Ketika Jamu Menemukan Jalan Pulang

Jamu bukan sekadar minuman. Ia adalah ingatan bangsa yang sedang mencari jalan pulang.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Ketika Jamu Menemukan Jalan Pulang
Ilustrasi AI

Tuturbangsa.com – Aroma khas jahe yang direbus pagi-pagi, suara ulekan di dapur nenek, atau segelas jamu yang disodorkan ibu dengan satu kalimat yang tak terbantahkan, “Minum dulu, baru boleh main,” menjadi ingatan kolektif yang tidak pernah benar-benar hilang dari bangsa ini.

Jamu tak ubahnya bahasa. Bentuk komunikasi yang digunakan para perempuan di nusantara selama berabad-abad untuk merawat, menyembuhkan, juga untuk mengatakan aku peduli tanpa harus melisankannya. Jamu bukan sekadar minuman. Ia adalah ingatan, ritual, dan kepercayaan yang diwariskan bukan lewat tulisan, melainkan lewat sentuhan antargenerasi, dari tangan nenek ke tangan ibu, dari tangan ibu ke tangan kita.

Namun kita tahu apa yang kemudian terjadi. Dunia bergerak lebih cepat. Dapur menjadi lebih ringkas. Dan jamu – dengan segala kepahitannya yang jujur – perlahan tergeser oleh deretan suplemen dalam kapsul mengkilap yang lebih mudah ditelan, secara harfiah maupun metaforis.

Rempah yang Tidak Pernah Pergi

Menariknya, jamu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu. Momentum dimana saat orang-orang mulai lelah dengan janji-janji kimia yang terasa asing, lalu kembali melirik sesuatu yang terasa lebih hidup, lebih hangat, lebih dekat dengan tanah.

Dan momen itu tampaknya sedang terjadi sekarang.

Di warung-warung pinggir jalan, antrean penikmat jamu gendong kembali mulai terlihat. Di media sosial, kunyit dan temulawak mendadak jadi bintang konten kesehatan. Di dapur-dapur apartemen kota, orang muda mulai mencoba merebus jahe sendiri -meski tidak selalu tahu berapa lama harus merebusnya. Ada kerinduan yang menyeruak ke permukaan kehidupan modern Indonesia. Kerinduan pada sesuatu yang asli.

Di tengah gelombang ini, sebuah nama datang dari negara tetangga terdekat – Mr. Bentong membawa sesuatu yang menarik: perspektif saudara serumpun tentang warisan yang sama-sama kita miliki.

Ketika Jamu Menemukan Jalan Pulang_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Ketika Saudara Serumpun Bercerita tentang Rempah

Bentong adalah sebuah kawasan di Malaysia yang sudah lama dikenal sebagai penghasil jahe dan durian terbaik. Di sanalah Adam Oon Jun Leong kini berusia 27 tahun bersama dua saudaranya Hafiz Oon Jun Seong dan Aiman Oon Jun Han, memulai perjalanan yang tidak mereka rencanakan sepenuhnya.

Pada awalnya, Mr Bentong bukan bisnis, melainkan sebuah upaya yang diiringi doa untuk kesembuhan.

“Adik saya ada masalah angin, sampai dia perlu operasi gastric. Sudah parah. Tapi ayah saya kasih dia minum satu minuman dari halia Bentong. Alhamdulillah, dia pulih – cepat sekali,” cerita Adam dengan nada yang masih menyimpan rasa syukur di dalamnya. “Tapi masalahnya, jamu itu kurang enak. Dari situ, adik saya terpikir bagaimana caranya bikin jamu yang lebih enak, supaya bisa dibagikan kepada semua orang.”

Satu momen kesembuhan. Satu pertanyaan sederhana. Dan dari sana, lahirlah Mr. Bentong – yang pada 2020, di tengah pandemi yang membuat dunia menunduk, justru viral dan dikenal seluruh Malaysia.

Ada sesuatu yang terasa familiar dalam kisah ini bagi kita, orang Indonesia. Karena hampir di setiap keluarga kita, ada versi cerita yang serupa – seseorang yang sakit, kolega atau keluarga yang mengulurkan tangan dengan segelas rempah, dan kesembuhan yang datang perlahan tapi pasti. Jamu adalah cerita universal di antara bangsa-bangsa Nusantara, yang melampaui batas negara karena memang ia tumbuh dari akar yang sama.

Tradisi yang Diterjemahkan, Bukan Ditinggalkan

Yang membuat perjalanan Mr. Bentong layak direnungkan bukan hanya kisah di baliknya, melainkan cara mereka memperlakukan warisan itu. Adam mengakui dengan jujur dan rendah hati, “Jamu Indonesia itu sebenarnya lebih bagus, lebih tradisional, lebih alami.”

