Di Balik Setiap Produk Palestina, Ada Harapan yang Hidup
Di balik setiap produk Palestina yang dijual di Halal Expo 2026, tersimpan kisah ketahanan, kreativitas, dan harapan komunitas yang menolak untuk menyerah.
Tuturbangsa.com – Di antara puluhan booth yang memadati Tennis Indoor Gelora Bung Karno dalam Halal Expo Indonesia 2026, ada satu sudut yang menarik perhatian dengan cara yang berbeda. Bukan karena dekorasinya yang paling mencolok. Bukan pula karena display-nya yang paling mewah. Melainkan karena setiap benda yang tergantung, tersusun, dan terpajang di sana menyimpan cerita yang jauh lebih berat dari sekadar harga yang tertera.
Selamat datang di Booth Nomor 50 – Pasar Palestina, atau Gallery of Palestine.
Tiga Tahun Mengumpulkan Karya, Bukan Sekadar Berjualan
Raed Arada, alumni S1 Universitas Lampung dan S2 Universitas Indonesia, berdiri di balik meja terdapat kurma Medjool, botol minyak zaitun, sabun Nablus, kain sulam bermotif khas Palestina, dan berbagai produk kerajinan tangan yang masing-masing membawa jejak tangan pembuatnya dari belahan dunia yang sedang dilanda duka.
“Alhamdulillah kami sudah sekitar tiga tahun mengumpulkan hasil karya teman-teman yang ada di Indonesia maupun di luar Indonesia – seperti komunitas-komunitas Palestina yang ada di Jordan atau di Mesir yang mengevakuasi dari Gaza akibat genosida yang terjadi di sana,” tutur Raed dengan tenang.
Pasar Palestina bukan startup yang lahir dari peluang pasar. Ia lahir dari kebutuhan – kebutuhan untuk tetap hadir, tetap dikenal, dan tetap memberikan ruang bagi para pengungsi dan diaspora Palestina untuk menghasilkan sesuatu di tengah ketidakpastian yang menyelimuti hidup mereka.
Produk-produk yang hadir di booth ini datang dari berbagai penjuru: dari Tepi Barat langsung, dari komunitas Palestina di Mesir, di Jordan, di Turki, dan dari mahasiswa Palestina yang tengah menempuh studi di Indonesia. Masing-masing membawa ciri khas yang tidak bisa dipalsukan – baik dari sisi motif, tekstur, maupun kisah di balik pembuatannya.
Tatriz: Sulaman yang Menyimpan Identitas

Salah satu produk yang paling menarik perhatian di booth ini adalah tatriz – seni sulam khas Palestina yang telah diwariskan turun-temurun oleh perempuan-perempuan Palestina selama berabad-abad. Motif geometrisnya yang kaya, warna-warnanya yang berani, dan presisi jahitannya yang memukau menjadikan setiap helai kain tatriz bukan sekadar produk tekstil, melainkan pernyataan budaya yang hidup.
Di booth ini, tatriz hadir dalam berbagai bentuk – dari peta Palestina yang disulam oleh komunitas ibu-ibu Palestina di Mesir, hingga gantungan kunci kecil yang dikerjakan oleh mahasiswi Palestina yang tengah berkuliah di Indonesia. Setiap detail kecil itu, dalam cara yang sangat diam namun sangat kuat, berkata: kami masih ada. Budaya kami masih hidup.
“Seperti baju, gantungan kunci, atau shawl seperti ini. Semuanya handmade,” jelas Raed, memegang selembar kain dengan motif sulam merah hitam yang kontras dan indah.
Kurma Medjool dan Minyak Zaitun: Bukan Sekadar Produk

