Digital Marketing Jadi Kunci Kejayaan Brand Lokal

Digital marketing bukan sekadar tren - ini strategi nyata yang mengubah brand lokal kecil menjadi juara pasar digital Indonesia.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Digital Marketing Jadi Kunci Kejayaan Brand Lokal
Foto Dok. Tuturbangsa.com

Tuturbangsa.com – Bukan pabrik terbesar. Bukan modal paling tebal. Bukan pula nama yang sudah puluhan tahun dikenal. Di era digital, penentu kejayaan sebuah brand lokal telah bergeser secara mendasar – dan pergeseran itu membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya bagi siapa pun yang cukup cerdas untuk membacanya.

Data berbicara tegas. Riset independen yang dilakukan INFOBRAND.ID bersama TRAS N CO Indonesia terhadap 13.341 brand Indonesia di 18 kategori – berdasarkan jutaan ulasan konsumen digital – menunjukkan bahwa brand-brand lokal yang menguasai ekosistem digital terbukti mampu bersaing, bahkan mengalahkan, pemain-pemain yang jauh lebih besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah digital marketing penting. Pertanyaannya adalah: strategi mana yang benar-benar bekerja?

Lanskap yang Berubah, Aturan yang Baru

Memahami kejayaan brand lokal di era digital tidak bisa dilepaskan dari pemahaman tentang bagaimana konsumen Indonesia berperilaku hari ini. Mereka tidak lagi membeli berdasarkan iklan televisi atau rekomendasi dari mulut ke mulut semata. Mereka membaca ulasan, menonton live shopping, mengikuti konten kreator yang mereka percaya, dan membandingkan harga dalam hitungan detik sebelum memutuskan transaksi.

Riset TRAS N CO Indonesia yang dilaksanakan selama Maret hingga Mei 2026 menggunakan metode Digital Research – mengukur kekuatan brand melalui tiga parameter: Digital Brand Asset Aspect, Digital Brand Awareness Aspect, serta Digital Customer Review & Rating Aspect – mengungkap gambaran yang lebih kompleks dari sekadar angka penjualan.

Rata-rata rating nasional brand Indonesia di marketplace mencapai 4,86 dari skala 5,0. Angka yang terdengar impresif. Namun CEO TRAS N CO Indonesia, Tri Raharjo, mengingatkan bahwa di balik rata-rata itu tersimpan jurang yang lebar.

“Hanya 5,8 persen brand yang mencapai rating sempurna 5,0, sementara 18,5 persen masih di bawah 4,70 – ini menandakan peluang besar bagi peningkatan daya saing. Brand yang unggul adalah mereka yang secara konsisten membangun kepercayaan melalui pengalaman konsumen,” tegasnya.

Kesenjangan itu bukan sekadar soal kualitas produk. Ia mencerminkan perbedaan mendasar dalam cara sebuah brand memahami dan merespons konsumennya di ruang digital.

Digital Marketing Jadi Kunci Kejayaan Brand Lokal_Tuturbangsa.com

Tiga Pilar Brand Digital yang Bertahan

Dari ribuan brand yang dianalisis, Tri Raharjo mengidentifikasi karakteristik yang konsisten hadir pada brand-brand berkinerja tinggi. Pertama, kualitas yang terjaga – ditunjukkan dengan rating di atas 4,90 secara konsisten, bukan hanya sesekali. Kedua, responsivitas – kemampuan merespons pertanyaan dan keluhan konsumen dengan cepat dan tepat, bukan dengan jawaban templat yang terasa dingin. Ketiga, kejujuran dalam berkomunikasi – deskripsi produk yang akurat, foto yang autentik, dan tidak melebih-lebihkan klaim.

“Brand yang berprestasi tidak dibangun oleh keberuntungan, tetapi oleh sistem yang memastikan kualitas layanan dan reputasi yang terus tumbuh secara konsisten,” jelas Tri Raharjo.

Tiga pilar itu terdengar sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang paling sulit dipertahankan secara konsisten – terutama ketika volume pesanan meningkat dan tekanan operasional semakin besar.

Afiliasi: Mesin Pertumbuhan yang Sering Diremehkan

Jika ada satu strategi digital marketing yang paling mengubah peta persaingan brand lokal dalam beberapa tahun terakhir, maka afiliasi adalah jawabannya. Bukan karena ia paling mahal atau paling glamor – justru sebaliknya. Afiliasi bekerja karena ia meminjam kepercayaan yang sudah dibangun oleh kreator konten kepada audiensnya.

Beautylens, brand softlens lokal yang meraih penghargaan dalam kategori Fashion Accessories pada Brand Indonesia Excellence Award 2026, adalah contoh nyata bagaimana strategi afiliasi yang dikelola dengan benar bisa menjadi mesin pertumbuhan yang berkelanjutan.

