PURANA, Merajut 17 Tahun Ingatan Lewat Perca

PURANA mengubah sisa kain 17 tahun perjalanannya menjadi karya seni bersama 12 seniman di Grand Indonesia.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Diterbitkan 17 Agustus 2026, 12:20 WIB
PURANA, Merajut 17 Tahun Ingatan Lewat Perca
Istimewa

“PURANA tidak pernah membuang perca produksinya selama 17 tahun berkarya – kain sisa itu disimpan, menunggu waktunya untuk kembali hidup.”

Tuturbangsa.com – Setiap kain menyimpan cerita. Ada yang menyimpan peluh penjahit yang menyelesaikannya larut malam, ada yang menyimpan jejak tangan seniman yang mewarnainya helai demi helai, dan ada pula yang menyimpan sesuatu yang lebih sunyi: ingatan tentang apa yang tersisa setelah sebuah karya selesai dibuat.

PURANA memilih untuk tidak melupakan bagian yang sunyi itu. Lewat “Renjana Perca”, perayaan ulang tahun ke-17 yang digelar di Main Atrium East Mall, Grand Indonesia, sejak 14 hingga 23 Agustus 2026, rumah mode dan gaya hidup kontemporer ini mengajak publik untuk merajut kembali ingatan yang selama ini tersimpan di dalam kain-kain sisa produksinya.

Bertepatan dengan bulan kemerdekaan, PURANA menyebut Renjana Perca sebagai gerakan kebanggaan nasional menuju ekonomi sirkular. Namun di balik istilah besar itu, ada sesuatu yang jauh lebih personal: kebiasaan untuk tidak pernah membuang apa yang telah dibuat dengan susah payah.

Arsip yang Akhirnya Dibuka

PURANA, Merajut Ingatan Lewat Perca_Tuturbangsa.com
Nonita Respati, Founder & Chief Creative Officer PURANA/Istimewa

Selama 17 tahun berkarya, PURANA menyimpan setiap perca produksinya. Bukan karena ragu untuk membuang, melainkan karena percaya bahwa kain sisa itu bukan limbah, melainkan kanvas yang menyimpan memori dan potensi estetika yang belum selesai bercerita. Di Renjana Perca, arsip yang selama ini tersimpan itu akhirnya dibuka kembali. Lembar demi lembar perca dirajut ulang, diserahkan ke tangan para seniman, dan dihidupkan menjadi instalasi seni yang dipamerkan dalam sebuah galeri bertajuk “The Living Archive” – arsip yang hidup.

Bagi Nonita Respati, Founder & Chief Creative Officer PURANA, membuka kembali arsip ini bukan hanya soal mendaur ulang kain. Ini adalah cara untuk merawat ingatan tentang siapa saja yang pernah ikut membesarkan PURANA selama hampir dua dekade.

“Selama 17 tahun, perjalanan PURANA dalam menghidupkan filosofi ‘Livable Art’ bukanlah perjuangan saya seorang diri. Saya sangat bersyukur dapat senantiasa berkolaborasi erat dengan para seniman hebat dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengabadikan kekayaan warisan budaya, flora, fauna, lingkungan, serta narasi Nusantara ke dalam setiap motif PURANA. Para seniman yang terlibat dalam gerakan ‘Renjana Perca’ hari ini adalah para sahabat karya yang telah tumbuh bersama kami selama 17 tahun, mulai dari talenta muda berbakat yang kini telah menjadi nama-nama besar di kancah seni, hingga maestro legendaris seperti Sutjipto Adi,” tuturnya.

Kata “mengabadikan” yang dipilih Nonita terasa tepat. Sejak berdiri pada 2009 di bawah filosofi “Livable Art” – gagasan bahwa karya seni rupa layak hidup dalam keseharian lewat busana yang fungsional-PURANA memang selalu berusaha menyimpan sesuatu agar tidak hilang: motif, warisan budaya, dan kali ini, ingatan itu sendiri, dalam wujud kain sisa yang dirajut menjadi karya baru.

Dua belas seniman menjawab ajakan itu, membawa disiplin yang berbeda-beda: Sutjipto Adi, Ruth Marbun, Agan Harahap, Hendra “HeHe” Harsono, Sarkodit, Suanjaya Kencut, Anton Afganial, Francisca “Kika” Puspitasari dari Kaloka Pottery, Hana Surya dari Threadapeutic, Rosyid Akhmadi dari Mohoi, Arief Susanto dari Dus Duk Duk, hingga Savirra Lavinia dari FUGUKU. Masing-masing membawa cara pandangnya sendiri terhadap perca, namun semuanya bertemu pada satu titik yang sama: bahwa sesuatu yang tersisa masih layak diperlakukan sebagai karya, bukan sampah.

