Jangan Selalu Salahkan Usia Saat Stamina Menurun, Perhatikan Sindrom Metabolik dan Kadar Gula Darah
Stamina menurun kerap dikaitkan dengan bertambahnya usia.
Tuturbangsa.com – Tubuh memang punya cara tersendiri untuk memberi sinyal kesehatan. Kondisi mudah Lelah, stamina[1] yang tak sebugar dulu, perubahan fungsi seksual, berat badan meningkat, hingga kadar gula darah yang mulai berubah kerap dianggap sebagai konsekuensi dari bertambahnya usia atau faktor gaya hidup.
Namun, tidak semua perubahan pada tubuh layak dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Di balik sinyal-sinyal tersebut bisa saja terdapat perubahan hormonal maupun gangguan metabolisme yang patut dikenali lebih awal.
Pesan ini mengemuka dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026. Mengambil tema Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care, seminar yang digelar pada Juli 2026 tersebut menghadirkan sejumlah dokter spesialis penyakit dalam, di antaranya dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM.
Stamina Menurun, Jangan Semata-Mata Salahkan Usia
Pada pria, pertambahan usia memang kerap diikuti perubahan hormonal, termasuk menurunnya kadar testosteron. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan bahwa kadar testosteron dan free testosterone cenderung semakin menurun setelah usia 50 tahun.
Namun, persoalannya bukan sekadar angka usia. Ketika penurunan tersebut disertai keluhan yang menetap dan mulai mengganggu aktivitas maupun kualitas hidup, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian medis.
Salah satu kondisi yang dapat muncul adalah late-onset hypogonadism (LOH), yakni kondisi kekurangan testosteron pada pria yang berkaitan dengan bertambahnya usia. Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1 persen populasi pria secara umum. Prevalensinya meningkat dari sekitar 0,1 persen pada pria usia 40–49 tahun menjadi 5,1 persen pada kelompok usia 70–79 tahun.
Risiko ini juga dapat lebih tinggi pada pria dengan obesitas maupun sindrom metabolik.
Menurut dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di UKRIDA Primaya Hospital, perubahan tubuh yang mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian dari proses penuaan.
“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh.”
Ia menekankan, kekurangan testosteron bukan semata-mata persoalan usia ataupun fungsi seksual. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan sehingga diperlukan evaluasi medis yang tepat.
Dengan kata lain, tubuh yang mulai berubah bukan selalu pertanda seseorang harus “menerima” penurunan kualitas hidup. Bisa jadi, tubuh sedang mengirimkan sinyal yang perlu dicari penyebabnya.
Diabetes Bisa Berkembang Tanpa Disadari
Sinyal tubuh yang sering luput dikenali juga terjadi pada gangguan metabolisme, termasuk diabetes.
Berbeda dengan penyakit yang langsung menimbulkan keluhan, diabetes tipe 2 dapat berkembang dalam waktu cukup panjang tanpa gejala yang jelas. Seseorang bahkan bisa baru mengetahui dirinya mengalami diabetes ketika pemeriksaan dilakukan atau ketika komplikasi mulai muncul.
Materi dalam Primaya Endocrine 2026 mencatat bahwa lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Kondisi tersebut membuat risiko komplikasi dapat berkembang sebelum seseorang mendapatkan penanganan.
Di Indonesia, data IDF Diabetes Atlas 2025 menempatkan Indonesia pada peringkat kelima dunia untuk jumlah prevalensi diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun, sekaligus peringkat ketiga untuk jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan diabetes tidak hanya berada di ruang praktik dokter. Ia juga berkaitan dengan kesadaran masyarakat untuk mengenali risiko dan melakukan pemeriksaan sebelum masalah berkembang lebih jauh.
Diabetes Bukan Sekadar Soal Gula Darah
dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, mengatakan cara pandang terhadap diabetes juga perlu diperluas.
“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh.”
Diabetes tipe 2 melibatkan mekanisme yang kompleks dan dapat berkaitan dengan berbagai organ serta sistem tubuh, mulai dari pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun.
Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak semestinya hanya dilihat dari satu angka hasil pemeriksaan laboratorium. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mencegah komplikasi, mempertahankan fungsi organ, serta menjaga kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Pendekatan pengelolaan diabetes pun kini bergerak ke arah yang lebih proaktif. Kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, hingga kebutuhan dan preferensi pasien menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan penanganan.
Mendengarkan Tubuh Sebelum Terlambat
Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang mengejar angka yang ideal. Bukan semata-mata bagaimana membuat kadar gula darah turun, berat badan berkurang, atau kadar hormon kembali berada dalam rentang tertentu.
Tujuan yang lebih besar adalah mempertahankan fungsi tubuh, mencegah komplikasi, menjaga produktivitas, dan memungkinkan seseorang tetap memiliki kualitas hidup yang baik dalam jangka panjang.
Karena itu, perubahan tubuh sebaiknya tidak selalu disambut dengan kalimat, “Namanya juga sudah bertambah usia.”
Stamina yang menurun, mudah lelah, perubahan fungsi seksual, perubahan berat badan, maupun faktor risiko diabetes bisa menjadi alasan untuk lebih mengenal kondisi tubuh sendiri. Bukan untuk mencemaskan setiap perubahan, melainkan untuk memahami kapan sebuah perubahan perlu diperiksa.
Sebab, sinyal tubuh adalah awal untuk mengenali kondisi kesehatan. Deteksi dini membuka kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan personal. Dan pada akhirnya, yang ingin dipertahankan bukan sekadar angka pemeriksaan, melainkan kualitas hidup.