“Kardus Ajaib” Si Penyelamat Lingkungan

Kardus ajaib bukan sekadar sampah-Arif Susanto ubah jadi panggung, kursi, dan gerakan mangrove lewat Dus Duk Duk.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Diterbitkan 17 Agustus 2026, 13:29 WIB
“Kardus Ajaib” Si Penyelamat Lingkungan
Instalasi seni terbuat dari kardus sebagai meja/Dok.Tuturbangsa.com

Tuturbangsa.com – Sebagian besar dari kita mengenal kardus sebagai benda yang umurnya pendek. Ia datang membawa paket, dibuka, lalu berakhir dilipat di gudang atau dibuang begitu saja. Jarang ada yang membayangkan bahwa benda sesederhana ini bisa menjadi penopang sebuah panggung arsitektur, kursi yang diduduki ratusan orang, bahkan gerakan pelestarian mangrove di berbagai pesisir Indonesia. Namun itulah yang berhasil dibuktikan Arif Susanto, pendiri dan desainer Dus Duk Duk, lewat julukan yang selalu ia sematkan pada material kesayangannya: “kardus ajaib”.

Ketika Kardus Menjelma Panggung

Julukan itu bukan sekadar slogan. Ia adalah kesimpulan dari perjalanan panjang yang dimulai pada 2013, ketika Arif masih menjadi mahasiswa Desain Produk Industri di ITS Surabaya. Di semester tiga atau empat kuliahnya, ia mulai bereksperimen membuat kursi dari kardus-sebuah percobaan sederhana yang kelak melahirkan nama Dus Duk Duk, kardus untuk duduk.

"Kardus Ajaib" Si Penyelamat Lingkungan_Tuturbangsa.com
Istimewa

Tiga belas tahun kemudian, eksperimen kampus itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Seluruh struktur instalasi spasial “PURANA 17: Renjana Perca” di Grand Indonesia berdiri seratus persen dari kardus daur ulang – tanpa besi, tanpa kayu, tanpa paku, bahkan tanpa lem kayu. “Saya tuh sering sekali menyebut bahwa material kardus ini adalah material yang menurut saya sangat ajaib,” ujar Arif, mengulang kembali kata yang paling mewakili filosofinya.

Setiap tahun, kolaborasinya dengan PURANA membawa tantangan yang berbeda-ia menyebutnya “ujian tahunan”. Jika di ulang tahun ke-16 PURANA ia diminta membuat dekorasi bertema hutan dan satwa, di usia ke-17 ini tantangannya berubah jauh lebih berat: menghadirkan konstruksi yang benar-benar arsitektural dan kokoh secara struktur. Volume kardus yang digunakan pun melonjak dua kali lipat, dari sekitar 300 lembar tahun lalu menjadi 600 lembar tahun ini. Yang membuatnya lebih istimewa, sekitar 30 hingga 40 persen dari kardus itu adalah hasil daur ulang dari dekorasi Purana tahun sebelumnya bukti nyata bahwa material lama bisa terus hidup dalam wujud baru.

Kardus Ajaib Penyelamat yang Bekerja dari Hal Sederhana

Menyebut kardus sebagai “penyelamat lingkungan” mungkin terdengar berlebihan, sampai kita melihat bagaimana Dus Duk Duk memperluas makna keberlanjutan itu sendiri. Bagi Arif, deskripsi “ramah lingkungan” saja terasa terlalu sempit untuk menggambarkan apa yang sebenarnya sedang ia bangun.

Kepada anak-anak, Dus Duk Duk berbicara tentang edukasi lingkungan lewat workshop dan permainan puzzle dari kardus. Kepada pelaku UMKM, mereka menawarkan solusi packaging ramah lingkungan yang membantu produk lokal memenuhi standar sustainability untuk pasar ekspor. Kardus, yang mulanya hanya soal daur ulang semata, perlahan menjadi jembatan bagi berbagai kalangan untuk memahami keberlanjutan dengan cara yang dekat dan mudah dipahami.

Wujud paling nyata dari komitmen itu ada pada program penanaman mangrove yang telah berjalan selama empat tahun. Setiap kolaborasi dengan klien dikonversi menjadi jumlah bibit yang ditanam di berbagai pesisir – Bali, Belitung Timur, Pulau Pari, hingga Wonorejo di Surabaya. Sebagai gambaran, 600 lembar kardus yang digunakan PURANA tahun ini setara dengan 25 bibit mangrove yang akan ditanam. Dengan cara ini, setiap karya temporer yang dibangun Dus Duk Duk selalu meninggalkan sesuatu yang justru tumbuh dan bertahan lama sebuah balasan yang adil bagi bumi.

