Ketika Musik Menjadi Bahasa Konservasi untuk Gen Z
Konservasi tidak selalu harus terasa berat. Kadang ia datang lewat sebuah lagu, sore yang tenang, dan rumput di bawah kakimu.
Musik bukan sekadar hiburan – ia kini menjadi bahasa paling ampuh untuk menggerakkan Gen Z peduli konservasi alam.
Tuturbangsa.com– Ada cara yang lebih mudah untuk berbicara kepada generasi yang tumbuh bersama notifikasi, reels, dan doomscrolling. Bukan dengan ceramah. Bukan dengan spanduk peringatan. Bukan dengan data-data yang angkanya terlalu besar untuk terasa nyata. Caranya adalah melalui bahasa universal yang menembus segala batas usia, latar belakang, dan kepedulian: musik.
Inilah premis yang menjadi fondasi Sunset di Kebun Series 2026 Presented by Tring! By Pegadaian. Sebuah festival musik yang lahir bukan semata-mata dari kecintaan terhadap seni pertunjukan, melainkan dari kegelisahan yang lebih dalam: bagaimana caranya membuat generasi muda Indonesia peduli terhadap alam yang sedang mereka warisi dan perlahan-lahan, mereka abaikan.
Generasi yang Sibuk dengan Dirinya Sendiri
Gen Z dikenal sebagai generasi yang paling vokal soal isu-isu sosial. Mereka bicara tentang kesetaraan, tentang kesehatan mental, tentang perubahan iklim di caption Instagram mereka. Namun ada jarak yang sering kali lebar antara kesadaran digital dan tindakan nyata.
Michael Bayu A. Sumarijanto, Presiden Direktur PT Mitra Natura Raya, memahami betul jarak itu. Ia tidak melihatnya sebagai kelemahan generasi, melainkan sebagai tantangan komunikasi.
“Era Gen Z sukanya apa selain mereka selalu sibuk dengan mental health-nya? Itu adalah musik,” ujarnya. “Nah, musik kita ini lahirlah Sunset di Kebun.”
Pernyataan itu terdengar sederhana, namun menyimpan strategi yang matang. Jika pesan konservasi ingin sampai ke telinga yang terbiasa mendengar lewat earphone, maka sampaikan ia dalam frekuensi yang sama melalui melodi, melalui lirik, melalui pengalaman yang terasa personal dan tidak menggurui.
Bukan Festival Biasa

Dari luar, Sunset di Kebun memang tampak seperti festival musik pada umumnya. Ada panggung, ada artis-artis papan atas seperti Tulus, Fiersa Besari, Dere, Nadin Amizah, dan deretan nama lain yang wajahnya akrab di playlist Gen Z. Ada penonton yang duduk di atas rumput dengan minuman di tangan, menikmati sore yang perlahan memudar jadi senja.
Namun di balik semua itu, ada arsitektur pengalaman yang dirancang dengan sangat sadar.
“Ini bukan sekadar festival musik biasa, tapi ini adalah sebuah movement di mana anak generasi muda kita ajak – yuk, sama-sama kita jaga lingkungan kita, kita jaga tanaman-tanaman kita yang ada di luar sana,” tegas Michael Bayu.
Marga Anggrianto, Managing Director PT Mitra Natura Raya, menyebutnya dengan istilah yang lebih lugas: media campaign. “Sunset di Kebun by Tring! Ini adalah produk atau campaign kami untuk menekankan edukasi dan wisata. Ini buat kami bukan hanya sebuah campaign, tapi sebuah IP – karena ini adalah media komunikasi kami ke anak-anak muda.”
Ketika anak muda datang ke kebun raya untuk menonton konser, mereka tidak hanya disambut oleh panggung musik. Mereka disambut oleh seluruh ekosistem pengalaman yang telah disiapkan: kelas edukasi tanaman di area Natura, penampilan seni budaya tradisional di panggung Kultura, workshop merakit terarium, hingga interaksi langsung dengan para artis yang turun ke tengah penonton – mencairkan jarak antara idola dan manusia biasa yang sama-sama berdiri di atas tanah yang sama.
Tanaman yang Punya Nama

Salah satu program yang paling konsisten dijalankan adalah Plant Heroes – sebuah inisiatif yang setiap tahunnya mengangkat satu atau dua tanaman endemik Indonesia untuk diperkenalkan kepada pengunjung. Caranya bukan dengan pameran ilmiah yang kaku, melainkan dengan storytelling yang hangat dan manusiawi.
Tahun-tahun sebelumnya, nama-nama seperti Nepenthes, Begonia Tuti Siregar, dan Bucephalandra berhasil keluar dari lingkaran komunitas pecinta tanaman dan masuk ke percakapan yang lebih luas. Tahun 2026, giliran Hoya.

