NAVI-HF: Deteksi Dini Gagal Jantung dengan Algoritma

Tidak menggantikan dokter NAVI-HF hadir untuk membuat dokter menjadi lebih baik - dengan mendengar apa yang telinga manusia kerap terlewatkan.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
NAVI-HF: Deteksi Dini Gagal Jantung dengan Algoritma
Ilustrasi AI

Tuturbangsa.com – Ada momen yang paling ditakuti oleh pasien gagal jantung dan keluarganya: saat dokter mengatakan mereka boleh pulang, namun beberapa hari kemudian kondisi memburuk kembali dan mereka harus bergegas ke unit gawat darurat dengan napas yang tersengal dan tubuh yang membengkak. Siklus yang melelahkan, mahal, dan sering kali berakhir dengan konsekuensi yang jauh lebih serius.

Di Indonesia, siklus itu bukan pengecualian – ia adalah realitas yang dialami oleh sekitar 30 persen pasien gagal jantung. Mereka pulang dari rumah sakit dalam kondisi yang tampak stabil, namun tanpa disadari masih menyimpan ancaman tersembunyi di dalam paru-parunya. Dan kini, seorang dokter spesialis jantung Indonesia mengembangkan sesuatu yang berpotensi memutus siklus itu – dengan cara yang paling tidak terduga: mengajarkan kecerdasan buatan untuk mendengarkan.

Indonesia di Peringkat Kedua, Sebuah Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Sebelum kita membicarakan inovasinya, kita perlu memahami betapa seriusnya masalah yang sedang dihadapi. Data Asian-HF Registry menempatkan Indonesia di peringkat kedua jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia, hanya di bawah Tiongkok. Angka kematian dalam satu tahun mencapai 34,1 persen – lebih dari sepertiga dari seluruh pasien tidak bertahan melewati tahun pertama setelah diagnosis.

Di balik angka itu ada kisah-kisah manusia yang sangat nyata. Seorang kepala keluarga yang tiba-tiba tidak bisa berjalan dari kamar ke dapur tanpa kehabisan napas. Seorang nenek yang kulitnya membengkak karena cairan yang tidak bisa dipompa jantungnya yang melemah. Seorang pasien yang sudah tiga kali masuk rumah sakit dalam setahun, sementara keluarganya semakin terbebani secara emosional dan finansial.

Dan salah satu penyebab terbesar dari tingginya angka rawat ulang itu adalah sesuatu yang tidak selalu terlihat atau terdengar: residual pulmonary congestion – penumpukan cairan di paru yang masih tersisa saat pasien dipulangkan, namun belum terdeteksi karena pemeriksaan konvensional tidak cukup sensitif untuk menangkapnya.

Masalah yang Tersembunyi di Balik Suara

Dokter menggunakan stetoskop untuk mendengarkan paru-paru. Ini adalah ritual medis yang sudah berlangsung selama lebih dari dua abad dan dalam banyak hal, masih sangat efektif. Namun untuk mendeteksi kongesti paru yang residual pada pasien gagal jantung, stetoskop konvensional memiliki keterbatasan yang nyata. Ia bergantung pada kepekaan telinga manusia, pengalaman klinisi, dan kondisi lingkungan saat pemeriksaan – variabel-variabel yang tidak selalu konsisten.

Alternatifnya ada: Lung Ultrasound bisa memberikan gambaran yang lebih akurat, begitu pula pemeriksaan darah seperti NT-proBNP. Namun keduanya memerlukan peralatan khusus, biaya yang lebih tinggi, dan tenaga kesehatan yang terlatih secara spesifik. Di rumah sakit tersier di kota besar, ini mungkin bukan masalah besar. Namun di fasilitas kesehatan yang lebih terbatas yang justru menangani sebagian besar pasien gagal jantung Indonesia, keterbatasan ini menjadi tembok nyata antara pasien dan diagnosis yang tepat.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar bagaimana mendeteksi lebih akurat, melainkan bagaimana mendeteksi lebih akurat dengan alat yang bisa dijangkau oleh lebih banyak orang, di lebih banyak tempat.

NAVI-HF: Ketika Algoritma Belajar Mendengar

Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA – Dokter Spesialis Jantung dan Sub Spesialis Konsultan Kardiovaskular Intervensi yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang menghabiskan bertahun-tahun bergulat dengan pertanyaan itu. Jawabannya lahir dari disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: sebuah alat bernama NAVI-HF, singkatan dari Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure.