Keberlanjutan yang Tidak Harus Abadi

Namun bagian paling menggugah dari perjalanan Arif bukan pada angka-angka pencapaiannya, melainkan pada cara pandangnya yang mengajak kita berpikir ulang tentang arti sustainability. Banyak orang percaya bahwa sesuatu disebut berkelanjutan jika bisa dipakai berkali-kali dalam waktu lama. Arif menawarkan cara pandang yang berbeda.

Ia mencontohkan gerakan membawa tumbler sebagai simbol gaya hidup ramah lingkungan. Niatnya baik, tapi kenyataannya, tidak sedikit orang justru berakhir mengoleksi berbagai macam tumbler-memiliki banyak, alih-alih benar-benar mengurangi konsumsi plastik sekali pakai. Dari situ, Arif menemukan makna lain dalam material yang ia geluti selama bertahun-tahun. “Justru karena singkat, justru value sustainability-nya ada di situ,” katanya.

Kardus, dengan segala keterbatasannya yang mudah rusak, justru menjadi sangat mudah didaur ulang-prosesnya bisa selesai hanya dalam 24 jam, bahkan bisa dikerjakan secara manual lewat gerakan-gerakan lokal tanpa mesin canggih.

Ada kejujuran yang menyentuh dalam caranya menjelaskan hal ini. Sesuatu yang berumur pendek, katanya, sering justru meninggalkan ingatan yang paling manis. Sebuah instalasi yang berdiri sepuluh hari lalu dibongkar dan didaur ulang kembali, bukan berarti gagal bertahan lama. Ia hanya memilih cara lain untuk bertanggung jawab: menyelesaikan siklus hidupnya dengan tuntas, alih-alih menunda tanggung jawab itu ke masa depan yang tidak pasti.

Empat Lini, Satu Keyakinan yang Sama

"Kardus Ajaib" Si Penyelamat Lingkungan_Tuturbangsa.com
Arif Susanto pendiri dan desainer Dus Duk Duk/Dok.Tuturbangsa.com

Hari ini, keyakinan sederhana tentang kardus ajaib itu telah tumbuh menjadi empat lini bisnis yang saling melengkapi. Ada Dus Duk Duk untuk instalasi dan dekorasi acara, Toys untuk mengedukasi anak-anak lewat mainan kreatif dari kardus, Pack-Pack untuk packaging ramah lingkungan yang banyak berkolaborasi dengan UMKM se-Indonesia, serta Kertasku, lini furnitur yang membawa meja dan side wall dari 100% serat kardus daur ulang ke panggung Renjana Perca.

Di antara keempat lini itu, penyerapan pasar terbesar Dus Duk Duk justru datang dari sektor event. Permintaan untuk booth pameran mengalir deras dari berbagai penyelenggara acara yang ingin menghadirkan instalasi unik sekaligus ramah lingkungan-sebuah kebutuhan yang terus tumbuh seiring semakin banyak brand yang ingin menunjukkan komitmen keberlanjutan mereka lewat pengalaman visual yang nyata, bukan sekadar klaim di atas kertas.

Menariknya, setiap klien yang berkolaborasi dengan Dus Duk Duk tidak pulang membawa instalasi semata. Mereka juga menerima sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya menjaga lingkungan sebuah pengakuan kecil namun bermakna, yang mengaitkan setiap lembar kardus yang mereka gunakan dengan komitmen nyata terhadap bumi, sejalan dengan program penanaman mangrove yang telah dijalankan Dus Duk Duk Duk selama empat tahun terakhir.

Dari kursi kuliah yang dibuat coba-coba tiga belas tahun lalu, Arif Susanto membuktikan bahwa penyelamat lingkungan tidak selalu datang dalam bentuk teknologi canggih atau bahan yang mahal. Kadang, ia bersembunyi di material paling sederhana yang ada di setiap rumah menunggu seseorang yang cukup sabar dan percaya untuk melihatnya kembali, lalu memberinya bentuk dan kesempatan yang baru. Kardus ajaib itu, pada akhirnya, bukan sekadar soal material yang bisa didaur ulang. Ia adalah pengingat bahwa menyelamatkan lingkungan bisa dimulai dari sesuatu yang paling dekat dengan kita, bahkan dari sesuatu yang selama ini nyaris tak pernah kita lihat.

Playlist Saya