6 Gangguan Mata Lansia yang Sering Luput Perhatian

Dari katarak hingga glaukoma, enam gangguan mata ini mengintai lansia tanpa gejala yang jelas - dan jutaan orang belum menyadarinya.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
6 Gangguan Mata Lansia yang Sering Luput Perhatian
Dok. Tuturbangsa.com

Tuturbangsa.com – Ada ancaman yang tidak pernah datang dengan peringatan. Ia tidak menyakitkan di awal. Tidak mengirim sinyal yang jelas. Tidak mengganggu rutinitas hingga suatu hari, ketika seseorang mencoba membaca koran pagi atau mengenali wajah cucunya dari jarak beberapa langkah, sesuatu terasa berbeda – dan sudah terlambat untuk sepenuhnya kembali seperti semula.

Itulah cara sebagian besar gangguan mata pada lansia bekerja. Diam. Perlahan. Dan sering kali, tanpa ampun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa secara global, setidaknya 2,2 miliar orang hidup dengan gangguan penglihatan  dan dari jumlah itu, hampir separuhnya mengalami kondisi yang sebenarnya bisa dicegah atau belum tertangani. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar penderita gangguan penglihatan[1] dan kebutaan berada di kelompok usia di atas 50 tahun – menjadikan lansia sebagai populasi paling rentan terhadap ancaman ini.

Zakaria Efendi, S.Tr.Kes., S.KM., M.M., sebagai optometris LV 6 berpengalaman, mengingatkan bahwa banyak penyakit mata pada usia lanjut berkembang secara perlahan tanpa gejala pada tahap awal. Pemeriksaan rutin, tegasnya, adalah satu-satunya cara untuk menangkap ancaman itu sebelum ia berkembang menjadi kerusakan yang tidak bisa dipulihkan.

Berikut enam gangguan mata yang paling sering ditemukan pada lansia – beserta gejala, risiko, dan cara penanganannya.

1. Katarak: Buram yang Bisa Disembuhkan

Dari semua gangguan mata yang menyerang lansia, katarak adalah yang paling umum sekaligus paling bisa ditangani. WHO mencatat katarak menjadi penyebab gangguan penglihatan pada 94 juta orang di seluruh dunia menjadikannya penyebab utama kebutaan yang sebenarnya bisa diobati. Ia terjadi ketika lensa mata yang seharusnya jernih mulai menjadi keruh akibat proses penuaan yang alami — sebuah perubahan yang tidak bisa dihindari, namun bisa ditangani.

Gejalanya khas dan bertahap: penglihatan kabur seperti melihat melalui kaca yang berkabut, silau berlebihan saat melihat cahaya terang, warna-warna yang tampak lebih kusam dan pucat, serta ukuran kacamata yang terasa selalu tidak pas meskipun sudah berkali-kali diganti.

“Penyebab utama kebutaan yang dapat diobati. Terjadi karena lensa mata menjadi keruh akibat proses penuaan. Penanganan utama adalah operasi katarak ketika sudah mengganggu aktivitas,” jelas Zakaria.

Kabar baiknya, operasi katarak modern adalah salah satu prosedur bedah dengan tingkat keberhasilan tertinggi di dunia — aman, relatif cepat, dan memberikan pemulihan penglihatan yang dramatis bagi sebagian besar pasien. Yang penting adalah tidak menundanya terlalu lama hingga kondisi semakin parah.

2. Glaukoma: Pencuri Penglihatan yang Tak Bersuara

Jika katarak memberi tanda-tanda yang bisa dirasakan, glaukoma bekerja dengan cara yang jauh lebih licik. WHO mencatat glaukoma menyebabkan gangguan penglihatan pada 7,7 juta orang di seluruh dunia – angka yang besar, namun kemungkinan jauh lebih banyak yang belum terdeteksi karena sifatnya yang tidak bergejala di awal.

Ia merusak saraf mata secara perlahan – sering kali tanpa satu pun gejala yang disadari penderitanya hingga kerusakan sudah signifikan. Itulah mengapa Zakaria menyebutnya “pencuri penglihatan” – sebuah julukan yang bukan sekadar metafora, melainkan peringatan medis yang sangat nyata.

“Disebut sebagai pencuri penglihatan karena sering berkembang tanpa gejala. Bila terlambat ditangani dapat menyebabkan kebutaan permanen. Pengobatan berupa tetes mata, laser, atau operasi untuk mengendalikan tekanan mata,” paparnya.

Tidak ada cara untuk memulihkan penglihatan yang sudah hilang akibat glaukoma – yang bisa dilakukan hanyalah menghentikan kerusakannya lebih jauh. Dan itu hanya mungkin bila deteksi dilakukan lebih awal.

3. Degenerasi Makula: Ketika Detail Dunia Mulai Memudar

Degenerasi makula terkait usia, atau AMD, menyerang bagian paling vital dari retina – makula, area kecil yang bertanggung jawab atas penglihatan detail dan warna. WHO mencatat AMD menyebabkan gangguan penglihatan pada 8 juta orang di seluruh dunia, dan risikonya meningkat tajam seiring bertambahnya usia.

Gejalanya sangat khas: sulit membaca meski dengan kacamata, wajah orang tampak tidak jelas meskipun jaraknya dekat, garis-garis lurus terlihat bengkok atau bergelombang, sementara penglihatan tepi biasanya masih relatif baik.

“Risiko meningkat dengan usia, merokok, dan faktor genetik,” tegas Zakaria.

