Susu Rasa untuk Anak, Amankah atau Justru Perlu Diwaspadai?
Susu rasa untuk anak, amankah? dr. Kanya dan Prof. Epi jelaskan soal gula tambahan dan takaran ideal harian.
Tuturbangsa.com – Rak minuman anak di supermarket kini dipenuhi warna-warni kemasan susu dengan berbagai rasa – stroberi, cokelat, hingga aneka buah beri. Bagi anak-anak, rasa manis yang menggoda ini kerap menjadi alasan utama mereka mau minum susu tanpa rewel. Namun di balik kepraktisannya, muncul pertanyaan yang layak ditelusuri lebih dalam: seberapa aman sebenarnya susu rasa-rasa ini dikonsumsi anak setiap hari? dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A., dokter spesialis anak di Rumah Sakit Hermina membagikan penjelasannya.
Bukan Soal Aman atau Tidak, Tapi Soal Kadar Gula
Menurut dr. Kanya, pertanyaan soal keamanan perisa pada susu sebenarnya sudah terjawab sejak produk tersebut lolos uji edar. Masalah yang lebih penting untuk diperhatikan orang tua justru terletak pada kandungan gula tambahan yang menyertainya.
“Kalau pertanyaannya aman, ya sudah pasti kandungan penambahan rasanya aman. Tapi biasanya diikuti dengan penambahan gula yang tidak penting, nah itu yang menjadi lebih hati-hati. Karena untuk menciptakan rasa yang manis dan disukai oleh anak-anak, sehingga perlu tambahan gula lagi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa yang menjadi pembeda bukan ada atau tidaknya rasa tambahan, melainkan seberapa besar kandungan gula yang menyertainya.
“Kalau memang tidak dibutuhkan, atau memang dibutuhkan tapi dengan kandungan gula yang lebih kecil, maka boleh masuk sesuai dengan rekomendasi asupan gula harian. Tapi kalau misalnya kita lihat di nutrition fact-nya, kandungan gulanya tinggi, ya lebih baik dihindari saja,” ujarnya.
Memahami Label “No Added Sugar” Secara Tepat
Di tengah kekhawatiran soal kandungan gula ini, label “no added sugar” yang mulai banyak ditemukan pada kemasan susu anak kerap menimbulkan kebingungan tersendiri bagi orang tua. Prof. Dr. Epi Taufik, Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, menjelaskan bahwa label tersebut tidak berarti susu sama sekali tanpa rasa manis, melainkan tanpa tambahan gula pasir di luar gula alami yang sudah terkandung dalam bahan bakunya.
“Yang dimaksud tidak ada tambahan gula itu adalah gula tambahan di luar yang ada dalam bahan-bahan itu. Dalam susu khususnya namanya itu laktosa, dan itu hanya ada di dalam susu, tidak ada di bahan lain,” jelasnya.
Menurut Prof. Epi, rasa manis pada susu dengan label tersebut murni berasal dari laktosa alami, bukan dari gula pasir yang sengaja ditambahkan produsen.
“Jadi yang dimaksud tanpa tambahan gula adalah tanpa tambahan gula selain yang sudah alami terkandung. Jadi tidak ditambahkan lagi gula pasir ke dalam susunya, tapi manisnya itu berasal dari gula alami yang ada dalam susu,” ujarnya.
Penjelasan ini menjadi pelengkap penting bagi orang tua saat membaca label kemasan: susu dengan keterangan “no added sugar” cenderung lebih aman dari sisi asupan gula tambahan, dibandingkan produk yang justru mencantumkan kandungan gula tinggi pada nutrition fact-nya, sebagaimana yang diingatkan dr. Kanya.
Alternatif Alami di Luar Susu Rasa Kemasan
Bagi orang tua yang ingin tetap memberikan variasi rasa tanpa menambah beban gula pada anak, dr. Kanya menawarkan solusi sederhana: memanfaatkan bahan pangan alami sebagai pengganti perisa buatan.
