Haji Bukan Lagi Mimpi Usia Senja

Haji bukan lagi impian hari tua. Generasi muda Muslim Indonesia kini menuliskannya lebih awal — dan mulai bergerak lebih serius dari sebelumnya.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Haji Bukan Lagi Mimpi Usia Senja
Ilustrasi AI

Tuturbangsa.com – Jika dulu perbincangan tentang Haji kerap identik dengan orang tua yang sudah mapan, sudah purnatugas, sudah menyelesaikan “urusan dunia” – kini pemandangan itu perlahan bergeser. Di kedai kopi, di grup percakapan digital, bahkan di kolom komentar media sosial, semakin sering terdengar suara-suara anak muda usia dua puluhan dan tiga puluhan yang menyebut Haji bukan sebagai angan-angan masa tua, melainkan sebagai bagian dari daftar tujuan hidup yang ingin mereka wujudkan segera.

Pergeseran ini bukan sekadar kesan. Ada data yang berbicara.

Angka yang Menceritakan Sebuah Zaman

Survei yang dilakukan Muslim Pro terhadap penggunanya di Indonesia pada April 2025 mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: sebanyak 81% responden memilih kemudahan perencanaan Haji, Umrah, atau Zakat sebagai fitur yang paling diinginkan dalam akun tabungan berbasis syariah. Dan yang lebih menarik, di antara responden berusia 23 hingga 39 tahun, permintaan terhadap fitur perencanaan religi – termasuk persiapan Haji mencapai 66%, menjadikannya fitur digital paling diminati dibanding kelompok usia lainnya.

Muslim Pro sendiri merupakan platform terpercaya. Dengan lebih dari 190 juta unduhan global, ia adalah salah satu platform gaya hidup Muslim terbesar di dunia. Data yang lahir dari ekosistem sebesar ini mencerminkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar preferensi fitur aplikasi – ia mencerminkan pergeseran nilai sebuah generasi.

Konteks digitalnya pun tak bisa diabaikan. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang pada 2024, atau sekitar 79,5% dari total populasi nasional. Generasi muda yang tumbuh dalam lanskap digital ini tak hanya menggunakannya untuk hiburan dan interaksi sosial – mereka juga menjadikan ruang digital sebagai tempat refleksi diri, pembelajaran agama, dan perencanaan tujuan hidup jangka panjang.

Haji Bukan Lagi Mimpi Usia Senja_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Mendefinisikan Ulang Makna Sukses

Di sinilah letak pergeseran yang sesungguhnya bukan hanya soal teknologi, melainkan soal cara sebuah generasi mendefinisikan kesuksesan.

Generasi sebelumnya kerap mengukur pencapaian dari hal-hal yang kasat mata: rumah, kendaraan, posisi karier, tabungan yang cukup. Bagi banyak anak muda Muslim Indonesia hari ini, skala pengukuran itu tak lagi mutlak. Mereka semakin menghargai pengalaman yang memberi makna personal, emosional, dan spiritual. Haji dan Umrah yang dulu dianggap sebagai “mahkota di penghujung perjalanan” – kini mulai dipandang sebagai bagian dari perjalanan itu sendiri, bukan hanya penutupnya.

“Kami melihat adanya perubahan perilaku yang signifikan,” ujar Nafees Khundker, Group Managing Director dan CEO Muslim Pro. “Anak muda Muslim saat ini jauh lebih terbuka dalam membicarakan aspirasi spiritual mereka dibandingkan generasi sebelumnya. Keinginan untuk menunaikan ibadah Haji atau Umrah di usia muda kini semakin dipandang sebagai bagian dari tujuan hidup personal.”

Tren ini juga mendapat resonansi dari lanskap ekonomi global. Menurut State of the Global Islamic Economy Report 2024/25, sektor perjalanan ramah Muslim menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam ekonomi Islam dunia, dengan proyeksi nilai pasar mencapai US$384 miliar pada 2028. Indonesia sendiri berada di peringkat ketiga global dalam indikator Ekonomi Islam secara keseluruhan, serta peringkat kedua untuk sektor pariwisata ramah Muslim. Kita bukan sekadar pasar – kita adalah salah satu penentu arah masa depan ekonomi halal dunia.

