Obrolan Santai Redaksi tuturbangsa.com
WFH, Coworking Space, dan Ingatan yang Nyaris Terlupakan
Host: Halo semuanya, welcome back to podcast obrolan santai re—eh maksud gue, obrolan santai kita di
tuturbangsa.com. Jadi lo lagi baca artikel soal WFH ASN, coworking space, dan satu kata yang agak spiritual tapi dalem banget: laku. Gue sama Dyah lagi literally duduk di kantor, iced matcha di tangan, dan jujurly artikel ini tuh bikin gue mikir, kerja tuh sebenarnya soal tempat, atau soal state of mind?
Guest: True banget. Karena di permukaan kayak, oh ini cuma kebijakan WFH buat ASN mulai Jumat, 10 April 2026, based on SE Menteri PANRB Nomor 3 Tahun 2026. Alasannya praktis, efisiensi energi, situasi global lagi nggak pasti. Tapi artikel ini nge-push kita buat nanya, jangan-jangan ini bukan cuma pindah meja kerja dari kantor ke rumah.
Host: Nah, exactly. Wait, tapi gue suka banget framing-nya: WFH dan coworking space sering dianggap tren modern, padahal mungkin ini tuh pertanyaan tua banget. Manusia bisa kerja paling bermakna itu di mana sih, dan dalam kondisi kayak apa?
Guest: Iya, dan yang menarik, jawabannya nggak langsung dibawa ke Silicon Valley vibes. Artikel ini malah narik ke penyalin lontar di Bali, empu keris, peramu jamu. Basically mereka kerja bukan cuma output, tapi ada hadir, sabar, batin, disiplin diri.
Host: Sumpah itu bagian yang gue relate banget tapi juga agak ketampar. Karena kita sekarang kalau kerja sering banget diukur dari Slack reply cepat, meeting hadir, task checklist. Padahal para empu tuh kayak, kualitas kerja lo juga dipengaruhi kondisi batin lo.
Guest: Dan ini kontras banget sama Taylorism, si Frederick Winslow Taylor itu. Dia ngelihat kerja bisa dipecah, diukur, dioptimalkan kayak mesin. Jadi kalau empu pakai rasa dan kesadaran, Taylor pakai stopwatch.
Host: Ah, I see. Jadi bukan berarti sistem modern salah total ya, karena obviously efisiensi itu penting. Tapi kalau semua kerja jadi kayak mesin, makna pelan-pelan kehapus.
Guest: Exactly. Makanya kantor terbuka, kubikel, WFH, coworking, semua itu kayak eksperimen ruang. Tapi kalau akar masalahnya trust, makna, dan rasa aman nggak ada, bentuk ruangnya ganti pun tetap aja capek.
Host: Ini masuk ke psychological safety, kan? Gue pengin lo breakdown, Dyah, tapi versi anak Jaksel yang lagi overthinking sambil minum matcha.
Guest: Oke, psychological safety itu basically rasa aman buat ngomong tanpa takut dipermalukan. Lo bisa nanya, salah, ngaku nggak tahu, atau bilang, "kayaknya cara ini kurang efektif," tanpa langsung dianggap bodoh atau pembangkang. Jadi tim yang sehat bukan yang nggak pernah salah, tapi yang bisa ngomongin salahnya dengan aman.
Host: Wait, maksud lo, tim paling efektif bukan yang error-nya paling sedikit?
Guest: Nah, exactly. Amy Edmondson dari Harvard nemuin, tim efektif sering kelihatan punya banyak error karena mereka berani ngakuin. Yang bahaya itu tim yang semua orang diam, pura-pura aman, tapi problem numpuk di bawah karpet.
Host: Itu literally quiet quitting sih. Orang tetap kerja, tetap hadir, tapi emotionally udah check out. Kayak, "yaudah gue kerjain minimum aja, yang penting nggak kena marah."
Guest: Iya, karena nggak ada safe space. Dan artikel ini menarik karena bilang konsep itu sebenarnya nggak asing di Nusantara. Hubungan empu dan murid juga dibangun dari trust, murid boleh belajar dan gagal tanpa dipermalukan.
Host: Gue suka banget itu, karena kadang kita terlalu cepat menganggap semua konsep kerja sehat itu impor. Padahal mungkin leluhur kita udah punya praktiknya, cuma nggak dibungkus jargon Harvard Business School.
Guest: True banget. Mereka mungkin nggak bilang psychological safety, tapi praktiknya ada. Mereka nggak bilang mentoring culture, tapi empu dan murid hidup dalam proses panjang yang pelan, fokus, dan manusiawi.
Host: Nah terus Indonesia punya layer yang khas: ewuh pakewuh. Ini tuh kata yang halus banget, tapi efeknya di kantor bisa lumayan toxic. Lo jelasin dong, biar nggak terdengar cuma istilah Jawa yang nostalgic.