NAVI-HF: Deteksi Dini Gagal Jantung Indonesia dengan Algoritma_Tuturbangsa.com
Istimewa

Konsepnya elegan dalam kesederhanaannya. NAVI-HF merekam suara rongga dada dari lima titik pemeriksaan selama kurang lebih satu menit. Rekaman itu kemudian dianalisis oleh algoritma AI yang telah dilatih untuk mengidentifikasi pola-pola akustik yang mengindikasikan kongesti paru – pola yang mungkin terlalu halus untuk ditangkap telinga manusia biasa, namun cukup konsisten untuk dikenali oleh mesin yang telah belajar dari ribuan data.

“Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit. NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI,” jelas dr. Rony.

Hasilnya berbicara dengan angka yang meyakinkan. Dari penelitian terhadap 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF mencatat akurasi 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen dibandingkan Lung Ultrasound sebagai standar acuan. Dan yang lebih signifikan secara klinis: penelitian lanjutan selama enam bulan menunjukkan bahwa pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang dibandingkan mereka yang hasilnya negatif.

Alat Bantu, Bukan Pengganti

Ada narasi yang perlu diluruskan setiap kali kecerdasan buatan memasuki dunia kedokteran: bahwa ia hadir untuk menggantikan dokter. Dr. Rony dengan tegas menolak narasi itu.

“Tujuan utama NAVI-HF bukan menggantikan dokter, melainkan menjadi alat bantu yang mempermudah identifikasi pasien dengan risiko tinggi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini,” tegasnya.

Framing itu penting karena ia mencerminkan pemahaman yang matang tentang bagaimana teknologi seharusnya bekerja dalam ekosistem layanan kesehatan. AI yang dirancang dengan baik bukan yang mencoba menjadi dokter, ia yang membuat dokter menjadi lebih baik. NAVI-HF tidak memutuskan terapi. Ia tidak mendiagnosis pasien. Yang dilakukannya adalah menambahkan lapisan informasi objektif yang membantu dokter membuat keputusan klinis yang lebih terinformasi terutama dalam situasi di mana waktu, sumber daya, dan keterbatasan manusia menjadi faktor nyata.

NAVI-HF: Deteksi Dini Gagal Jantung Indonesia dengan Algoritma_Tuturbangsa.com
Ifografis

Potensi yang Melampaui Dinding Rumah Sakit

Lebih jauh dari sekadar penggunaan di bangsal rawat inap, NAVI-HF menyimpan potensi yang bisa mengubah paradigma pemantauan pasien gagal jantung secara fundamental. Alat yang portabel dan berbasis AI ini membuka kemungkinan untuk home-based monitoring – pemantauan pasien dari rumah mereka sendiri – serta integrasi dengan telemedicine yang semakin berkembang di Indonesia pasca pandemi.

“Kami berharap inovasi ini dapat mendukung deteksi yang lebih dini, membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, sekaligus mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung,” tambah dr. Rony.

Bayangkan skenario di mana seorang pasien gagal jantung di kabupaten terpencil bisa melakukan pemeriksaan sendiri dengan alat NAVI-HF, hasilnya dikirim secara digital ke dokter spesialis di kota yang kemudian memberikan rekomendasi terapi semua tanpa perlu perjalanan panjang yang melelahkan dan mahal. Skenario itu bukan fiksi ilmiah. Dengan teknologi yang sudah dikembangkan dr. Rony, ia adalah masa depan yang bisa dirancang.

Ada kebanggaan yang wajar dan perlu ketika melihat seorang dokter Indonesia mengembangkan inovasi yang tidak hanya relevan secara lokal tetapi juga berpotensi berkontribusi pada perbincangan kedokteran global. Di tengah kecenderungan untuk mengimpor teknologi kesehatan dari luar, NAVI-HF adalah pengingat bahwa talenta dan kepedulian untuk memecahkan masalah nyata di lapangan bisa melahirkan solusi yang tidak kalah canggih.

Gagal jantung adalah penyakit yang tidak pandang bulu, ia menyerang tanpa memperhatikan usia, status, atau lokasi. Namun akses terhadap alat deteksi yang tepat selama ini tidak merata. NAVI-HF, dalam idealisme yang paling murninya, adalah upaya untuk mempersempit ketimpangan itu satu rekaman suara dada pada satu waktu.

Karena pada akhirnya, teknologi terbaik bukan yang paling rumit atau paling mahal. Melainkan yang paling tepat sasaran yang hadir tepat di momen ketika seorang dokter membutuhkan satu informasi tambahan untuk memutuskan apakah pasiennya cukup aman untuk pulang ke rumah, atau perlu satu malam lagi untuk diamati.

Dan kadang, informasi tambahan itu cukup untuk menyelamatkan sebuah nyawa.

Playlist Saya