3 Generasi Transmigran Konawe Selatan Bangun Sulawesi Tenggara

Sejak 1968, tiga generasi transmigran Konawe Selatan telah mengubah lahan kosong menjadi lumbung pangan yang kini menopang lebih dari 50 persen ekonomi daerah.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
3 Generasi Transmigran Konawe Selatan Bangun Sulawesi Tenggara
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dan Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo/Istimewa

Tuturbangsa.com – Ada kalimat yang diucapkan, dalam sebuah audiensi di Jakarta yang layak untuk kita renungkan lebih dalam: “Sebelum saya lahir, sudah ada program transmigrasi di Konawe Selatan.”

Kalimat itu bukan sekadar fakta historis. Ia adalah pengakuan bahwa transmigrasi bukan program sesaat yang datang dan pergi bersama pergantian rezim. Di Konawe Selatan, ia telah menjadi bagian dari DNA pembangunan – mengakar sejak 1968, tumbuh melewati generasi, dan kini berdiri sebagai salah satu kisah keberhasilan yang paling konkret dari seluruh perjalanan panjang program transmigrasi Indonesia.

Dari Program Menjadi Identitas

Konawe Selatan bukan nama yang selalu muncul dalam perbincangan ekonomi nasional. Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara ini berbatasan langsung dengan Kota Kendari – ibu kota provinsi yang jauh lebih dikenal. Namun justru dari kabupaten inilah, kebutuhan pangan Kota Kendari selama ini dipasok.

Angka-angkanya berbicara dengan tegas: lebih dari 50 persen PDRB Konawe Selatan bersumber dari sektor pertanian. Sebanyak 55 persen aktivitas ekonomi kabupaten ini bergerak di sektor yang sama. Dan dari 25 kecamatan yang ada, 15 di antaranya memiliki wilayah yang ditempati oleh transmigran – lebih dari separuh wilayah administratif kabupaten ini telah dibentuk oleh tangan-tangan para transmigran yang datang dengan berbekal harapan dan tekad.

Fakta-fakta itu melukiskan gambaran yang sangat jelas: transmigrasi di Konawe Selatan bukan program yang gagal atau sekadar memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Ia telah bertransformasi menjadi fondasi ekonomi daerah – sebuah ekosistem pertanian yang menghidupi bukan hanya para transmigran dan keturunannya, melainkan juga seluruh penduduk Kota Kendari yang bergantung pada pasokan pangan dari wilayah ini.

Tidak mengherankan bila Konawe Selatan kemudian merumuskan visinya dengan sangat spesifik, “Mewujudkan kawasan UPT Transmigrasi di Kabupaten Konawe Selatan Sebagai Pusat Ekonomi Mandiri yang Terintegrasi Dengan Pembangunan Daerah.” Sebuah visi yang lahir bukan dari angan-angan, melainkan dari rekam jejak yang sudah teruji selama lebih dari setengah abad.

Keberhasilan yang Menyimpan Pekerjaan Rumah

Namun di balik capaian yang membanggakan itu, Irham Kalenggo tidak menyembunyikan kenyataan pahit yang masih harus dihadapi. Jalan antar desa yang belum diaspal. Kondisi sekolah yang memprihatinkan. Pasar yang belum layak. Jembatan yang belum memadai. Sarana air bersih yang masih menjadi kebutuhan mendesak.

Gambaran itu menghadirkan kontras yang perlu kita resapi dengan jujur: kawasan yang sudah berkontribusi lebih dari separuh PDRB daerah, namun infrastruktur dasarnya masih jauh dari layak. Para transmigran yang selama puluhan tahun membangun ketahanan pangan regional, namun jalan menuju ladang mereka masih berbatu dan berlubang.

Di sinilah letak ketegangan yang sesungguhnya dalam narasi keberhasilan transmigrasi Konawe Selatan: produktivitasnya sudah terbukti, namun kesejahteraan yang menyertainya belum sepenuhnya hadir. Dan ketegangan itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan retorika – ia membutuhkan tindakan konkret dan koordinasi yang sungguh-sungguh antar pemangku kepentingan.