Di Antara Niat dan Kenyataan

Namun di balik tingginya aspirasi itu, ada jurang yang harus kita akui keberadaannya secara jujur. Survei Muslim Pro menemukan bahwa 65% responden mengaku jarang atau bahkan tidak pernah menyisihkan dana khusus untuk Haji. Angka serupa ditemukan untuk tabungan Umrah.

Di kelompok pengguna berpenghasilan rendah hingga menengah – yang merupakan mayoritas responden – angka tersebut bahkan meningkat menjadi 62% hingga 72%. Dan ketika ditanya soal hambatan utama, sebanyak 83% responden yang merasa kesulitan menyebut keterbatasan finansial dan ketidakstabilan pendapatan sebagai tantangan terbesar.

Belum lagi realitas struktural yang tak mudah diabaikan: masa tunggu Haji di berbagai provinsi Indonesia kini berkisar antara belasan hingga puluhan tahun. Sebuah kondisi yang secara logis menuntut perencanaan keuangan yang dimulai jauh-jauh hari bahkan mungkin sejak seseorang baru saja memasuki usia produktif.

Persoalannya, bagi banyak calon jemaah muda, proses itu belum pernah benar-benar dimulai. Bukan karena mereka tidak ingin, melainkan karena tujuan itu terasa terlalu jauh untuk terasa nyata.

“Tantangannya bukan pada niatnya,” kata Nafees Khundker. “Niat itu sudah ada. Yang sering kali belum dimiliki adalah sistem yang membantu niat tersebut berubah menjadi langkah nyata yang konsisten dimulai dari hari ini, bukan menunggu masa depan yang belum pasti.”

Haji Bukan Lagi Mimpi Usia Senja_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Niat yang Butuh Sistem, Bukan Sekadar Semangat

Inilah titik refleksi yang paling penting dari seluruh data dan realitas di atas: bahwa masalah terbesar bukan pada lemahnya keinginan, melainkan pada absennya sistem yang membuat keinginan itu bisa berjalan secara konsisten. Spiritualitas tanpa infrastruktur yang mendukung akan terus tersandung oleh realitas ekonomi sehari-hari. Mimpi pergi ke Tanah Suci di usia 30an tidak akan terwujud hanya karena niatnya kuat – ia membutuhkan kebiasaan keuangan yang terstruktur, realistis, dan berkelanjutan.

Kabar baiknya, kesadaran akan hal ini mulai tumbuh baik di kalangan anak muda Muslim sendiri, maupun di antara para pelaku ekosistem keuangan syariah yang kini berlomba menghadirkan solusi yang lebih kontekstual dan membumi.

“Kami percaya hal terpenting adalah menjaga agar niat itu tetap hidup sekaligus membuatnya terasa realistis untuk diwujudkan,” tambah Nafees. “Amanah Pro hadir untuk membantu umat Muslim memulai perjalanan mereka sekarang, bukan nanti.”

Generasi yang Tak Mau Menunggu

Pergeseran yang kita saksikan pada generasi muda Muslim Indonesia ini adalah cerminan dari sesuatu yang lebih besar: sebuah generasi yang menolak memisahkan antara kehidupan dunia dan tujuan akhirat, antara perencanaan finansial dan perjalanan spiritual.

Mereka tidak ingin menunggu tua untuk bermakna. Tidak ingin menunda yang berharga hanya karena terasa jauh. Dan dalam diam, mereka sedang membuktikan bahwa Haji bukan hanya ritual penutup sebuah perjalanan hidup ia bisa menjadi kompas yang menentukan arah perjalanan itu sejak awal. Maka pertanyaannya kini bukan lagi kapan. Pertanyaannya adalah: dengan cara apa kita mulai, hari ini?

Playlist Saya