“Kalau memang mau rasa-rasa, kita bisa misalnya dari rasa buah asli, susu dicampur semangka, susu campur stroberi, jadi asupan rasanya dari makanan natural seperti buah-buahan. Mau rasa cokelat, tinggal dikasih bubuk kokoa. Jadi banyak solusi lain di luar menambahkan rasa yang akhirnya ada efek samping menambahkan kandungan gula,” katanya.
Risiko Jangka Panjang
Konsumsi gula berlebih pada anak, menurut dr. Kanya, bukan sekadar persoalan berat badan semata. Ada rentetan risiko kesehatan jangka panjang yang mengintai, serupa dengan yang dialami orang dewasa.
“Lama-lama jadi overweight, obesitas. Efek jangka panjangnya lagi, anak-anak juga bisa terjadi sindrom metabolik. Jadi anak-anak itu tetap bisa menjadi diabetes tipe 2 karena asupan gula berlebih, sama seperti orang dewasa,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi kegemukan pada anak dapat memicu komplikasi yang lebih luas lagi. “Overweight atau obesitas ada efek samping juga, sindrom metabolik, kolesterolnya berlebihan, mungkin hipertensi. Jadi sama persis seperti orang dewasa yang kegemukan, anak itu juga bisa mengalami potensi risiko penyakit yang sama,” jelasnya.
Berapa Banyak Susu yang Sebenarnya Dibutuhkan Anak?

Soal takaran ideal, dr. Kanya menjelaskan bahwa kebutuhan susu anak sangat bergantung pada tahapan usianya, dengan ASI sebagai prioritas utama di masa awal kehidupan.
“Kalau usia 0 sampai 2 tahun, sudah pasti kita usahakan ASI, dan itu sesuai permintaan anaknya, ad libitum (sesuai selera). Di atas 1 tahun ke atas, kita usahakan full nutrisi juga dari makanan pendamping ASI-nya,” ujarnya.
Setelah masa tersebut, konsumsi susu tetap direkomendasikan berlanjut hingga masa anak berakhir, dengan takaran yang cukup moderat.
“Sejak usia 2 tahun ke atas sampai selesai masa anak, yaitu 18 tahun, sebenarnya rekomendasinya masih mengonsumsi susu apapun itu sejumlah 200 sampai 300 mililiter per hari,” katanya.
Susu, lanjut dr. Kanya, memiliki peran khusus dalam mendukung pertumbuhan anak melalui kandungan yang tidak mudah ditemukan pada sumber pangan lain.
“Untuk memenuhi kebutuhan asupan nutrisi harian, salah satunya adalah IGF-1 (Insulin-Like Growth Factor 1). Jadi dia mengandung IGF-1, itu stimulus untuk hormon pertumbuhan anak. Dan kandungan IGF-1 tertinggi itu sumbernya dari susu, dari hewan,” jelasnya.
Bagaimana dengan Anak yang Intoleransi Laktosa?
Bagi orang tua yang khawatir anaknya mengalami intoleransi laktosa, dr. Kanya memastikan bahwa hal ini bukan alasan untuk sepenuhnya menghindari susu, karena sudah tersedia berbagai alternatif di pasaran.
“Ada, kan sekarang sudah banyak susu dengan kandungan laktosa yang lebih rendah, atau bahkan free laktosa. Jadi semua pasti bisa dicari solusinya, ada alternatif-alternatifnya,” pungkasnya.
Di tengah gempuran iklan susu rasa-rasa yang menjanjikan kelezatan bagi anak, penjelasan dr. Kanya mengingatkan bahwa kewaspadaan orang tua sebaiknya diarahkan bukan pada rasa itu sendiri, melainkan pada label nutrisi di baliknya. Membaca kandungan gula pada kemasan, memilih alternatif rasa alami, dan memastikan asupan susu tetap berada dalam takaran yang direkomendasikan, menjadi langkah kecil namun berarti dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal – tanpa harus mengorbankan kesehatannya di masa depan.