Guest: Ewuh pakewuh itu rasa sungkan, especially ke atasan atau orang yang lebih senior. Asalnya buat jaga harmoni, which is nggak salah. Tapi di kantor bisa berubah jadi toxic hierarchy vibe: bawahan punya ide bagus tapi diam, junior lihat problem tapi takut ngomong.
Host: Sumpah jujurly gue setuju. Kadang bukan karena orang nggak mikir, tapi karena takut dianggap lancang. Dan akhirnya masalah baru meledak pas udah telat banget.
Guest: Exactly. Di situ coworking space jadi interesting. Karena dia di luar hierarki kantor formal, jadi pekerja muda bisa ngerasa lebih bebas ngobrol, eksplor, ketemu orang dari bidang lain, tanpa vibes "ini bos gue, gue harus hati-hati banget."
Host: Ini yang disebut third place ya? Ruang ketiga, bukan rumah, bukan kantor. Tapi gue suka artikel ini bilang Indonesia sebenarnya punya versi lamanya: warung kopi, gardu ronda, pendopo desa.
Guest: Iya, Ray Oldenburg menyebut third place sebagai ruang netral dengan energi kolektif. Kalau versi kita, ya tempat nongkrong yang bikin ide ngalir tanpa terlalu formal. Coworking space itu basically warung kopi modern, cuma ada WiFi kencang, colokan banyak, dan kadang harga kopinya agak bikin mikir dua kali.
Host: Hahaha, valid tapi jangan terlalu nyinyir. Tapi bener, coworking itu bukan cuma soal aesthetic table dan exposed brick wall. Ada kebutuhan psikologis: pengin punya ruang sosial tanpa tekanan kantor.
Guest: Yes. Karena rumah kadang terlalu privat, kantor terlalu hierarkis. Coworking ada di tengah: cukup serius buat kerja, cukup cair buat manusia tetap ngerasa hidup.
Host: Sekarang WFH. Ini tricky banget, karena banyak orang ngelihat WFH sebagai kebebasan. Tapi artikel ini nanya: kebebasan atau ilusi?
Guest: Iya, karena WFH bisa jadi fleksibel, tapi bisa juga jadi kerja tanpa henti. Boundary antara kerja dan hidup pribadi blur banget. Laptop di kamar, notif masuk malam, rumah jadi kantor, kantor jadi nggak pernah selesai.
Host: Relate banget. Kadang karena nggak kelihatan kerja, kita malah overcompensate. Reply cepat biar kelihatan available, online terus biar dianggap produktif.
Guest: Nah itu masalah trust. WFH sebenarnya nguji: atasan percaya nggak kalau kerja tetap jalan tanpa diawasi langsung? Kalau nggak percaya, kontrolnya cuma pindah dari ruangan kantor ke layar laptop.
Host: Jadi cuma ganti bentuk micromanagement ya. Dulu dicek duduk di meja atau nggak, sekarang dicek green dot, response time, screenshot, report berlebihan. Itu capek banget.
Guest: Capek dan nggak make sense. Kalau dikelola sehat, WFH harusnya dorong budaya kerja berbasis hasil, bukan sekadar kehadiran. Yang dilihat: output, kualitas, koordinasi, bukan "lo online berapa jam."
Host: Gue juga notice detail Jumat itu. Kebijakan WFH ASN ini efektifnya hari Jumat, dan artikel bilang dalam banyak tradisi, Jumat tuh waktu melambat, refleksi. Itu poetic tapi nggak lebay.
Guest: Iya, ada ironi yang cantik. Kebijakan lahir karena kebutuhan ekonomi dan energi, tapi mungkin membuka ruang buat kebutuhan manusiawi. Kayak, maybe kita perlu ritme kerja yang nggak selalu gas pol.
Host: Dan ini nyambung ke kata laku. Gue awalnya mikir laku tuh kayak perilaku, atau perjalanan spiritual. Tapi di artikel ini rasanya laku tuh cara hadir dalam kerja.
Guest: Iya, laku itu bisa dibaca sebagai praktik hidup. Bukan cuma kerja buat deliverables, tapi kerja yang ada kesadaran, ritme, tanggung jawab, dan makna. Gen Z terms-nya: kerja yang nggak bikin lo kehilangan diri sendiri.
Host: Aduh itu ngena. Karena hustle culture sering ngajarin kita buat terus produktif, tapi nggak ngajarin gimana tetap utuh. Kalau laku, kayaknya kerja bukan musuh hidup, tapi bagian dari pembentukan diri.
Guest: True. Dan artikel ini nggak romantisasi masa lalu juga, menurut gue. Dia cuma bilang, mungkin beberapa hal yang kita cari sekarang—trust, meaningful work, healthy rhythm—pernah ada dalam tradisi kita.