Sebuah pengakuan yang sesungguhnya tidak perlu ia ucapkan, tapi ia pilih untuk diungkapkan. Dan justru dari kejujuran itulah, kita bisa melihat bahwa yang Mr. Bentong tawarkan bukan pengganti – melainkan percakapan. Percakapan antara dua tradisi rempah yang sesungguhnya satu keluarga.

Pendekatan Mr. Bentong terhadap jamu terasa seperti seorang cucu yang menghormati resep neneknya, namun tidak segan bertanya: bagaimana caranya agar resep ini bisa bertahan seratus tahun lagi? Jawabannya ada pada inovasi yang tidak mengkhianati esensi. Jus hadir dalam dua kekuatan – pekat untuk yang sudah lama bersahabat dengan rempah, ringan untuk yang baru memulai.

Bubuk rempah tanpa pengawet yang bisa bertahan lebih dari setahun sekaligus menemani masakan sehari-hari. Pasta dari ampas jus yang difermentasi – sebuah perwujudan nilai ora obah ora mamah dalam bahasa modern: tidak ada yang terbuang, semuanya berguna.

“Biasanya orang juicing, ampasnya itu mereka buang. Kita konsepnya zero waste – kita jadikan ampasnya pasta, jadikan scrub. Semua produk, 100 jenis produk, zero waste,” kata Adam. Tanpa sadar, ia sedang mengeja kembali sebuah kearifan lama yang sudah dihidupi nenek moyang kita jauh sebelum kata sustainability menjadi tren global.

Antara Pahit yang Jujur dan Manis yang Membujuk

Ketika Jamu Menemukan Jalan Pulang_Tuturbangsa.com
Dok. Tuturbangsa.com

Ada filosofi mendalam yang tersimpan dalam cara nenek kita menyajikan jamu tanpa meminta kita untuk menyukainya – cukup memintanya untuk diminum. Pahit itu bagian dari prosesnya. Bagian dari pelajarannya.

Namun zaman berubah, dan Mr. Bentong memilih untuk tidak melawan arus itu. “Orang bilang jamu itu pasti pahit. Makanya jamu kita bikin enak, supaya bisa diminum. Kalau sudah minum, baru bisa dapat manfaatnya,” ujar Adam.

Ini bukan kompromi terhadap tradisi. Ini adalah kebijaksanaan – bahwa tradisi yang tidak bisa dijangkau oleh generasi berikutnya adalah tradisi yang sedang berjalan menuju kepunahan. Gummy jahe untuk anak-anak tiga tahun ke atas, parfum herbal yang bisa melancarkan peredaran darah, therapy oil untuk pijat, skIincare dari ekstrak jahe – semua ini adalah jembatan, bukan penghianatan. Jembatan agar generasi yang tumbuh di antara layar dan fast food tetap bisa menyentuh warisan yang pernah menjaga kesehatan leluhur mereka.

“Kita mau rakyat Indonesia dan Malaysia amalkan hidup sehat, tapi tidak membebankan,” kata Adam. Dan dalam kalimat itu, tersimpan sebuah kesadaran budaya yang dalam – bahwa merawat tradisi bukan berarti memaksa orang untuk hidup di masa lalu, melainkan mengajak mereka membawa nilai-nilai itu ke masa depan.

Mr. Bentong kini hadir di Jalan Kemang Raya No. 1, Jakarta Selatan – dengan lebih dari 100 jenis herbal dari rempah, buah, sayuran, hingga kacang-kacangan, separuhnya bahkan bersumber dari petani lokal Indonesia. Di sana, orang bisa datang dengan keluhan kolesterol, darah tinggi, atau diabetes, lalu pulang dengan racikan yang tepat di tangannya. Atau sekadar datang untuk mencoba – meracik parfum sendiri, membuat jamu sendiri, duduk dan membiarkan aroma rempah berbicara.

Tapi di luar semua itu, Mr. Bentong tanpa sengaja mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih besar kepada kita: jika bangsa tetangga bisa membangun ratusan cabang dari kekayaan rempah yang bahkan kita akui lebih baik dari milik mereka – apa yang sedang kita lakukan dengan warisan kita sendiri?

Bukan untuk merasa minder. Justru sebaliknya – untuk terbangun. Untuk menyadari bahwa jamu, kunyit, jahe, temulawak, dan ratusan rempah yang tumbuh di tanah ini adalah kekayaan yang belum selesai kita jaga, belum selesai kita ceritakan, dan tentu belum selesai kita wariskan. Jamu adalah bahasa yang masih hidup. Kita yang perlu kembali belajar berbicara.

Playlist Saya