Kesehatan Metabolik dan Finansial: Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan

Menjaga kesehatan metabolik tidak semata-mata merupakan upaya mencegah penyakit. Lebih jauh, deteksi dini dapat menjadi bagian dari cara keluarga menjaga kualitas hidup sekaligus mempertahankan ketahanan finansial.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Diterbitkan 13 September 2026, 08:28 WIB
Kesehatan Metabolik dan Finansial: Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan
M. Rizal Arnex, General Manager Amway Indonesia; Dr. Rita Ramayulis, DCN., M.Kes, Nutritionist & Health Expert; Raisa Gabriela Hutagalung, Head of Sales Marketing Innoquest Indonesia/Istimewa

Tuturbangsa.com – Kesehatan dan kondisi finansial keluarga ternyata memiliki hubungan yang lebih dekat daripada yang sering disadari. Ketika tubuh mengalami gangguan metabolik dan kondisi tersebut tidak dikenali sejak dini, dampaknya dapat meluas dari persoalan kesehatan menjadi persoalan ekonomi.

Biaya pemeriksaan, konsultasi, pengobatan, hingga kebutuhan perawatan dalam jangka panjang merupakan konsekuensi yang mudah terlihat. Namun, ada pula dampak tidak langsung yang tidak kalah penting, seperti berkurangnya produktivitas, waktu kerja yang hilang, serta berkurangnya kemampuan seseorang untuk menjalankan aktivitas ekonomi secara optimal.

Karena itu, menjaga kesehatan metabolik tidak semata-mata merupakan upaya mencegah penyakit. Lebih jauh, deteksi dini dapat menjadi bagian dari cara keluarga menjaga kualitas hidup sekaligus mempertahankan ketahanan finansial.

Risiko Metabolik Tidak Lagi Identik dengan Usia Lanjut

Anggapan bahwa gangguan metabolik hanya menjadi persoalan ketika seseorang memasuki usia lanjut semakin tidak relevan. Risiko kesehatan metabolik kini perlu diperhatikan sejak usia lebih muda.

Data pemerintah menunjukkan pentingnya kewaspadaan tersebut. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023[1] mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah sebesar 10,7 persen pada kelompok usia 18–24 tahun dan 17,4 persen pada kelompok usia 25–34 tahun.

Temuan ini menunjukkan bahwa upaya mengenali kondisi kesehatan tidak seharusnya baru dimulai ketika seseorang sudah memasuki usia lanjut atau ketika keluhan mulai terasa.

Dr. Rita Ramayulis, DCN., M.Kes., Nutritionist & Health Expert, bahkan menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan sedini mungkin.

“Melihat perkembangan penyakit metabolik hari ini di Indonesia yang cukup bikin kita merinding. Penyakit yang katanya tadi orang jompo atau lansia gitu, itu justru data Riset Kesehatan Dasar, Survei Kesehatan Indonesia, terjadi pada usia 15 tahun.”

Menurut Rita, gangguan metabolik yang berkaitan dengan gaya hidup dapat muncul pada usia yang lebih muda. Karena itu, pemeriksaan menjadi cara penting untuk mengetahui bagaimana tubuh bekerja sebelum masalah berkembang lebih jauh.

“Maka saya katakan, sedini mungkin lakukanlah pengecekan laboratorium untuk melihat bagaimana sih kimia tubuh kita itu bekerja saat ini.”

Merasa Sehat Tidak Selalu Berarti Metabolik Sehat

Salah satu tantangan dalam mencegah gangguan metabolik adalah sifatnya yang dapat berkembang secara perlahan. Seseorang masih dapat bekerja, bersosialisasi, dan menjalankan rutinitas sehari-hari meskipun sejumlah indikator kesehatan mulai mengalami perubahan.

Rita menjelaskan bahwa metabolisme berkaitan dengan reaksi kimia tubuh dalam merespons berbagai hal yang diberikan kepada tubuh.

“Kalau kita bicara metabolik, berarti kita bicara reaksi kimia tubuh kita merespons apa pun yang kita berikan di sekitar kita. Makanan yang kita makan akan direspons secara kimia oleh tubuh kita. Kemudian gerakan kita sehari-hari, pola tidur kita, itu akan direspons secara kimia oleh tubuh kita.”

Respons tersebut dapat berlangsung positif maupun negatif. Persoalan muncul ketika respons negatif terjadi secara terus-menerus dan mulai memunculkan berbagai perubahan pada tubuh.