Host: Jadi bukan "balik ke zaman dulu" ya. Bukan berarti semua harus nulis lontar sambil silent retreat. Tapi kita bisa ngambil wisdom-nya buat desain kerja modern.
Guest: Exactly. Misalnya, kantor bisa bikin ruang aman buat dissent, bukan cuma yes-man culture. WFH bisa didesain dengan boundary jelas. Coworking bisa dipakai bukan buat gaya-gayaan, tapi buat menemukan energi sosial yang sehat.
Host: Gue pengin bahas sedikit soal ASN, karena konteks awalnya kan kebijakan publik. Menurut lo, WFH ASN ini bisa berhasil nggak kalau budaya trust-nya belum kuat?
Guest: Bisa, tapi harus serius. Kalau cuma instruksi administratif, nanti yang muncul adalah laporan-laporan formal yang bikin orang sibuk membuktikan dirinya kerja. Padahal harus ada target jelas, komunikasi jelas, dan pemimpin yang nggak panik kalau nggak melihat staf secara fisik.
Host: Nah, leadership-nya penting banget. Karena kalau atasan masih mindset "kalau nggak kelihatan berarti nggak kerja," WFH jadi suspicious mode. Semua orang jadi defensive.
Guest: Iya, dan itu mematikan psychological safety. Orang nggak akan berani bilang "deadline ini nggak realistis" atau "ada kendala di rumah" kalau responsnya selalu menghakimi. Akhirnya burnout diam-diam.
Host: Ini juga berlaku buat kantor swasta, startup, media, basically semua. WFH bukan benefit otomatis kalau kultur kerjanya toxic. Coworking juga nggak otomatis healing kalau beban kerja tetap nggak manusiawi.
Guest: Correct. Tempat itu cuma container. Yang menentukan adalah relasi, ekspektasi, ritme, dan apakah orang punya ruang buat hadir penuh.
Host: Hadir penuh itu phrase yang bagus. Artikel nutup dengan ide bahwa kerja bermakna saat pikiran fokus, tubuh nyaman, batin tenang. Kedengarannya sederhana, tapi realitanya susah banget.
Guest: Susah karena sistem kita sering memuja urgency. Semua harus sekarang, semua penting, semua meeting. Padahal kalau semua urgent, basically nggak ada yang benar-benar dipikirkan dalam-dalam.
Host: Wait, itu quote-able. Kalau semua urgent, nggak ada yang dipikirkan dalam-dalam. Dan mungkin di situ kita kehilangan laku, ya?
Guest: Iya. Laku butuh jeda, bukan malas. Butuh disiplin, tapi bukan robotik. Butuh hasil, tapi nggak memutus manusia dari batinnya.
Host: Jadi kalau listener lagi baca artikel ini dan mikir, "oke terus gue harus ngapain?" mungkin pertanyaannya bukan langsung pindah ke coworking atau minta WFH. Tapi cek dulu: gue paling bisa hadir di kondisi seperti apa?
Guest: Betul. Ada yang fokus di kantor karena butuh struktur. Ada yang hidup di rumah karena tenang. Ada yang butuh third place karena rumah terlalu ramai dan kantor terlalu kaku.
Host: Dan organisasi juga perlu nanya: kita percaya orang atau cuma mengawasi orang? Kita memberi ruang bicara atau cuma minta patuh? Kita menghormati ritme manusia atau cuma ngejar sistem?
Guest: Nah, exactly. Karena kalau jawabannya masih fear-based, tempat kerja secanggih apa pun tetap bikin orang mengecil. Tapi kalau trust-based, ruang sederhana pun bisa produktif dan bermakna.
Host: Gue suka kesimpulan artikel ini: mungkin kita nggak sedang mencari cara kerja yang benar-benar baru. Kita cuma mencoba mengingat kembali sesuatu yang pernah kita punya.
Guest: Iya, sesuatu yang nggak perlu selalu disebut work culture, agile, remote framework, atau whatever. Kadang cukup disebut laku. Cara bekerja yang juga cara menjaga diri.
Host: Oke, deep talk matcha kita hari ini lumayan menampar tapi soft. Buat lo yang lagi baca artikel ini, semoga obrolan ini bantu ngelihat WFH, coworking, dan kerja bukan cuma sebagai isu lokasi, tapi isu makna.
Guest: Thank you udah dengerin sampai sini. Semoga hari kerja lo lebih manusiawi, boundary lo lebih sehat, dan lo bisa nemuin ruang yang bikin lo hadir penuh.
Host: Sampai ketemu di obrolan artikel berikutnya di
tuturbangsa.com. Take care, jangan lupa istirahat, dan jujurly, jangan biarin kerja bikin lo lupa sama diri lo sendiri.