Berdayakan Pemuda Desa, Unpad Hadirkan Pengolah Sampah Sirkular di Bandung

Unpad dan Tel-U hadirkan compost tumbler system di Desa Sumbersari, Bandung. Karang Taruna dilatih kelola sampah pasar jadi kompos bernilai ekonomi.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Diterbitkan 19 Agustus 2026, 12:20 WIB
Berdayakan Pemuda Desa, Unpad Hadirkan Pengolah Sampah Sirkular di Bandung
Berdayakan Pemuda Desa, Unpad Hadirkan Pengolah Sampah Sirkular di Bandung/Tuturbangsa.com

Tuturbangsa.com – Di sepanjang aliran Sungai Citarum, persoalan sampah bukan sekadar cerita tentang tumpukan yang mengganggu pemandangan. Ia adalah cerita tentang bau yang menetap di udara desa, tentang risiko kesehatan yang mengintai warga sekitar, dan tentang potensi ekonomi yang selama ini terbuang begitu saja bersama sisa-sisa sayuran dan buah dari pasar tradisional. Di Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, persoalan itu kini coba dijawab bukan dengan proyek besar yang datang dan pergi, melainkan dengan sebuah sistem yang sengaja dirancang untuk tetap tinggal dikelola oleh warga desa itu sendiri.

Ketika Limbah Pasar Menemukan Jalan Pulang

Pada akhir 2025, sebuah tim penjajakan menemukan fakta yang mungkin sudah lama dirasakan warga Sumbersari namun belum pernah benar-benar ditangani secara sistematis: limbah pasar di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum belum terkelola secara optimal. Sampah organik yang menumpuk berpotensi hanya ditumpuk atau dibuang begitu saja, memicu polusi bau sekaligus meningkatkan risiko kesehatan bagi warga sekitar. Desa sebenarnya sudah memiliki alur pengelolaan dasar, namun mutu pengomposan yang dihasilkan belum memiliki standar yang konsisten – sehingga sulit dijadikan produk yang benar-benar bisa dipasarkan.

Dari titik itulah kolaborasi antara Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Telkom University (Tel-U) mulai dirancang. Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 ini akhirnya membuahkan hasil pada Agustus 2026, ketika sebuah sistem pengolahan pupuk kompos berskala besar resmi beroperasi di desa tersebut.

Teknologi yang dihadirkan diberi nama large-scale compost tumbler system, sebuah pendekatan yang secara sederhana bisa dipahami sebagai drum horizontal tertutup yang dapat diputar secara mekanis dan dilengkapi ventilasi pasif. Cara kerjanya tidak rumit namun efektif: perputaran drum membantu mencampur bahan baku secara merata, sehingga proses pembusukan alami menjadi lebih terkontrol dibanding metode pengomposan konvensional yang mengandalkan tumpukan statis.

Hasil akhirnya adalah pupuk kompos berkualitas yang tidak hanya berfungsi mereduksi volume sampah harian, tetapi juga diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi bagi para pengelolanya. Bantuan perangkat fisik yang diserahkan pun tidak berhenti pada satu mesin saja mencakup mesin pemutar kompos (compost tumbler), mesin pemotong, hingga mesin pencacah sampah, sebuah rangkaian alat yang saling melengkapi dari tahap awal pengolahan hingga menghasilkan kompos siap pakai.

Ketua tim program dari Program Studi Geofisika Unpad, Kusnahadi Susanto, Ph.D., menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan sekadar menyerahkan peralatan dan meninggalkannya begitu saja. “Pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting agar sistem pengolahan sampah ini berjalan sesuai kebutuhan lapangan,” ujarnya. Ia menargetkan sarana yang telah dibangun benar-benar dikelola secara berkelanjutan oleh warga, bukan menjadi agenda seremonial yang berhenti pada momen penyerahan.

Filosofi ini yang membedakan program semacam ini dari sekadar bantuan alat. Sebab teknologi secanggih apa pun tidak akan banyak berarti jika tidak ada tangan-tangan yang memahami cara merawat dan mengoperasikannya secara konsisten setiap hari. Karena itu, pengelolaan fasilitas ini diserahkan sepenuhnya kepada kelompok pemuda Karang Taruna Bina Bakti setempat, sebuah keputusan yang menempatkan generasi muda desa sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton dari proyek pemberdayaan yang datang dari luar.

Berdayakan Pemuda Desa, Unpad Hadirkan Pengolah Sampah Sirkular di Bandung_Tuturbangsa.com
Berdayakan Pemuda Desa, Unpad Hadirkan Pengolah Sampah Sirkular di Bandung/Ilustrasi Tuturbangsa.com

Generasi Muda sebagai Penggerak Utama

Para pemuda Karang Taruna Bina Bakti telah menerima pelatihan teknis dan pendampingan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara menyeluruh. Materi yang diberikan tidak berhenti pada cara menyalakan mesin, tetapi mencakup prosedur pengoperasian sistem secara utuh, pencatatan data harian, hingga langkah mitigasi apabila terjadi kendala teknis di lapangan. Pendampingan kelembagaan pun terus dilakukan agar manajemen operasional fasilitas ini dapat berjalan bersinergi dengan pemerintah desa, bukan berdiri sendiri sebagai unit yang terpisah dari struktur desa yang ada.

Pendekatan semacam ini mencerminkan sebuah pemahaman yang cukup jarang ditemukan dalam program pemberdayaan: bahwa keberlanjutan tidak lahir dari mesin, melainkan dari manusia yang dilatih untuk memahami, merawat, dan pada akhirnya memiliki rasa tanggung jawab atas sistem yang mereka jalankan sehari-hari.

Di balik keberhasilan program ini, terdapat kerja sama lintas keahlian yang saling mengisi. Dr. Kartika Hajar Kirana dari Unpad turut memantau aspek lingkungan dan praktik pengomposan, memastikan proses yang berjalan sesuai dengan prinsip ekologis yang tepat. Sementara itu, Husneni Mukhtar, Ph.D. dari Tel-U berfokus pada aspek kelistrikan, mekanisme bantu alat, serta kelayakan teknologi tepat guna yang digunakan.

Kolaborasi lintas disiplin ini juga membuka ruang belajar yang berharga bagi para mahasiswa dari kedua kampus, yang terlibat langsung dalam upaya memecahkan persoalan nyata di lapangan-sebuah pengalaman yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar teori yang dipelajari di ruang kelas.

Program ini tidak berhenti pada tahap peresmian fasilitas. Pada tahap selanjutnya, tim gabungan Unpad dan Tel-U akan melakukan pemantauan rutin guna mengevaluasi data hasil pengoperasian mesin pengolah. Data operasional harian menjadi kunci untuk menilai sejauh mana tonase sampah berhasil direduksi, sekaligus mengukur konsistensi kualitas kompos yang dihasilkan dari waktu ke waktu.

Pendekatan terintegrasi semacam ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan yang selama ini membebani Desa Sumbersari, tetapi juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi warga melalui hasil kompos yang bernilai ekonomi. Sebuah cerita kecil tentang sampah pasar yang dulunya hanya menumpuk dan menimbulkan masalah, kini perlahan berubah menjadi cerita tentang bagaimana pemuda desa belajar mengambil alih kendali atas lingkungan mereka sendiri – satu putaran drum kompos pada satu waktu.

Playlist Saya