Namun, gejala yang muncul sering kali dianggap sebagai bagian biasa dari kesibukan.

“Sering kali kita enggak ngerasa, ‘Ah ini biasa aja kok, capek sedikit enggak apa-apa.’ Kemudian badan kita enggak nyaman, pegal-pegal enggak apa-apa, toh kita merasa ini mungkin karena kurang tidur dan lain sebagainya.”

Padahal, menurut Rita, aktivitas sehari-hari dapat membuat seseorang tidak menyadari proses yang sedang berlangsung di dalam tubuh.

“Tapi hati-hati, karena sesungguhnya gejala-gejala itu terkadang bisa tersamarkan oleh aktivitas sehari-hari kita. Tapi tubuh kita mah tetap berproses.”

Dalam konteks kesehatan metabolik, seseorang tidak dapat hanya mengandalkan bagaimana tubuh terasa pada hari itu. Pengukuran menjadi penting karena memberikan gambaran objektif mengenai kondisi tubuh.

“Makanya, kita enggak boleh main perasaan. Kita main pengukuran,” tegas Rita.

Ia mengingatkan bahwa masalah kesehatan serius sering kali merupakan hasil akumulasi berbagai faktor risiko yang berlangsung dalam waktu panjang.

“Memangnya serangan jantung bisa terjadi dalam hitungan kesalahan dua hari? Enggak. Itu sudah akumulasi dari hal-hal negatif yang terjadi pada tubuhnya. Mungkin akumulasi dari kolesterolnya yang tinggi tapi diabaikan, akumulasi dari tekanan darah yang tinggi tapi diabaikan, sehingga akhirnya terjadilah komplikasi yang berbahaya.”

Pesan tersebut memperlihatkan pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang cemas, tetapi memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara lebih tepat.

Dari Kuratif Menuju Preventif

Menurut Rita, pendekatan kesehatan di Indonesia juga mengalami perubahan paradigma. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak diarahkan pada penanganan orang yang sudah sakit, kini upaya preventif semakin mendapatkan perhatian.

“Kalau kita lihat dulu sebelum tahun 2008, itu paradigma kesehatan kita lebih kepada kuratif. Nah, jadi kegiatan rumah sakit yang lebih ditonjolkan.”

Namun, pendekatan tersebut kemudian bergeser. “Nah, sekarang paradigma itu bergeser. Tidak lagi pada kuratif, tapi pada preventif.”

Menurut Rita, perubahan tersebut antara lain terlihat dari penguatan fungsi Puskesmas dan Posyandu. Puskesmas tidak semata-mata menjadi tempat berobat, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk memeriksa kesehatan, memperoleh edukasi, dan mendapatkan konseling mengenai pola hidup sehat.

Ia juga menyoroti upaya pemerintah memperluas akses pemeriksaan kesehatan melalui pendekatan yang semakin aktif. “Pemerintah mulai menggiatkan lagi kerja dari Puskesmas dan Posyandu.”

Bahkan, menurut Rita, upaya pemeriksaan kemudian berkembang dengan pendekatan jemput bola, termasuk mendatangi sekolah dan perkantoran.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran preventif semakin penting. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang tidak kalah besar: memastikan hasil pemeriksaan benar-benar diikuti perubahan perilaku.

Hasil Pemeriksaan Bukan Sekadar “Rapor Kesehatan”

Mengetahui hasil pemeriksaan merupakan satu tahap. Memahami hasil tersebut dan melakukan perubahan merupakan tahap berikutnya.

Rita menilai masyarakat tidak cukup hanya mengetahui apakah kondisi tubuh berada dalam kategori normal, berisiko, atau membutuhkan perhatian.

“Ini baru sampai batas sadarnya bahwa mereka itu sedang dalam situasi normal, atau berisiko, atau berbahaya, tapi mereka belum dapatkan akses yang seluas-luasnya untuk kemudian melakukan perubahan itu tadi.”

Karena itu, menurutnya, hasil pemeriksaan tidak boleh berhenti sebagai catatan. “Udah dapat hasilnya mau diapakan nih? Ayo, teman-teman diteruskan itu, supaya masyarakat juga jadi tahu harus hari ini saya ngapain gitu, jangan hanya jadi rapor kesehatan aja.”

