Bayi Tabung Mengakhiri Penantian 9 Tahun
Bayi tabung bukan sekadar prosedur medis bagi Rifky dan Yulia - ia adalah satu-satunya pintu yang tersisa setelah sembilan tahun.
Tuturbangsa.com – Ada tangis yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan tangis duka, bukan pula tangis kecewa melainkan tangis dari perasaan yang terlalu penuh untuk ditampung dalam diam. Itulah yang mungkin dirasakan Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani ketika untuk pertama kalinya mereka mendengar suara tangis Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi, bayi mungil dengan berat 2,45 kilogram dan panjang 45 sentimeter yang mereka nantikan selama sembilan tahun lamanya.
Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Bagi sebagian orang, rentang waktu itu cukup untuk menyelesaikan pendidikan, membangun karier, bahkan menyaksikan anak-anak orang lain tumbuh dari bayi menjadi remaja. Namun bagi Rifky dan Yulia, sembilan tahun adalah perjalanan iman penuh ujian, air mata, dan harapan yang tak pernah mereka izinkan untuk sepenuhnya padam.
Ketika Jalan Biasa Tertutup
Perjalanan Rifky dan Yulia menuju kehamilan bukan sekadar soal kesabaran menunggu. Ada rintangan medis yang nyata dan berat menghadang mereka. Yulia mengalami gangguan serius pada saluran reproduksinya hingga harus menjalani operasi pengangkatan kedua tuba falopi – prosedur yang dikenal sebagai salpingektomi. Kondisi ini menutup secara permanen kemungkinan kehamilan secara alami, maupun melalui inseminasi.
Di saat itulah program bayi tabung atau IVF menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.
Keputusan untuk menempuh jalur IVF sebenarnya sudah mulai dipertimbangkan sejak 2022. Namun seperti banyak keputusan besar dalam hidup, ia membutuhkan kesiapan yang tidak bisa dipaksakan. Rifky dan Yulia mengambil waktu untuk mempersiapkan mental mereka, hingga akhirnya pada 2025 mereka benar-benar melangkah.
Langkah pertama tidak datang dengan mudah. Sebelum menemukan klinik yang tepat, pasangan ini telah lebih dulu berkonsultasi ke tujuh dokter dan seorang profesor. Sebuah perjalanan panjang yang penuh pertimbangan, sebelum akhirnya mereka berjodoh dengan Smart Fertility Clinic.
Satu Embrio, Satu Harapan
Proses IVF Yulia dimulai pada Februari 2025 melalui prosedur Ovum Pick Up (OPU), dilanjutkan dengan Frozen Embryo Transfer (FET) pada September 2025. Dua minggu setelah transfer, kantong kehamilan mulai terdeteksi tanda kecil yang membawa makna sangat besar.
Yang membuat kisah ini semakin mengharukan adalah fakta bahwa dalam seluruh proses tersebut, hanya ada satu embrio yang berhasil. Tidak ada cadangan, tidak ada kesempatan kedua jika gagal. Satu embrio, satu peluang, satu doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Primaya Evasari Hospital dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., yang mendampingi proses ini, menggambarkan betapa berartinya pencapaian tersebut.
“Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan. Yang sangat berkesan dari perjalanan Rifky dan Yulia adalah bagaimana mereka menjalani seluruh proses dengan penuh kepasrahan, tetapi tidak pernah kehilangan harapan. Mereka juga mendapat dukungan positif dari keluarga dan orang-orang terdekat, yang sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional selama program berlangsung. Padahal dalam kasus ini, hanya ada satu embrio yang berhasil, sehingga kehamilan yang terjadi benar-benar menjadi anugerah yang sangat berarti,” jelasnya.

