Purana Home Membawa Jiwa Wastra ke Meja Makan

Dari helai kain ke permukaan porselen - Purana Home membuka babak baru kehadiran wastra nusantara di ruang paling intim kehidupan kita.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Purana Home Membawa Jiwa Wastra ke Meja Makan
Ilustrasi Modifikasi AI

Tuturbangsa.com – Para penenun kain tradisional Nusantara percaya bahwa setiap helai benang yang terjalin dari proses menenun juga memuat doa, cerita dan jiwa pembuatnya. Jalinan benang, doa dan kisah itu menjelma motif yang bukan sekadar ornamen, melainkan bahasa. Kepercayaan ini telah hidup lama di antara mereka.

Pemahaman itulah yang tampaknya juga menjadi ruh dari perjalanan Purana. Brand fashion wastra nusantara itu kini melangkah lebih luas dari sekadar membungkus dan merias tubuh, menuju ruang yang lebih intim yakni meja makan. Lewat lini terbarunya, Purana Home, filosofi wastra itu kini hadir dalam bentuk piring porselen, mangkok, dan table runner – benda-benda yang setiap hari menemani momen paling manusiawi dalam keseharian kita: makan bersama.

Motif yang Punya Jiwa

Sejak Oktober 2025, Purana Home resmi memperkenalkan koleksi perdananya – tableware dan textile accessories yang lahir dari rahim motif Purana Fashion. Bagi Purana, ini bukan sekadar diversifikasi bisnis, melainkan perluasan klaim bahwa wastra nusantara layak hadir di setiap sudut kehidupan.

Managing Director Purana Home Erika Amalia berbicara dengan keyakinan yang dalam soal ini. “Bedanya kita sama home living lain adalah pattern kita itu punya story. Pattern kita itu punya satu konsep yang kuat yang memang lahir dari identity pattern fashion. Kita percaya bahwa apa yang akan kita hasilkan itu akan menjadi sesuatu yang timeless – karena ada a very powerful story behind the pattern,” ujarnya.

Inilah letak perbedaan mendasar yang Purana Home tawarkan kepada pasar. Saat banyak produk home living berlomba mengejar tren visual global seperti minimalis Skandinavia, japandi, atau earthy aesthetic yang datang silih berganti, Purana Home justru berbalik arah. Ia menggali ke dalam, menelusuri kekayaan motif Nusantara yang memang tak pernah benar-benar habis untuk diceritakan.

Koleksi perdana yang diluncurkan hadir dalam palet putih dan biru – pilihan yang disengaja, sekaligus cerdas. Bukan karena sedang tren, melainkan karena warna itu universal dan akrab. Porselain putih biru adalah bahasa klasik yang dimengerti lintas budaya, lintas generasi. Ia menjadi jembatan antara yang lokal dengan yang dapat diterima luas.

White and blue itu adalah warna yang paling universal. Klasiknya porcelain itu kan white and blue. Kita memang keluar dari sesuatu yang memang familiar dulu di industri ini,” jelas Erika.

Namun ini hanya permulaan. Palet-palet berikutnya – pink and white, hitam – sudah menunggu giliran, semuanya berangkat dari koleksi Purana Fashion yang telah lebih dulu hadir. Tableware dan fashion pun berjalan dalam satu napas, satu narasi.

Kartini dan Meja Makan Jepara

Purana Home Membawa Jiwa Wastra ke Meja Makan_Tuturbangsa.com
Dok. Tuturbangsa.com

April selalu membawa ingatan tentang Kartini. Tentang perempuan Jepara yang menulis surat-surat berapi-api di tengah tembok adat yang mengurungnya. Tentang mimpi tentang ruang – bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang gerak, ruang pikir, ruang jadi diri sendiri.

Maka ketika Purana Home bertemu dengan Dalia Sajian Kontemporer dalam sebuah kolaborasi kuliner bertema Hari Kartini, ada sesuatu yang terasa lebih dari sekadar strategi pemasaran. Ada semacam sirkularitas yang indah: wastra nusantara yang selama ini menjadi cara perempuan mengekspresikan diri, kini hadir di atas meja makan yang menghidangkan cita rasa dari tanah Kartini sendiri.

“Purana ini berangkat dari semua perempuan sebenarnya. Bulan April ini identik dengan Hari Kartini – lucu nih kalau kita bikin Resto Takeover yang mengangkat tema Kartini menjadi highlight kuliner kolaborasi kita bersama Dalia,” kenang Erika tentang proses brainstorming yang melahirkan kolaborasi ini.

