Gap Susu Nasional Tembus 4,7 Juta Ton, PR Besar RI

Indonesia hanya mampu penuhi sebagian kecil kebutuhan susu nasional. Guru Besar IPB paparkan penyebab gap 4,7 juta ton dan tantangan swasembada.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Gap Susu Nasional Tembus 4,7 Juta Ton, PR Besar RI
Prof. Dr. Epi Taufik, Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB/Dok. Tuturbangsa

Tuturbangsa.com – Ada angka yang jarang disadari publik ketika berbicara soal produksi susu nasional: negeri ini hanya mampu memproduksi sekitar 800 ribu ton susu segar per tahun, sementara kebutuhan nasional – jika seluruh produk turunan susu seperti keju, yoghurt, dan es krim disetarakan ke susu segar- mencapai sekitar 4,7 juta ton. Selisihnya bukan angka kecil. Ia adalah jurang yang selama bertahun-tahun ditambal oleh impor, dan menurut Prof. Dr. Epi Taufik, Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, jurang itu justru semakin melebar dari tahun ke tahun.

“Produksi susu segar nasional kita per tahun itu sekitar 800 ribu ton. Sementara kebutuhan susu Indonesia, kalau disetarakan ke susu segar, itu sekitar 4,7 juta ton per tahun. Jauh sekali gapnya,” ujar Prof. Epi.

Sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 63426.2 Tahun 2026[1] hadir dan menambah tekanan pasar, permintaan susu nasional sudah tumbuh sekitar 6 persen setiap tahun. Sementara itu, produksi dalam negeri hanya mampu naik 1 persen dalam periode yang sama. Kesenjangan lima persen ini, jika diakumulasikan, membuat sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional bergantung pada impor.

“Permintaan susu itu naiknya 6 persen tiap tahun, bahkan sebelum ada program MBG. Sementara produksi kita hanya naik sekitar 1 persen setahun. Jadi gapnya sekitar 5 persen, dan kalau diakumulasikan itu sangat besar, sampai 80 persen kebutuhan kita ditutup dari impor. Kita menjadi salah satu pengimpor susu tertinggi di dunia,” jelasnya.

Yang perlu digarisbawahi kata Prof Epi, susu yang diimpor sebagian besar bukan susu segar, melainkan susu bubuk.

“Yang diimpor itu bukan susu segar, melainkan susu bubuk. Walaupun bahan asalnya dari susu segar di negara asal, tetapi karena airnya sudah dihilangkan melalui proses pemanasan, ada sebagian komponen yang berkurang. Susu segar cair itu sebenarnya yang paling tinggi kualitasnya,” tuturnya.

Akar Masalah: Populasi Sapi Perah yang Tidak Pernah Cukup

Kekurangan susu nasional pada dasarnya adalah kekurangan sapi perah. Indonesia tercatat memiliki kurang dari 500 ribu ekor sapi perah di seluruh negeri, dan dari jumlah itu, yang benar-benar berada dalam masa laktasi diperkirakan hanya sekitar 200 ribu ekor.

“Populasi sapi perah kita itu kurang dari 500 ribu ekor se-Indonesia, dan itu sudah termasuk semua usia, dari anak sapi sampai indukan tua. Yang sedang dalam masa laktasi, yang benar-benar menghasilkan susu, diperkirakan hanya sekitar 200 ribu ekor saja,” katanya.

Sebagai perbandingan, Prof. Epi menyebut India sebagai produsen susu segar terbesar di dunia dengan populasi sapi perah yang jauh lebih besar.

“Di India itu populasi sapi perahnya lebih dari 200 juta ekor. Di Jepang saja ada lebih dari 5 juta ekor, sementara kita se-Indonesia hanya 500 ribu ekor. Saya sempat berkunjung ke salah satu koperasi peternak di India, dan mereka menerima setoran susu sampai satu juta liter per hari. Itu artinya satu koperasi di sana saja setara dengan separuh produksi susu kita se-Indonesia per hari. Bahkan ada koperasi di negara bagian lain yang produksinya bisa mencapai 20 juta liter per hari,” ungkapnya.

Persoalannya bukan sekadar jumlah kandang, tetapi juga karakter biologis sapi perah itu sendiri.

“Sapi perah itu berbeda dengan sapi potong. Kalau sapi potong begitu bobotnya cukup langsung dipotong, sementara sapi perah harus beranak dulu untuk bisa berproduksi, dan biasanya satu kali kelahiran per tahun, bisa sampai lima atau enam kali sepanjang hidupnya. Karena Indonesia pada dasarnya tidak memiliki bibit sapi perah, mau tidak mau kita harus impor dulu, baru nanti berkembang biak di sini,” jelasnya.

Gap Susu Nasional Tembus 4,7 Juta Ton, PR Besar RI_Tuturbangsa.com
Infografis

Wacana Impor Satu Juta Sapi Perah

Isu kekurangan sapi perah ini sebenarnya bukan barang baru dalam wacana kebijakan. Pernah muncul pernyataan dari kepala negara mengenai rencana mengimpor satu juta ekor sapi perah untuk mengejar ketertinggalan populasi.

“Mungkin ada yang masih ingat, waktu kampanye, Presiden pernah menyampaikan rencana untuk mengimpor satu juta ekor sapi perah. Tapi kita masih menunggu realisasinya,” ujar Prof. Epi.

Menariknya, kekurangan susu nasional ini berjalan beriringan dengan rendahnya tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia, yang hanya sekitar 17 kilogram per tahun.

“Konsumsi susu kita itu sekitar 17 kilogram per kapita per tahun, kalau dibagi 365 hari itu jauh sekali dari cukup. Bandingkan dengan Brunei yang sudah 70 kilogram, Malaysia 40 sampai 50 kilogram, atau Thailand yang sudah 28 kilogram. Kita yang paling rendah di ASEAN,” katanya.

Ia turut menyoroti narasi intoleransi laktosa yang menurutnya kerap dijadikan alasan untuk menjauhi susu, meski belum didukung data yang kuat.

“Kalau ditanya soal intoleransi laktosa masyarakat Indonesia yang katanya tinggi, saya justru menantang untuk mencari datanya. Data dari RSCM menunjukkan kasus intoleransi laktosa itu justru banyak ditemukan pada usia 20 sampai 50 tahun, dan yang paling signifikan pada kelompok yang memang bukan konsumen rutin susu. Bukan pada anak-anak,” ujarnya.

Prof. Epi membandingkan kondisi ini dengan praktik di Jepang, tempat anaknya pernah bersekolah, di mana pemerintah daerah aktif mengirimkan susu kepada ibu hamil.

“Waktu istri saya hamil di Jepang, dari balai kota itu setiap bulan dikirimkan susu, bukan disuruh mengambil, tapi dikirim langsung. Saya tanya kenapa, katanya supaya bayinya sehat. Bahkan setelah lahir pun masih dikirim terus sampai anak masuk sekolah, dan di program makan sekolah mereka, susu itu ada setiap hari,” katanya.

Kekurangan susu di Indonesia pada akhirnya bukan sekadar persoalan pasokan yang bisa diselesaikan dengan mengimpor lebih banyak susu bubuk. Ia adalah persoalan struktural- populasi sapi perah yang minim, laju produksi yang jauh tertinggal dari laju permintaan, dan pola konsumsi masyarakat yang masih rendah dibandingkan negara tetangga. Selama akar masalah ini belum disentuh secara serius, predikat sebagai salah satu importir susu terbesar di dunia tampaknya akan terus melekat pada Indonesia, sementara mimpi swasembada susu nasional masih harus menempuh jalan panjang.

Playlist Saya