AMD hadir dalam dua bentuk: kering dan basah. Bentuk basah berkembang lebih cepat dan lebih merusak, namun juga memiliki lebih banyak pilihan terapi bila terdeteksi dini. Menjaga pola makan kaya antioksidan, tidak merokok, dan rutin memeriksakan mata adalah tiga langkah pencegahan yang paling terbukti.

6 Gangguan Mata Lansia yang Sering Luput Perhatian_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

4. Retinopati Diabetik: Bahaya Gula yang Merusak Mata

Bagi jutaan penderita diabetes di Indonesia, mata adalah salah satu organ yang paling berisiko mengalami komplikasi. WHO mencatat retinopati diabetik menyebabkan gangguan penglihatan pada 3,9 juta orang secara global – dan angka itu terus bertumbuh seiring meningkatnya prevalensi diabetes di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kadar gula darah yang tinggi secara konsisten merusak pembuluh darah kecil di retina, mengakibatkan kebocoran, pembengkakan, dan pada tahap lanjut pembentukan pembuluh darah baru yang abnormal dan rapuh.

“Pada tahap awal sering tidak bergejala. Bila tidak dikontrol dapat menyebabkan perdarahan retina hingga kebutaan,” jelas Zakaria.

Pencegahan terbaik bukan terletak pada obat mata, melainkan pada pengendalian gula darah yang disiplin dan konsisten, dikombinasikan dengan pemeriksaan mata rutin setidaknya setahun sekali bagi setiap penderita diabetes – bahkan ketika penglihatan masih terasa normal.

5. Mata Kering: Sepele di Permukaan, Serius di Baliknya

Mata kering adalah kondisi yang kerap dianggap remeh – sekadar rasa tidak nyaman yang diatasi dengan mengucek mata atau mengistirahatkan pandangan. Padahal, bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, mata kering kronis bisa merusak permukaan mata dan mengganggu kualitas penglihatan secara signifikan.

Seiring bertambahnya usia, kelenjar air mata memproduksi lebih sedikit cairan – dan kualitas air mata yang dihasilkan pun cenderung menurun. Hasilnya adalah sensasi mengganjal, perih atau terbakar, mata yang mudah lelah, serta penglihatan yang sesekali kabur terutama setelah menatap layar dalam waktu lama.

“Produksi air mata menurun seiring bertambahnya usia. Dapat ditangani dengan air mata buatan dan menjaga kelembapan mata,” terang Zakaria.

Penggunaan layar digital yang berlebihan, paparan AC dalam waktu lama, dan kebiasaan jarang berkedip adalah faktor lingkungan yang memperparah kondisi ini pada lansia.

6. Presbiopia: Mata Tua yang Universal

Di antara semua gangguan yang disebutkan, presbiopia adalah satu-satunya yang hampir pasti akan dialami oleh setiap orang yang hidup cukup lama. WHO mencatat presbiopia menjadi penyebab utama gangguan penglihatan jarak dekat pada 826 juta orang di seluruh dunia – menjadikannya kondisi mata dengan jumlah penderita terbanyak secara global.

Setelah usia 40 tahun, sebagian besar orang mulai merasakan tanda-tandanya: huruf-huruf kecil di label produk tampak kabur, membaca pesan di ponsel memerlukan jarak yang semakin jauh, dan penerangan yang sebelumnya terasa cukup kini terasa kurang.

“Hampir semua orang mulai mengalaminya setelah usia 40 tahun. Sulit melihat tulisan kecil dari jarak dekat. Biasanya memerlukan kacamata baca atau lensa multifokal,” jelas Zakaria.

Presbiopia tidak berbahaya, namun sangat memengaruhi kualitas hidup bila dibiarkan tanpa koreksi. Kacamata baca, lensa kontak multifokal, hingga prosedur bedah refraktif adalah pilihan yang tersedia sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Deteksi Dini: Investasi Terbaik untuk Penglihatan

Keenam gangguan di atas memiliki satu benang merah yang sama: semuanya lebih mudah ditangani – dan dampaknya jauh lebih bisa diminimalkan – ketika terdeteksi lebih awal. WHO menegaskan bahwa setidaknya 1 miliar dari 2,2 miliar kasus gangguan penglihatan di dunia sebenarnya bisa dicegah atau belum tertangani – sebuah angka yang mencerminkan betapa besarnya “kehilangan kesempatan” global dalam kesehatan mata.

Zakaria menyarankan pemeriksaan mata lengkap setiap satu hingga dua tahun bagi usia 40 hingga 64 tahun, dan setiap tahun bagi mereka yang berusia 65 tahun ke atas atau memiliki faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi. Pemeriksaan rutin bukan kemewahan – ia adalah bentuk tanggung jawab paling konkret yang bisa kita berikan kepada diri sendiri.

Penglihatan adalah cara kita membaca dunia – harfiah maupun kiasan. Ia yang memungkinkan kita membaca doa, mengenali wajah cucu, menikmati fajar, dan menavigasi setiap hari dengan kepercayaan diri. Kehilangannya, bahkan sebagian, adalah kehilangan yang jauh melampaui fungsi biologis.

Enam gangguan di atas bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Sebagian besar bisa dicegah, diperlambat, atau ditangani – asalkan kita tidak menunggu hingga buram untuk mulai peduli.

Karena yang paling bijak bukan bereaksi saat mata mulai gagal, melainkan menjaga sebelum ia sempat kehilangan cahayanya.

Konsultasikan kondisi mata Anda dengan optometris atau dokter mata profesional untuk pemeriksaan yang tepat sesuai usia dan kondisi kesehatan Anda.

Playlist Saya