menjadi keharusan.
Percetakan Sebagai Bagian dari Ekonomi Kreatif Bernilai Tinggi
Dukungan pemerintah terhadap sektor ini datang dari Deputi Bidang Kreativitas Ekonomi Digital Badan Ekonomi Kreatif, Cecep Rukandi, yang menempatkan industri penerbitan dan percetakan sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif nasional. Ia menjelaskan bahwa kementeriannya memiliki tiga fokus utama: memfasilitasi pelaku ekonomi kreatif untuk naik kelas, mengembangkan ekosistem yang kondusif dan berkelanjutan, serta menciptakan pelaku usaha unggulan atau “champion” yang tidak sekadar berbisnis seadanya. “Sesuai dengan prinsip ekonomi kreatif harus terus meningkatkan nilai tambah melalui kreativitas, baik yang berbasis budaya, ilmu pengetahuan, maupun teknologi,” jelasnya.
Data yang dipaparkan Cecep menegaskan betapa signifikannya kontribusi sektor ini. “Dari 21 subsektor ekonomi kreatif itu, kontribusinya terhadap PDB itu adalah Rp1.757,8 triliun. Dan industri penerbitan kontribusinya itu peringkat kelima, yaitu Rp94 triliun,” paparnya. Angka ini menjadi penegasan bahwa industri yang kerap dianggap “senja kala” ini justru masih menempati posisi signifikan dalam peta ekonomi kreatif Indonesia.
Bagi Cecep, kunci keberlanjutan industri ini bukan sekadar bertahan dengan model bisnis lama, melainkan berani melangkah ke arah pengembangan kekayaan intelektual. “Kalau mau cuan lebih besar, kita tidak hanya sibuk menjual komoditas, tidak hanya sibuk menjual jasa, tetapi juga mengembangkan intellectual property,” ujarnya, mengingatkan bahwa nilai tambah sesungguhnya lahir dari kreativitas, bukan sekadar volume produksi.
Momentum ini turut bertepatan dengan perayaan Oktober Kreasik, sebulan penuh perayaan kreativitas nasional menjelang Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.
Kertas yang Tak Kunjung Kehilangan Relevansi
Dari sisi hulu industri, Kementerian Perindustrian melalui Yulis Anggunita yang mewakili Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa industri pulp dan kertas nasional masih menunjukkan performa yang solid. “Industri pulp dan kertas Indonesia ini merupakan industri hilir bernilai tambah tinggi, yang selama ini sudah banyak menghasilkan produk kertas berkualitas,” jelasnya.
Sepanjang 2025, sektor ini berkontribusi sekitar 3,73 persen terhadap PDB pengolahan non-migas, dengan nilai ekspor pulp mencapai USD 3,6 miliar dan produk kertas USD 4,57 miliar, sekaligus menyerap sekitar 280.000 tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung di lebih dari 100 perusahaan skala besar.
Yulis menekankan bahwa peluang pertumbuhan justru datang dari kebutuhan yang terus berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat. “Kebutuhan label product untuk pasar e-commerce, tren merchandise custom dan digital printing on demand, kebutuhan promosi UMKM baru,” sebutnya sebagai beberapa faktor pendorong.
Ia juga menyoroti tren green packaging yang mulai dikenal luas, mendorong pergeseran dari kemasan berbasis plastik menuju bahan yang lebih ramah lingkungan, meski ia mengakui perjalanan menuju bioplastik sepenuhnya masih panjang. “Meskipun persaingan dengan media digital semakin ketat, kami percaya bahwa industri percetakan ini masih memiliki peluang pertumbuhan,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa pihaknya terus mendorong konsolidasi kebijakan bahan baku, perbaikan rantai pasok, serta penerapan ekonomi sirkular sebagai strategi jangka panjang.
Kisah tentang industri percetakan pada akhirnya bukan kisah tentang kertas melawan layar, melainkan tentang bagaimana sebuah industri lama menemukan cara baru untuk tetap relevan di tengah dunia yang berubah cepat. Mesin cetak hari ini tidak lagi hanya berbicara dalam bahasa tinta dan kertas, tetapi juga bahasa data, personalisasi, dan keberlanjutan lingkungan.
Dari hijab yang bisa dicetak dengan nama sendiri, kemasan yang beralih dari plastik ke bahan ramah lingkungan, hingga cetak tiga dimensi yang merambah dunia robotika industri ini membuktikan bahwa adaptasi tidak selalu berarti meninggalkan akar, melainkan memperluas cabang ke arah yang tak terduga.
Yang menarik, transformasi ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Ia digerakkan oleh sinergi antara pelaku usaha, asosiasi industri, dan pemerintah yang masing-masing membawa perspektif berbeda namun saling melengkapi-dari kreativitas pelaku pameran, konsolidasi kebijakan asosiasi, hingga dukungan data dan insentif dari kementerian terkait.
Barangkali pelajaran terbesar dari transformasi ini adalah bahwa teknologi yang bertahan bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling lentur menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia yang terus berubah persis seperti mesin cetak yang kini belajar berbicara dalam bahasa digital tanpa kehilangan jati dirinya.