Pernyataan tersebut menjadi penting jika dikaitkan dengan konsekuensi finansial. Semakin lama faktor risiko kesehatan dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, semakin besar kemungkinan munculnya kebutuhan kesehatan yang lebih kompleks.

Kesehatan Memengaruhi Finansial

Gangguan metabolik yang berkembang menjadi penyakit atau komplikasi dapat memengaruhi kondisi finansial melalui berbagai jalur.

Pertama, terdapat biaya langsung, seperti pemeriksaan berkala, konsultasi, obat, maupun tindakan medis yang diperlukan sesuai kondisi seseorang.

Kedua, terdapat biaya tidak langsung, terutama ketika kondisi kesehatan mengurangi kemampuan seseorang untuk bekerja atau menjalankan usaha.

Bagi pekerja, kondisi kesehatan yang menurun dapat berarti waktu produktif yang berkurang. Bagi pelaku usaha, berkurangnya kemampuan beraktivitas dapat berdampak terhadap operasional dan pendapatan. Sementara bagi keluarga, kebutuhan untuk mendampingi anggota keluarga yang sakit dapat menambah beban waktu dan sumber daya.

Dengan demikian, menjaga kesehatan metabolik dapat memiliki nilai ekonomi yang sering kali tidak terlihat secara langsung.

Pemeriksaan kesehatan pada akhirnya bukan hanya soal mengetahui angka kolesterol, tekanan darah, atau kadar gula darah. Pemeriksaan merupakan cara untuk memperoleh informasi sebelum keputusan yang lebih mahal harus diambil.

Raisa Gabriela Hutagalung, Head of Sales Marketing Innoquest Indonesia, menilai bahwa edukasi kesehatan baru memiliki makna ketika menghasilkan tindakan. “Edukasi itu, awareness itu penting, tapi jadi tidak ada artinya jika tidak ada action.”

Menurut Raisa, pemeriksaan memberikan data personal yang dapat menjadi dasar untuk mengubah gaya hidup.

“Personal, kita harus cek data personal kita, kita tahu data kita, dan kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kita ubah lifestyle seperti tadi kata Dr. Rita juga, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”

Melalui kolaborasi dengan Amway Indonesia, Innoquest Indonesia berupaya memperluas edukasi sekaligus akses terhadap skrining metabolik mandiri. Bagi Raisa, data objektif menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengandalkan persepsi mengenai kondisi tubuh. “Jadi deteksi dini itu penting sekali.”

M. Rizal Arnex, General Manager Amway Indonesia, mengatakan kesehatan dan kondisi finansial merupakan dua persoalan yang sama-sama relevan bagi masyarakat saat ini.

“Ketika kita melihat in this economy, kesehatan masyarakat Indonesia tidak lebih baik, kesehatan finansial masyarakat Indonesia tidak lebih baik juga, dan kami tahu bahwa Amway itu mempunyai solusi untuk kedua hal tadi, makanya Amway menjadikan itu sebagai misi bersama untuk membantu masyarakat Indonesia mempunyai kesehatan yang lebih baik dan juga kesehatan finansial yang lebih baik.”

Melalui perjalanan menuju 35 tahun, Amway Indonesia menargetkan menjangkau 3.500 keluarga melalui edukasi dan skrining metabolik mandiri, sekaligus menghadirkan peluang kewirausahaan sebagai salah satu pilihan untuk membangun sumber penghasilan tambahan.

Dua pendekatan tersebut bertemu pada satu gagasan: kualitas hidup keluarga membutuhkan tubuh yang sehat sekaligus fondasi ekonomi yang kuat.

Menjaga kesehatan metabolik sejak dini dapat membantu seseorang memahami kondisi tubuh dan mengambil langkah yang sesuai. Di sisi lain, menjaga kesehatan finansial membantu keluarga memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan kesehatan.

Pada akhirnya, deteksi dini bukan sekadar upaya mencari tahu apakah seseorang sedang sakit. Ia merupakan bentuk investasi terhadap masa depan-investasi agar seseorang tetap memiliki kemampuan untuk bekerja, berkarya, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Sebab, kesehatan yang diabaikan hari ini dapat menjadi beban finansial di kemudian hari. Sebaliknya, kesadaran untuk memeriksa, memahami, dan bertindak sejak dini dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi keluarga yang lebih tangguh.

Playlist Saya