Sinergi sebagai Kunci

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, yang menerima audiensi Bupati Konawe Selatan di Gedung Makarti Jakarta, menyampaikan sesuatu yang terdengar sederhana namun sangat fundamental: Kementerian Transmigrasi tidak bisa bekerja sendirian.

“Dalam pembangunan kawasan transmigrasi, Kementrans yang terdepan,” tegasnya. Namun ia segera menambahkan bahwa “terdepan” bukan berarti “sendiri.”

Sertifikasi lahan yang baru terealisasi 708 dari target 1.588 bidang membutuhkan sinergi dengan Kementerian ATR/BPN. Rehabilitasi sekolah yang memprihatinkan membutuhkan kolaborasi dengan Kemendikdasmen. Pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur dasar memerlukan koordinasi erat dengan Kementerian Pekerjaan Umum.

“Kita juga tengah merealisasikan program bersama dengan Kemendikdasmen terkait rehabilitasi sekolah di kawasan transmigrasi. Rehabilitasi sekolah di Konawe Selatan bisa kita masukkan dalam program ini,” ujar Viva Yoga.

Pernyataan itu terdengar teknis, namun implikasinya sangat nyata bagi anak-anak transmigran generasi ketiga dan keempat yang kini duduk di bangku sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Bagi mereka, rehabilitasi sekolah bukan sekadar perbaikan fisik bangunan – ia adalah sinyal bahwa negara memandang masa depan mereka dengan serius.

Di Balik 880 Bidang Lahan yang Menunggu

3 Generasi Transmigran Konawe Selatan Bangun Sulawesi Tenggara_Tuturbangsa.com
Infografis

Ada detail kecil dalam pertemuan itu yang menyimpan makna besar: dari 1.588 bidang lahan yang ditargetkan untuk disertifikasi menjadi Sertifikat Hak Milik, baru 708 yang terealisasi. Masih ada 880 bidang yang menunggu. Bagi yang tidak mengenal konteksnya, angka itu terdengar administratif. Namun bagi para transmigran yang sudah bertahun-tahun menggarap lahan tanpa kepastian hukum yang penuh, 880 bidang itu adalah 880 keluarga yang belum sepenuhnya bisa menyebut tanah yang mereka garap sebagai milik mereka secara sah.

Kepemilikan lahan bukan sekadar urusan kertas dan stempel. Ia adalah fondasi dari rasa aman, dari kemampuan mengakses kredit pertanian, dari kemungkinan mewariskan sesuatu yang nyata kepada anak cucu. Viva Yoga berjanji tegas: “Sisanya, 880 lahan, segera kita tuntaskan.”

Janji itu perlu ditagih – bukan dengan sikap memusuhi, melainkan dengan kepedulian bahwa di balik setiap bidang lahan yang belum bersertifikat, ada manusia dengan harapan yang sudah menunggu terlalu lama.

Konawe Selatan adalah cermin dari apa yang seharusnya menjadi wajah transmigrasi Indonesia: bukan program pemindahan penduduk yang berakhir di atas kertas, melainkan proses panjang membangun komunitas, ketahanan pangan, dan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Lebih dari 50 tahun bukan waktu yang singkat. Di rentang itu, para transmigran dan keturunannya telah membuktikan bahwa dengan tanah, kerja keras, dan ketekunan, kawasan yang dulunya kosong bisa menjadi lumbung pangan yang menghidupi satu kota besar.

Kini giliran negara memenuhi bagian janjinya – infrastruktur yang layak, sekolah yang bermartabat, sertifikat lahan yang tuntas, dan pasar yang memadai. Bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai pengakuan atas kontribusi yang sudah terbukti selama lebih dari setengah abad.

Karena pada akhirnya, keberhasilan transmigrasi Konawe Selatan bukan hanya milik para transmigran yang membangunnya. Ia adalah milik kita semua – bukti bahwa ketika program dijalankan dengan niat yang benar dan didukung dengan sinergi yang sungguh-sungguh, tanah yang jauh pun bisa berbuah.

Playlist Saya