Layar Gawai yang Diam-Diam Mengambil Alih Ruang Kelas

Layar Gawai kini menyala lebih lama dari lampu di ruang kelas. Tujuh jam sehari mata anak-anak Indonesia tertuju padanya - melampaui jam pelajaran di sekolah mana pun.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Layar Gawai yang Diam-Diam Mengambil Alih Ruang Kelas
Ilustrasi AI

Tuturbangsa.id, Jakarta – Ada sebuah kenyataan pahit yang kerap luput dari percakapan pendidikan kita: anak-anak Indonesia rata-rata menatap layar gawai selama tujuh jam penuh setiap harinya. Tujuh jam. Sementara jam sekolah datang dan pergi, sementara buku pelajaran terbuka lalu tertutup, layar itu tetap menyala – dan anak-anak tetap betah di sana. Inilah paradoks terbesar yang kini dihadapi para pendidik, orang tua, dan para pengambil kebijakan di negeri ini.

“Kalau main HP mereka asik, dan belajarnya tidak asik, itu menjadi PR besar kita. Makanya kita perlu mengajarkan mereka dengan gembira, mereka senang, mengerti ngapain sih belajar matematika, belajar dengan ceria,” kata Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A. – Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T.

Pernyataan Dr. Rita ini bukan sekadar keluhan seorang pejabat, melainkan suatu diganosis jujur. Generasi yang kini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah adalah generasi dengan rentang fokus yang pendek, terbiasa dengan respons instan, dan sangat peka terhadap rangsangan visual. Ketika konten hiburan dirancang oleh algoritma untuk mempertahankan perhatian mereka, sementara buku teks masih berjalan dengan logika lama, jarak antara dua dunia itu semakin menganga.

Tiga Pilar yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Namun Dr. Rita tidak berhenti pada diagnosis. Ia berbicara tentang solusi. Menurutnya, solusi tidak bisa datang dari satu arah saja. Pendidikan yang bermakna, dalam pandangannya, harus bersandar pada tiga pilar sekaligus: guru, orang tua, dan komunitas.

“Guru terus kita latih, proses pembelajaran kita tingkatkan. Tapi kalau di rumah tidak memberi suasana yang menyenangkan agar mereka belajar, ada potensi kegagalan literasi-numerasi di sana,” tuturnya.

Ini adalah pengakuan yang berani. Selama bertahun-tahun, beban pendidikan hampir sepenuhnya dipikul oleh sekolah. Guru dilatih, kurikulum diperbarui, fasilitas ditingkatkan – sementara rumah, sebagai arena belajar pertama seorang anak, sering kali terlupakan. Padahal, seorang ibu yang kelelahan pulang kerja dan tidak tahu cara menemani anak belajar adalah celah nyata dalam rantai pendidikan yang tak terlihat di atas kertas kebijakan mana pun.

Komunitas pun mengambil peran yang tak kalah vital. Tidak semua anak tumbuh dalam keluarga yang mampu mendampingi. Ada anak-anak yang lahir di lingkungan marginal, yang orang tuanya berjuang keras sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di sinilah komunitas – tetangga, tokoh lokal, relawan pendidikan – harus hadir sebagai jaring pengaman, memastikan bahwa nasib seorang anak tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi keluarga tempatnya dilahirkan.

Daerah 3T dan Ironi Digitalisasi

Sementara kota-kota besar berdebat soal metode pembelajaran terkini, ada anak-anak di ujung kepulauan yang perjuangannya masih soal sinyal internet. Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal – atau yang dikenal sebagai daerah 3T – menjadi medan ujian sesungguhnya bagi cita-cita pendidikan merata di Indonesia.

“Kita sudah canggih pakai papan interaktif digital, tapi kalau gurunya belum canggih, itu penting untuk diperhatikan. Mengajarkan guru generasi 50-plus untuk menguasai teknologi tidaklah sesederhana yang kita bayangkan,” kata Dr. Rita.

Digitalisasi sekolah di daerah 3T adalah langkah yang tepat arah. Tetapi teknologi tanpa kapasitas manusia yang memadai hanya akan menjadi monumen bisu di sudut ruang kelas. Papan interaktif yang tidak bisa dioperasikan guru sama saja dengan buku yang tidak bisa dibaca murid. Maka, meningkatkan literasi digital para pendidik terutama mereka yang sudah berusia dan terbiasa dengan cara-cara lama menjadi agenda yang tidak bisa dikesampingkan.

Layar Gawai yang Diam-Diam Mengambil Alih Ruang Kelas_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Bahasa Inggris dan Janji Kesetaraan Global

Salah satu kebijakan yang paling ambisius dan penuh makna yang disinggung Dr. Rita adalah rencana menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 4 hingga 6 sekolah dasar pada 2027–2028. Bagi sebagian orang, ini terdengar sederhana. Tapi bagi anak-anak di pelosok desa yang selama ini hanya menjangkau dunia melalui bahasa ibu mereka, kebijakan ini bisa berarti pintu yang selama ini tertutup rapat akhirnya mulai terbuka.

“Setiap anak di Indonesia di pelosok negeri harus punya pengalaman berbahasa Inggris. Biar tidak tertipu, biar tidak diterjang, dan sekaligus punya kompetisi yang sejajar dengan dunia,” imbuhnya.

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis dalam bahasa sendiri. Literasi, dalam cakupannya yang paling luas, adalah kemampuan memahami dan bernavigasi di dunia yang semakin kompleks -:dunia yang berbahasa lebih dari satu, yang bergerak lebih cepat dari kecepatan belajar konvensional.

Belajar yang Bermakna, Gembira, dan Penuh Kesadaran

Semua tantangan itu bermuara pada satu pertanyaan: bagaimana membuat belajar terasa layak diperjuangkan? Dr. Rita menawarkan jawabannya dengan formula yang deceptively sederhana: pembelajaran harus bermakna (meaningful), penuh kesadaran (mindful), dan menggembirakan (joyful).

Bayangkan seorang anak yang diajarkan pecahan bukan dengan rumus di papan tulis, melainkan dengan sebuah apel yang sungguh-sungguh dibagi bersama teman-temannya. Ia tidak hanya memahami seperempat – ia merasakan seperempat. Pengalaman itu menempel, karena ia hidup di dalam tubuh dan ingatan, bukan sekadar di permukaan hafalan.

“Kita punya satu apel, kita ada berempat. Apelnya dibagi empat, jadi kita dapat seperempat. Itu yang bermakna dan bergembira. Sesederhana itu seharusnya kita mengajar,” imbuhnya.

Di sinilah letak harapan terbesar kita. Bukan pada anggaran yang lebih besar semata, bukan pada teknologi yang lebih canggih belaka – melainkan pada pergeseran cara pandang: bahwa setiap ruang belajar, sekecil apa pun, adalah tempat yang bisa dirayakan. Bahwa setiap anak, dari Sabang sampai Merauke, berhak atas pengalaman belajar yang membuat mereka ingin kembali besok – dan besoknya lagi.

Pendidikan Indonesia sedang bergerak. Perlahan, tapi bergerak. Dan dalam setiap langkahnya yang tertatih, ada ribuan anak yang tengah menunggu. Mereka tidak butuh sempurna. Mereka hanya butuh belajar yang seru.

Playlist Saya