Annisa Hudaya, pemilik Dalia Sajian Kontemporer, membawa dimensi lain dalam kolaborasi ini: riset rasa. Tim dapurnya menggali menu-menu yang diperkirakan akrab dengan lidah masyarakat Jepara dan Jawa Tengah di era Kartini hidup. Bukan untuk mereproduksi masa lalu secara harfiah, tetapi untuk menghormatinya – sembari tetap bergerak maju.

“Koleksi ini memang terinspirasi dari research menu-menu apa saja yang disukai oleh era Kartini, makanya datangnya dari Jepara dan Jawa Tengah pada umumnya,” ungkap Annisa.

Chef Uki, kepala dapur Dalia dari Bandung, dipercaya untuk menerjemahkan riset itu menjadi hidangan. Dan ia melakukannya dengan cara yang mencerminkan spirit Dalia itu sendiri tidak mentah-mentah meniru, tetapi memberi twist kontemporer yang tetap berakar pada kekayaan lokal. Inilah yang belakangan mendorong Dalia berganti nama, dari “Sajian Nusantara” menjadi “Sajian Kontemporer”: sebuah pengakuan bahwa menghargai warisan bukan berarti berhenti berevolusi.

Tantangan yang Sesungguhnya: Membuat Wastra Bisa Disentuh

Di balik keindahan konsep, ada tantangan nyata yang dihadapi Purana Home: bagaimana membuat produk tableware berfilosofi tinggi itu bisa benar-benar sampai ke tangan konsumen?

Tidak seperti fashion yang bisa meyakinkan lewat foto di layar, tableware adalah kategori produk yang meminta lebih. Ia ingin disentuh. Ingin dirasakan beratnya, teksturnya, kilap permukaannya. Sebuah piring yang indah di foto bisa terasa biasa saja ketika dipegang – atau sebaliknya, tampak sederhana dalam gambar namun luar biasa saat ada di genggaman.

You have to touch, you have to feel, baru anda yakin. Kalau fashion melihat dari foto orang sudah bisa meyakinkan. Tapi untuk tableware it’s not easy,” aku Erika jujur.

Dari kesadaran itulah strategi kolaborasi restoran ini lahir. Bukan sekadar promosi bersama – melainkan menciptakan ruang di mana konsumen bisa mengalami produk Purana Home secara langsung, dalam konteks penggunaan yang sesungguhnya. Memesan hidangan, lalu merasakan sendiri bagaimana piring berpola wastra itu berbeda di atas meja.

“Strategi kita awal memang kerjasama dengan restoran ini. Kita berharap restoran ini jadi outlet kita juga – kita semakin dekat sama new customer kita. Jadi mereka sekiranya ingin membeli produk Purana Home, mereka bisa datang ke restoran yang sedang kita kolaborasi,” papar Erika.

Sebuah set dining Purana Home – lengkap dengan piring, mangkok, gelas, dan saucer – dimulai dari kisaran Rp 800.000, diproduksi bersama Sango, produsen tableware yang dikenal dengan kualitas dan ketahanannya. Harga yang, menurut Erika, sepadan dengan cerita yang dibawa oleh setiap motifnya.

Mewariskan Meja Makan

Purana Home Membawa Jiwa Wastra ke Meja Makan_Tuturbangsa.com

Ada satu pesan Erika yang terasa paling meresap – bukan tentang strategi bisnis atau target pasar, melainkan tentang cara pandang terhadap benda-benda yang menghiasi kehidupan sehari-hari kita. “Mulai deh, walaupun masih gadis ataupun belum menikah, koleksi tableware. Itu benar-benar akan kepake sekali nanti di kemudian hari dan bisa kamu wariskan ke anak kamu,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di dalamnya tersimpan gagasan yang dalam: bahwa benda-benda bermutu – yang dibuat dengan cerita, dengan identitas, dengan rasa hormat terhadap kekayaan lokal adalah benda yang layak diwariskan. Bukan sekadar dipakai lalu dilupakan.

Inilah, mungkin, yang paling relevan dari seluruh cerita Purana Home: bahwa wastra nusantara tidak harus selalu dirayakan dalam kemeriahan peragaan busana atau ritual adat. Ia bisa hadir diam-diam di atas meja makan, menemani sarapan pagi, menjadi saksi percakapan keluarga, bertahan melampaui tren dan suatu hari nanti, berpindah tangan ke generasi berikutnya.

Sebab itulah gunanya sebuah warisan: bukan untuk disimpan di balik kaca, tetapi untuk digunakan, dihidupi, dan diteruskan.

Playlist Saya