Ingatan yang Dibangun dari Kardus

PURANA, Merajut Ingatan Lewat Perca_Tuturbangsa.com
Intalasi seni dari kain perca PURANA/Istimewa

Jika perca menjadi jiwa dari ingatan yang dirajut ulang PURANA, maka panggung tempat semuanya berdiri adalah caranya sendiri untuk mengingat. Seluruh arsitektur instalasi Renjana Perca dirancang oleh seniman spasial Arief Susanto dan difabrikasi oleh label yang ia dirikan, DusDukDuk, menggunakan 100% kardus daur ulang tanpa besi, tanpa kayu, tanpa paku, bahkan tanpa lem kayu.

Arief menyebut material yang ia geluti selama bertahun-tahun ini dengan satu kata sederhana. “Saya tuh sering sekali menyebut bahwa material kardus ini adalah material yang menurut saya sangat ajaib,” katanya, menjelaskan asal-usul nama Dus Duk Duk kardus untuk duduk.

Ingatan yang dibangunnya untuk PURANA 17 pun berlapis. Sebagian material kardus yang digunakan tahun ini, sekitar 30 hingga 40 persen dari total 600 lembar, sebenarnya adalah hasil daur ulang dari dekorasi Purana tahun sebelumnya. Dengan kata lain, panggung yang berdiri hari ini secara harfiah menyimpan jejak fisik dari perayaan tahun lalu sebuah ingatan yang dirajut ulang, persis seperti perca-perca di dalam galeri.

Arief juga menawarkan cara pandang yang layak direnungkan tentang makna keberlanjutan itu sendiri. Baginya, sustainability tidak selalu berarti membuat sesuatu bertahan selamanya. “Ternyata material kardus yang ada di rumah kita itu bisa bernilai tambah, value-nya semakin berkali-kali lipat ketika kita bisa mengkreasikan itu dengan berbagai macam produk,” ujarnya.

Justru karena kardus mudah rusak, ia menjadi sangat mudah didaur ulang-prosesnya bisa selesai hanya dalam 24 jam. Sebuah gagasan sederhana namun mengubah cara pandang: bahwa ingatan tidak harus abadi untuk bisa berarti, ia hanya perlu dirawat dan dipertanggungjawabkan selama ia ada.

Rumah yang Ikut Merajut

PURANA, Merajut Ingatan Lewat Perca_Tuturbangsa.com
Dok.Tuturbangsa.com

Sebuah ingatan besar seperti ini tentu membutuhkan tempat yang tepat untuk disimpan dan dibagikan. Grand Indonesia, sebagai Official Venue Partner, membuka pintunya. General Manager Marketing Communications & Operations Grand Indonesia, Kanina Hanindita, melihat kolaborasi ini sebagai bagian dari peran pusat perbelanjaan sebagai ruang bertemunya komunitas dan budaya.

“Grand Indonesia sangat bangga dapat menjadi tuan rumah bagi gerakan kebanggaan nasional ‘PURANA 17: Renjana Perca.’ Bagi kami, pusat perbelanjaan adalah katalis yang mempertemukan komunitas, budaya, seni, dan inovasi sirkular. Melalui kolaborasi ini, kami menegaskan komitmen kami dalam mendorong penerapan praktik ekonomi sirkular dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Kami mengundang seluruh masyarakat untuk menjadi bagian dari perjalanan ini dan menyaksikan secara langsung bagaimana warisan budaya Indonesia dan zero-waste luxury dapat menyatu secara harmonis,” ungkap Kanina.

Dukungan itu turut hadir dalam bentuk yang lebih kecil namun konsisten: titik pengumpulan sampah botol plastik dari tenant F&B Grand Indonesia, yang kemudian dikelola bersama mitra sirkular. Sebuah cara lain untuk ikut merajut, meski dari sudut yang berbeda.

Merajut yang Tersisa, Merawat yang Diingat

PURANA, Merajut Ingatan Lewat Perca_Tuturbangsa.com
Dok. Tuturbangsa.com

Selama sepuluh hari penyelenggaraan, Renjana Perca menghadirkan lebih dari sekadar galeri dan panggung kardus. Ada peragaan busana eksklusif, termasuk koleksi Regal Bloom yang memadukan motif klasik Eropa dengan warisan budaya Indonesia, peluncuran perdana lini Purana Kids, ruang pratayang bagi para penikmat mode, hingga 14 sesi workshop komunitas harian.

Namun di antara semua kemeriahan itu, yang paling terasa adalah bagaimana PURANA memilih untuk merayakan usianya yang ke-17 bukan dengan melupakan apa yang telah berlalu, melainkan dengan merajutnya kembali. Perca yang dulu tersimpan di gudang, kardus yang biasanya berakhir sebagai sampah, kini menjelma ruang dan cerita yang bisa dikunjungi. Merajut ingatan lewat perca, pada akhirnya, adalah cara PURANA mengingatkan kita semua bahwa apa yang tersisa dari masa lalu tidak pernah benar-benar hilang-ia hanya menunggu tangan yang mau menjahitnya kembali.

Playlist Saya