“Tanaman Hoya ini adalah tanaman hias yang sebarannya ada di Asia Tenggara dan paling banyak adanya di Indonesia. Tanaman ini dapat menyerap polutan udara, benzena, dan formaldehida. Lalu tanaman ini bisa menjadi obat anti-inflamasi, anti-infeksi, luka bakar,” jelas Michael Bayu kepada ratusan pengunjung yang mungkin sebelumnya hanya mengenal Hoya sebagai tanaman gantung di rumah nenek.
Itulah kekuatan sebenarnya dari pendekatan ini. Ketika seseorang datang untuk menikmati musik dan pulang dengan mengetahui bahwa ada tanaman yang mampu membersihkan udara di dalam kamarnya – sesuatu telah berubah, meski kecil. Pengetahuan itu tidak diminta, tidak dipaksakan. Ia datang dengan sendirinya, menyelip di antara nada-nada dan tepuk tangan.
Angka yang Bicara
Selama tiga tahun terakhir penyelenggaraannya, Sunset di Kebun Series telah menjangkau lebih dari 200 ribu anak muda atau yang mereka sebut sunset people. Di tahun 2025 saja, lebih dari 52.000 pengunjung hadir di enam lokasi berbeda, mulai dari Kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi, Bali, TMII Jakarta, hingga Pantai Indah Kapuk.
Customer Satisfaction Index yang mencapai 5.17 dan Net Promoter Score sebesar 61.54 persen bukan hanya angka keberhasilan komersial. Ia adalah indikator bahwa pendekatan ini benar-benar diterima – bahwa anak muda tidak menolak pesan konservasi, asalkan pesan itu datang dalam kemasan yang menghormati cara mereka menerima informasi.
Tahun 2026, targetnya lebih ambisius: 60.000 orang yang akan terpapar pesan konservasi melalui rangkaian Sunset di Kebun, Sunset di Pantai, dan Jazz di Kebun format terbaru yang lebih intimate dan terkurasi.
“Kami mohon doa restunya dari teman-teman semua. Tahun ini kita targetkan 60 ribu yang akan kita paparkan tentang pesan konservasi dan kampanye kita,” ujar Michael Bayu dengan optimisme yang tidak dibuat-buat.
Melampaui Pagar Kebun Raya

Gerakan ini tidak berhenti di dalam pagar kebun raya. Melalui program outreach, Sunset di Kebun telah berkolaborasi dengan berbagai LSM dan komunitas peduli lingkungan termasuk kegiatan bersih-bersih Kali Ciliwung dalam rangka memperingati Hari Bumi. Sunset di Pantai di kawasan PIK hadir untuk menjangkau mereka yang mungkin tidak akan datang ke kebun raya, namun tetap merindukan ruang terbuka dan udara segar.
Dan tidak lama lagi, gerakan ini bahkan akan melampaui batas negara. “Kita bahkan mau ngegas Sunset Go International,” bocor Michael Bayu, merespons antusiasme pengunjung dari luar Indonesia yang jumlahnya perlahan terus bertambah.
Di era ketika perhatian manusia adalah komoditas paling langka, Sunset di Kebun berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah: membuat anak muda secara sukarela datang ke kebun raya, duduk di atas rumput, mendengarkan musik, dan pulang dengan sedikit lebih banyak cinta terhadap bumi yang mereka tinggali.
Mungkin itulah cara paling jujur untuk mengajak seseorang peduli. Bukan dengan menakut-nakuti. Bukan dengan mewajibkan. Tapi dengan mengundang – ke tempat yang indah, di waktu yang tepat, lewat bahasa yang paling mereka cintai.