Di samping kerajinan tangan, Pasar Palestina juga menghadirkan produk-produk pertanian yang menjadi identitas kuat tanah Palestina: kurma Medjool dan minyak zaitun, keduanya asli langsung dari petani Palestina.
Raed dengan teliti menjelaskan bahwa kurma Medjool yang dijualnya berbeda dari produk serupa yang beredar di pasaran. Ia bukan dari merek-merek yang masuk dalam daftar boikot – melainkan langsung dari petani Palestina di Tepi Barat, tanpa perantara yang memperkeruh asal-usulnya.
Begitu pula dengan minyak zaitun dan sabun Nablus – produk yang namanya sudah melegenda jauh sebelum konflik ini pecah. Nablus, kota di Tepi Barat, telah dikenal sebagai pusat produksi sabun zaitun selama lebih dari seribu tahun. Membeli sebatang sabun Nablus dari booth ini bukan hanya soal kulit yang bersih – ia adalah tindakan kecil yang menjaga rantai ekonomi petani dan pengrajin Palestina tetap hidup.
800 Orang, Satu Solidaritas
Raed menyebut bahwa saat ini diperkirakan ada sekitar 800 hingga 1.000 warga Palestina yang tinggal di Indonesia, termasuk sekitar 160 mahasiswa. Angka yang tidak besar – namun komunitas ini hidup dengan kepadatan solidaritas yang luar biasa.
Raed sendiri pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Pelajar Palestina di Indonesia periode 2023–2024, sebuah peran yang memberinya gambaran langsung tentang tantangan sekaligus kekuatan komunitas Palestina di negeri ini.
Untuk membawa produk-produk dari Tepi Barat, Jordan, dan Mesir ke Jakarta, Pasar Palestina mengandalkan cara yang paling manusiawi: hand carry. Teman-teman mahasiswa yang bepergian membawa kelebihan bagasi, dan Pasar Palestina membeli kapasitas itu – sekitar Rp250 ribu per kilogram dari Tepi Barat, Rp200 ribu dari Jordan, dan Rp120 ribu dari Mesir. Cara yang tidak efisien secara logistik, namun penuh makna secara sosial: sambil membeli bagasi, mereka juga menopang ekonomi mahasiswa yang merantau jauh dari tanah air yang kini dilanda perang.
“Kita dukung mereka juga karena biasanya mereka jual bagasi seperti itu,” ujar Raed. Kalimat singkat yang di dalamnya tersimpan saling menopang yang sangat nyata.
Satu kali pernah dicoba pengiriman melalui DHL – namun biaya pajak dan pengiriman yang besar membuat jalur itu tidak berkelanjutan. Belum lagi ketegangan geopolitik yang belakangan kerap menyebabkan penerbangan tertunda atau dibatalkan, sehingga barang yang semestinya tiba tepat waktu untuk sebuah pameran harus menunggu dengan tidak pasti.
Dari Booth ke Warisan

Yang membedakan Pasar Palestina dari booth pameran biasa bukan hanya produknya, melainkan dimensi edukasinya. Di sini, pengunjung tidak hanya bisa membeli kurma atau minyak zaitun. Mereka juga bisa menyentuh uang kuno khas Palestina, melihat prangko bersejarah, dan membaca buku pengenalan Masjid Al-Aqsa dan sejarah Palestina.
“Selain memperkenalkan budaya Palestina untuk rakyat Indonesia, kita juga menghadirkan benda-benda yang khas Palestina. Jadi mengajar narasi budaya sejarah juga ada, untuk dukungan finansial teman-teman yang tersebar di berbagai negara akibat genosida atau perang, kita juga dukung melalui menjual barang karya mereka,” jelas Raed.
Ini adalah solidaritas yang bekerja dengan cara yang sangat konkret – bukan hanya melalui donasi atau petisi, melainkan melalui transaksi yang bermartabat. Pembeli mendapat produk berkualitas dengan sejarah dan keindahan yang nyata. Penjual – atau lebih tepatnya, komunitas di balik produk itu – mendapat penghasilan yang memungkinkan mereka bertahan dan terus berkarya.
Di Booth Nomor 50 itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi jual beli. Ada keberanian untuk tetap hadir ketika segalanya terasa tidak pasti. Ada kreativitas yang menolak padam meskipun dikepung oleh blockade dan kehilangan. Dan ada solidaritas rakyat Indonesia – yang menurut Raed, “luar biasa, besar sekali” – yang terus menjadi nafas bagi komunitas Palestina di mana pun mereka berada.
Membeli sebotol minyak zaitun dari Pasar Palestina mungkin terasa seperti langkah yang sangat kecil. Namun di balik botol itu, ada pohon zaitun yang masih berdiri di tanah yang disengketakan, tangan petani yang masih memanen meski dalam ketidakpastian, dan harapan yang menolak untuk mati.
Dan terkadang, justru dari hal-hal yang terasa kecil itulah, sejarah perlahan-lahan berubah arah. Pasar Palestina dapat ditemukan di Instagram @pasarpalestina[1] dan hadir di berbagai event di seluruh Indonesia.