Cindy, Manager Operasional Beautylens, menjelaskan bahwa brand ini tumbuh dari 20 varian warna menjadi lebih dari 40 item yang menjangkau segmen konsumen sangat beragam – dari pengguna softlens harian yang menginginkan tampilan natural, konsumen dengan kebutuhan koreksi minus hingga 15, hingga komunitas cosplay yang membutuhkan lensa berwarna ekspresif.

“Kami selalu mengikuti tren kecantikan dan berinovasi dari sisi warna maupun varian minus. Dulu kami belum menyediakan lensa transparan untuk konsumen dengan minus besar. Sekarang kami sudah menyediakannya hingga minus 15 – karena kami mendengar apa yang benar-benar dibutuhkan pasar,” ujar Cindy.

Sistem afiliasi Beautylens berjalan dengan mekanisme yang terukur. Setiap hari, ratusan permintaan afiliasi masuk. Tim Beautylens melakukan kurasi – hanya kreator konten yang relevan dengan dunia kecantikan dan gaya hidup yang diterima. Mereka kemudian mendapatkan free sample, mengunggah konten sesuai karakter masing-masing, dan memperoleh komisi dari setiap penjualan yang dihasilkan.

“Yang menarik, efek dari konten yang diunggah hari ini bisa menghasilkan pesanan hingga beberapa bulan ke depan. Ini bukan strategi jangka pendek,” jelas Cindy.

Hasilnya, komposisi penjualan Beautylens kini berada di kisaran 60 persen dari live shopping yang berlangsung non-stop setiap hari di Shopee dan TikTok Shop, dan 40 persen dari ekosistem afiliasi. Kolaborasi dengan satu influencer besar yang dilakukan enam bulan lalu pun masih terasa dampaknya hingga hari ini – sebuah bukti bahwa investasi pada kepercayaan memiliki umur yang jauh lebih panjang dari sekadar kampanye berbayar.

Kepercayaan Dibangun Jauh Sebelum Transaksi Terjadi

Ada satu hal yang sering luput dari diskusi tentang digital marketing: bahwa kepercayaan konsumen dibangun jauh sebelum tombol “beli” ditekan. Ia dibangun dari konsistensi konten, kejujuran komunikasi, dan cara sebuah brand merespons ketika ada yang tidak berjalan sempurna.

Beautylens memahami ini secara intuitif. Setiap konsumen secara konsisten diedukasi untuk merendam lensa minimal delapan jam sebelum pemakaian pertama – langkah kecil yang mencerminkan perhatian terhadap keamanan, bukan sekadar orientasi penjualan. Ketika pernah muncul komplain dari konsumen dengan kondisi mata sensitif, respons Beautylens tidak defensif. Mereka mendengar, menelusuri, dan menanggung biaya pemeriksaan dokter sebagai bentuk tanggung jawab penuh.

Pendekatan inilah yang sejalan dengan temuan riset TRAS N CO: brand yang benar-benar unggul bukan yang paling keras beriklan, melainkan yang paling tulus hadir ketika konsumen membutuhkan.

Penghargaan sebagai Cermin, Bukan Mahkota

CEO INFOBRAND.ID, Susilowati Ningsih, menegaskan bahwa Brand Indonesia Excellence Award – ajang apresiasi yang lahir dari hasil riset digital tersebut – dirancang bukan sebagai perayaan pencapaian semata, melainkan sebagai cermin yang membantu brand melihat di mana mereka benar-benar berdiri.

“Brand Indonesia Excellence Award merupakan bentuk apresiasi atas keberhasilan brand Indonesia dalam membangun kepercayaan konsumen di era digital. Kami berharap penghargaan ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat dalam memilih produk nasional yang berkualitas, sekaligus memotivasi perusahaan untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saingnya,” ujar Susilowati.

Ia juga menekankan bahwa di tengah persaingan yang kian intens, kreativitas dalam memanfaatkan seluruh instrumen ekosistem digital dari KOL, jaringan afiliator, hingga live shopping – bukan lagi pilihan taktis semata, melainkan keharusan strategis yang menentukan apakah sebuah brand akan bertahan atau terlupakan.

Di balik semua strategi dan data, ada satu kebenaran yang tidak berubah meski platform terus berganti dan algoritma terus diperbarui: konsumen selalu bisa merasakan mana brand yang hadir karena benar-benar peduli, dan mana yang hadir semata karena ingin menjual.

Digital marketing yang paling kuat bukan yang paling mahal. Ia adalah yang paling konsisten – dalam kualitas, dalam komunikasi, dan dalam kejujuran. Karena pada akhirnya, kejayaan sebuah brand lokal tidak diukur dari seberapa viral kampanyenya, melainkan dari seberapa dalam ia berhasil menempatkan dirinya dalam kepercayaan konsumennya.

Dan kepercayaan itu, tidak ada algoritma yang bisa membelinya.

Playlist Saya