Kekuatan yang Tumbuh dari Dalam
Di balik angka-angka medis dan prosedur klinis, ada dimensi manusiawi yang jauh lebih dalam dari kisah Rifky dan Yulia. Selama bertahun-tahun, mereka belajar sesuatu yang tidak diajarkan di bangku mana pun: bagaimana tetap berdiri ketika segalanya terasa berat, bagaimana saling menopang tanpa harus saling menyalahkan.
Rifky menuturkan perjalanan itu dengan jujur dan penuh rasa syukur.
“Perjalanan kami untuk mendapatkan buah hati bukan proses yang mudah. Selama bertahun-tahun kami belajar untuk tetap kuat, pasrah namun tidak menyerah, dan saling mendukung satu sama lain. Setelah operasi pengangkatan tuba falopi, kami sempat mencari referensi ke 7 dokter dan 1 profesor untuk menjalani program IVF, dan alhamdulillah akhirnya berjodoh dengan Smart Fertility Clinic. Kami juga memilih Primaya Evasari Hospital sebagai tempat persalinan karena sejak awal datang sudah terasa homey, nyaman, dan memiliki layanan yang lengkap. Yang paling membuat kami tenang adalah kami merasa benar-benar didampingi sejak awal program kehamilan hingga proses persalinan,” ungkapnya.
Kata-kata Rifky mencerminkan sesuatu yang sering kali terlupakan dalam diskusi seputar infertilitas: bahwa perjuangan ini bukan hanya soal tubuh, tetapi juga soal jiwa. Dan jiwa yang kuat, yang saling berpegangan, ternyata juga menjadi bagian dari obat.
Persalinan yang Penuh Keistimewaan
Kehadiran Rafasya ke dunia bukan hanya ditandai dengan keberhasilan program IVF – tetapi juga oleh proses persalinan yang penuh perhatian dan kehangatan. Di Primaya Evasari Hospital, Yulia menjalani persalinan dengan metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang dikombinasikan dengan TAP Block, sebuah teknik untuk mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat pemulihan.
Rifky bahkan berkesempatan mendampingi langsung proses kelahiran sang buah hati sebuah momen yang ia sebut tak ternilai. “Saya bahkan bisa ikut mendampingi proses persalinan, sehingga menjadi momen yang sangat berharga bagi kami berdua. Setelah persalinan pun, istri saya tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan selama masa pemulihan, termasuk layanan spa & facial, sehingga Yulia bisa menjalani proses recovery dengan lebih nyaman. Kami sangat bersyukur akhirnya bisa melewati semua proses ini dan menyambut kehadiran buah hati kami,” tambahnya.
Harapan untuk Para Pejuang Garis Dua
Kisah Rifky dan Yulia bukan hanya milik mereka berdua. Ia adalah cermin bagi ribuan pasangan lain di Indonesia yang sedang menjalani perjuangan serupa yang setiap bulannya menunggu dengan cemas, yang setiap kali gagal harus menemukan cara untuk bangkit kembali.
CEO Smart Fertility Clinic dr. Laura Leandra Setiawan, menyampaikan pesan yang menjadi ruh dari seluruh perjalanan ini. “Terima kasih kepada Rifky dan Yulia yang telah mempercayakan Smart Fertility Clinic dalam perjalanan mereka. Alhamdulillah, perjuangan panjang tersebut akhirnya berbuah kebahagiaan. Kami berharap kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi para pejuang garis dua bahwa harapan untuk memiliki buah hati selalu ada,” ujarnya.
Sembilan tahun, tujuh dokter, satu profesor, satu klinik, satu embrio dan satu tangis bayi yang mengubah segalanya. Kisah Rifky dan Yulia mengajarkan bahwa dalam setiap penantian yang terasa terlalu panjang, selalu ada kemungkinan yang belum habis. Bahwa harapan, selama dijaga dengan cinta dan keberanian, tidak akan pernah benar-benar pergi.
Rafasya kecil kini telah hadir dan sembilan tahun penantian itu tiba-tiba terasa seperti waktu yang memang dibutuhkan untuk menyiapkan keajaiban.