Nuanu dan Upaya Membuka Ruang bagi Perspektif Perempuan

Di Nuanu, seni bukan dipajang - ia dipercakapkan. Ketika perempuan mengambil ruang sebagai penggerak ekosistem kreatif, yang lahir bukan sekadar pameran. Yang lahir adalah dialog.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Nuanu dan Upaya Membuka Ruang bagi Perspektif Perempuan
Sarita Ibnoe saat memandu workshop di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. Kredit Foto: Nuanu Creative City/Istimewa

Tuturbangsa.com – Sore itu, cahaya jatuh perlahan di sela-sela instalasi seni di Labyrinth Art Gallery. Beberapa orang duduk melingkar, sebagian lainnya berdiri sambil memandangi sehelai kain yang terbentang di dinding. Di tengah ruang, Sarita Ibnoe menjelaskan bagaimana seutas benang bisa menyimpan ingatan, luka, sekaligus harapan.

Tak ada batas tegas antara siapa seniman dan siapa penonton. Seseorang bertanya, yang lain menimpali dengan pengalaman pribadi. Percakapan mengalir ringan, namun menyimpan kedalaman tentang proses, tentang kehilangan, tentang bagaimana seni bisa menjadi cara memahami dunia. Momen seperti ini bukan pengecualian, melainkan bagian dari keseharian di Nuanu Creative City.

Ekosistem Seni dan Komunitas

Di tengah geliat industri kreatif yang kerap berfokus pada hasil akhir, Nuanu justru menempatkan proses dan pertemuan sebagai inti. Ia bukan sekadar kawasan dengan bangunan artistik atau galeri yang estetis, melainkan sebuah ekosistem yang hidup tempat di mana seni, komunitas, dan percakapan saling bertaut.

Melalui berbagai platform yang dimilikinya, termasuk Labyrinth Art Gallery, Nuanu membuka ruang bagi para kreator untuk tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan publik. Workshop, diskusi, hingga pameran dirancang sebagai ruang bersama, tempat gagasan diuji, dipertukarkan, dan dipahami dari berbagai sudut pandang.

Pendekatan ini lahir dari satu kesadaran penting: bahwa seni tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berada dalam konteks sosial, dipengaruhi oleh pengalaman hidup, dan memiliki potensi untuk membentuk cara kita melihat dunia. Karena itu, ruang kreatif di Nuanu tidak hanya menjadi tempat presentasi, tetapi juga ruang dialog dan transfer pengetahuan.

“Dalam ekosistem kreatif, perempuan membawa perspektif yang sangat penting bukan hanya melalui karya yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan cara mereka membaca dunia,” ujar Ida Ayu Astari Prada.

“Di Nuanu, kami ingin memastikan bahwa ruang kreatif dapat menjadi platform yang terbuka bagi berbagai suara. Ketika seniman memiliki ruang untuk mengekspresikan gagasan sekaligus berbagi pengetahuan dengan audiens, ekosistem kreatif yang terbentuk menjadi jauh lebih hidup dan relevan.”

Inklusivitas Semburat Bali

Komitmen terhadap inklusivitas ini terlihat jelas dalam pameran Semburat Bali, yang menghadirkan karya dari Wicitra Pradnyaratih dan Sarita Ibnoe. Melalui pendekatan artistik yang berbeda, keduanya menghadirkan refleksi tentang pengalaman personal, lingkungan, serta cara perempuan merespons dunia di sekitarnya.

Nuanu dan Upaya Membuka Ruang bagi Perspektif Perempuan_Tuturbangsa.com
Wicitra Pradnyaratih/Istimewa

Wicitra, dengan latar belakang desain grafis, membangun apa yang ia sebut sebagai feminine landscape sebuah lanskap visual yang organik dan emosional. Dalam karyanya, bunga tidak lagi menjadi simbol kelembutan yang pasif, melainkan representasi kekuatan yang tumbuh perlahan namun pasti. Melalui karya seperti Tideglow dan Midnight Bloom, ia mengeksplorasi hubungan antara waktu, alam, dan daya hidup yang sering hadir dalam bentuk yang sunyi.

“Persoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun,” ujarnya.

Ia juga melihat pentingnya ruang kreatif sebagai jembatan untuk membuka akses tersebut. “Keberadaan platform yang memberi ruang bagi seniman untuk menampilkan karya dan berdialog dengan publik sangat penting. Harapannya, ruang-ruang kreatif seperti ini bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak seniman dari berbagai latar belakang.” tambah Wicitra.

Sementara itu, Sarita menghadirkan pendekatan yang berakar pada tekstil. Baginya, menenun bukan sekadar teknik, tetapi cara merangkai pengalaman hidup menjadi narasi. Karyanya dalam pameran ini, termasuk Resistance, merefleksikan perjalanan personal sekaligus respons terhadap berbagai peristiwa sosial.

Terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi di Jakarta, Resistance tidak menggambarkan kekerasan secara eksplisit. Sebaliknya, ia menghadirkan warna hijau dan merah muda sebagai simbol solidaritas dan kekuatan kolektif sebuah pengingat bahwa dalam krisis, kebersamaan bisa menjadi sumber daya yang paling kuat.

“Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,” jelasnya.

Ruang Percakapan Antarseniman

Ia juga menekankan pentingnya ruang yang memungkinkan koneksi antarseniman. “Ruang seperti ini penting untuk membangun komunitas di antara seniman, untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Ketika kita saling terhubung, ekosistem kreatif bisa berkembang dengan lebih sehat.” tutup Sarita.

Apa yang terjadi di Nuanu memperlihatkan sebuah fenomena yang lebih luas: pergeseran cara kita memahami seni dan komunitas. Seni tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang eksklusif, melainkan sebagai medium yang terbuka yang mengundang partisipasi, memicu percakapan, dan menciptakan keterhubungan.

“Galeri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan,” ujar Samuel David. “Kami ingin memastikan bahwa platform seperti Labyrinth dapat menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberikan ruang bagi perspektif yang beragam termasuk suara dan pengalaman perempuan dalam praktik seni.”

Dalam konteks ini, komunitas menjadi elemen kunci. Ia bukan hanya kumpulan individu, tetapi jaringan relasi yang memungkinkan pertukaran ide dan pengalaman. Ketika ruang dibuka untuk berbagai perspektif, yang terbentuk bukan hanya keberagaman, tetapi juga kedalaman dalam cara kita memahami realitas.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan sering kali terfragmentasi, praktik seperti ini menawarkan alternatif: ruang untuk berhenti, mendengar, dan terhubung. Bukan hanya dengan karya, tetapi juga dengan orang-orang di sekitarnya.

Pada akhirnya, Nuanu mengajarkan satu hal sederhana namun penting: bahwa ruang yang baik bukanlah ruang yang paling megah, melainkan ruang yang paling terbuka. Ruang yang memberi tempat bagi berbagai suara, dan memungkinkan setiap orang untuk tidak hanya hadir, tetapi juga didengar.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya pada cara ia menghidupkan bukan hanya karya, tetapi juga manusia yang ada di dalamnya.

Playlist Saya