Kanker hingga Autoimun, Ini 3 Alasan Pasien Memilih Berobat di Malaysia

Kanker, jantung, hingga autoimun mendorong 300 ribu warga Indonesia berobat ke Malaysia setiap tahun. Kenali alasannya dan pentingnya deteksi dini.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Kanker hingga Autoimun, Ini 3 Alasan Pasien Memilih Berobat di Malaysia
Ilustrasi AI

Dari kanker hingga autoimun, penyakit kronis mendorong semakin banyak warga Indonesia berobat ke Malaysia.

Tuturbangsa.com – Menyoal kesehatan, ada sebuah keputusan yang tidak pernah mudah: meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, menaiki pesawat menuju negeri seberang, hanya untuk duduk di ruang tunggu rumah sakit asing dan mendengarkan nama sendiri dipanggil oleh seorang dokter yang belum pernah ditemui sebelumnya.

Namun itulah yang dilakukan oleh hampir 300 ribu warga Indonesia setiap tahunnya. Mereka pergi ke Malaysia bukan karena iseng, bukan karena sekadar ikut tren. Mereka pergi karena tubuh mereka meminta jawaban dan mereka tidak mau berhenti mencari sampai jawaban itu ditemukan.

Di balik angka 300 ribu itu, tersimpan kisah-kisah yang sangat manusiawi. Kisah tentang diagnosis yang mengguncang, tentang keberanian mencari pendapat kedua, tentang penyakit-penyakit yang kini semakin tidak mengenal batas usia.

Kanker: Musuh Terbesar yang Paling Banyak Membawa Pasien

Kanker hingga Autoimun, Ini 3 Alasan Pasien Memilih Berobat di Malaysia_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Jika ada satu kata yang paling sering terdengar dalam percakapan seputar medical tourism Indonesia ke Malaysia, kata itu adalah: kanker.

Onkologi atau perawatan kanker menempati posisi teratas dari seluruh kasus yang ditangani oleh rumah sakit-rumah sakit Malaysia untuk pasien Indonesia. Dan ini bukan angka yang bisa dianggap sederhana.

“Yang paling tinggi adalah onkologi atau kanker. Kanker paru, kanker payudara, reproduksi wanita juga masih banyak – karena kanker rahim di Indonesia statistiknya lumayan tinggi. Juga kanker usus,” ungkap dr. Candrati Sukardji, Indonesia Sales Lead IHH Healthcare Malaysia, dengan nada yang mencerminkan betapa dalamnya ia memahami realitas ini.

Kanker bukan sekadar penyakit. Ia adalah pukulan psikologis yang luar biasa berat. Ketika seseorang pertama kali mendengar kata “kanker” keluar dari mulut dokter, dunia seketika terasa berhenti berputar. Dan dalam kondisi seperti itulah, naluri paling dasar seorang manusia muncul: ingin memastikan. Ingin tahu dengan pasti – apakah diagnosis itu benar? Apakah ada harapan? Apakah pengobatan yang ditawarkan adalah yang paling tepat?

“Pasien dengan diagnosis kanker pasti akan perlu meyakinkan diri – apakah memang saya kanker? Mendapatkan pengobatan yang paling tepat dan cocok dengan kondisinya. Biasanya pasien yang seperti inilah yang mencari second opinion ke rumah sakit kami,” jelas dr. Candrati.

Secondopinion bukan bentuk ketidakpercayaan. Ia adalah hak setiap pasien – dan bagi penderita kanker, ia bisa menjadi perbedaan antara pengobatan yang tepat dan pengobatan yang keliru.

Jantung: Ketika Waktu Adalah Segalanya

Kanker hingga Autoimun, Ini 3 Alasan Pasien Memilih Berobat di Malaysia_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Setelah kanker, penyakit jantung dan kardiologi menjadi alasan terbesar kedua yang mendorong warga Indonesia menyeberang ke Malaysia untuk mendapatkan perawatan. Penyakit jantung memiliki karakter yang berbeda dari kanker – ia sering datang tanpa banyak peringatan, namun dampaknya bisa bersifat fatal dalam hitungan menit. Inilah yang membuat pasien jantung dan keluarganya seringkali tidak mau berkompromi dalam hal kualitas penanganan.

Di IHH Healthcare Malaysia, Centres of Excellence di bidang kesehatan jantung menjadi salah satu unggulan yang paling banyak dicari pasien Indonesia. Didukung teknologi medis mutakhir dan tim klinis berpengalaman, penanganan kardiologi di sana menawarkan ketenangan yang sangat dibutuhkan pasien maupun keluarga dalam situasi yang penuh tekanan.

Faktor kedekatan geografis pun menjadi pertimbangan krusial. Bagi warga Batam yang memerlukan penanganan jantung segera, Johor Bahru bisa dicapai hanya dengan menyeberangi selat – jauh lebih cepat daripada harus terbang ke Jakarta. Waktu yang terhemat bisa berarti nyawa yang terselamatkan.

Tulang, Sendi, dan Harapan untuk Bergerak Kembali

Masalah tulang dan sendi menjadi kategori ketiga yang paling banyak membawa pasien Indonesia ke Malaysia. Ini adalah penyakit yang mungkin tidak semenakutkan kanker atau sedarurat jantung – namun dampaknya pada kualitas hidup tidak kalah berat.

Bayangkan tidak bisa berjalan tanpa rasa sakit. Tidak bisa bangun dari kursi tanpa bantuan. Tidak bisa bermain bersama cucu karena lutut tidak lagi bisa diajak bekerja sama. Bagi jutaan orang Indonesia yang hidup dengan kondisi ini, harapan untuk bisa bergerak kembali adalah motivasi yang sangat kuat untuk mencari penanganan terbaik – ke mana pun itu.

IHH Healthcare Malaysia menawarkan layanan perawatan tulang dan sendi tingkat lanjut, termasuk prosedur bedah kompleks yang membutuhkan keahlian dan peralatan khusus. Kombinasi antara kualitas layanan dan biaya yang masih terjangkau dibanding destinasi medis lain menjadikan Malaysia pilihan yang sangat masuk akal.

Pencernaan dan Autoimun: Yang Tersembunyi di Balik Statistik

Kanker hingga Autoimun, Ini 3 Alasan Pasien Memilih Berobat di Malaysia_Tuturbangsa.com
Dok. Tuturbangsa.com

Dua kategori penyakit yang sering luput dari perhatian publik namun nyatanya cukup banyak membawa pasien Indonesia ke Malaysia adalah gangguan pencernaan (gastroenterologi) dan penyakit autoimun atau reumatologi.

“Ada gastro atau sakit pencernaan – itu juga banyak sekali yang datang kepada kami. Kemudian autoimun, reumatologi itu juga banyak yang datang ke rumah sakit kami,” ungkap dr. Candrati.

Penyakit autoimun adalah kategori yang seringkali membutuhkan waktu lama untuk terdiagnosis dengan benar. Gejalanya yang beragam dan kompleks kerap membingungkan, bahkan bagi tenaga medis sekalipun. Tidak jarang seorang pasien sudah bertahun-tahun berpindah dari satu dokter ke dokter lain, tanpa pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Inilah yang akhirnya mendorong mereka untuk mencari second opinion ke luar negeri – dengan harapan mendapatkan diagnosa yang lebih presisi dan rencana pengobatan yang lebih terarah.

Penyakit Tidak Lagi Menunggu Usia Tua

Satu hal yang paling mengkhawatirkan dari seluruh data ini adalah pergeseran demografis pasien. Dulu, penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau bahkan kanker identik dengan usia paruh baya ke atas. Kini, gambaran itu telah berubah drastis.

“Sekarang itu kita tidak bisa lihat usia. Karena kita lihat bahwa ada pergeseran – kalau dulu orang hipertensi selalu umur 40 tahun, sekarang tidak seperti itu. Umur muda bisa diabetes, umur muda bisa hipertensi,” kata dr. Candrati dengan keprihatinan yang terasa tulus.

Gaya hidup modern – dengan segala tekanannya, pola makan yang serba instan, kurangnya aktivitas fisik, dan minimnya waktu istirahat – telah mempercepat kemunculan penyakit-penyakit yang sebelumnya hanya jadi “urusan orang tua”. Anak-anak muda usia 20-an kini sudah perlu memikirkan health screening secara serius.

Dan kabar baiknya, kesadaran itu mulai tumbuh. Semakin banyak anak muda Indonesia yang menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai agenda tahunan – termasuk dengan memanfaatkan perjalanan ke Malaysia sebagai momen untuk sekaligus melakukan medical check-up komprehensif.
“Jadi untuk pendeteksian sakit atau health screening general check-up, ya dimulai masih muda di atas 20 tahun sambil jalan-jalan ke Malaysia,” ujar dr. Candrati.

Deteksi Dini: Investasi Terbaik yang Bisa Kita Berikan pada Diri Sendiri

Kanker hingga Autoimun, Ini 3 Alasan Pasien Memilih Berobat di Malaysia_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Di sinilah sesungguhnya inti dari seluruh perjalanan ini. Bukan semata soal berobat ketika sudah sakit, melainkan soal mencegah sebelum penyakit sempat bersarang terlalu dalam. IHH Healthcare Malaysia menyediakan fasilitas screening kanker yang komprehensif – mulai dari kanker paru, kanker payudara, kanker reproduksi wanita dan pria, hingga kanker usus.

Dengan teknologi deteksi dini yang terus berkembang, banyak penyakit yang dulu baru terdeteksi di stadium lanjut, kini bisa ditemukan jauh lebih awal – ketika peluang kesembuhan masih sangat besar.
“Sekarang kesadaran untuk deteksi kanker sudah semakin tinggi,” kata dr. Candrati. “Rumah sakit kami masing-masing bisa melakukan screening untuk kanker lebih dini baik itu screening untuk paru, kanker payudara, atau reproduksi wanita, reproduksi pria, semuanya bisa.”

Pada akhirnya, kisah tentang penyakit-penyakit yang membawa warga Indonesia ke Malaysia adalah juga kisah tentang kita semua. Tentang betapa rentannya tubuh manusia, dan betapa pentingnya kita tidak menunggu hingga sakit datang menyapa sebelum mulai peduli pada kesehatan diri.

Kanker yang terdeteksi dini memiliki harapan sembuh yang jauh lebih tinggi. Penyakit jantung yang terkelola dengan baik bisa dicegah dari komplikasi fatal. Autoimun yang terdiagnosis tepat bisa ditangani dengan lebih efektif. Semua itu dimulai dari satu langkah sederhana namun penuh keberanian: mau memeriksakan diri.

Malaysia menjadi pilihan bagi banyak orang Indonesia bukan karena rumah sakit di sini tidak mampu. Melainkan karena perjalanan kesehatan adalah hak setiap manusia – hak untuk mendapatkan yang terbaik, hak untuk mendapat jawaban yang pasti, dan hak untuk hidup dengan kualitas terbaik yang bisa diraih. Dan tidak ada kata terlambat untuk memulai perjalanan itu.

Playlist Saya