DERNOMICS Bangkitkan Kedaulatan Ekonomi Rakyat Indonesia

Melalui BUMDER berbentuk Koperasi Rakyat Modern, DERNOMICS membuktikan bahwa nilai budaya Indonesia tidak bertentangan dengan efisiensi industri - keduanya justru bisa berjalan beriringan.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
DERNOMICS Bangkitkan Kedaulatan Ekonomi Rakyat Indonesia
Ilustrasi AI

DERNOMICS bukan sekadar konsep ekonomi alternatif – ia adalah tawaran kedaulatan. Di tengah dunia yang tidak stabil, satu-satunya keamanan sejati adalah kemampuan bangsa untuk menghidupi dirinya sendiri.

Tuturbangsa.com – Bayangkan seorang pedagang bumbu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang membuka kiosnya pagi-pagi buta seperti biasa namun mendapati harga minyak goreng dan bawang melonjak hampir dua kali lipat dalam sepekan. Ia tak tahu menahu soal rudal yang melintas di langit Timur Tengah, tak paham tentang Selat Hormuz atau sanksi geopolitik.

Yang ia tahu hanya satu hal: dagangannya makin susah laku, dan biaya hidupnya makin berat. Inilah wajah nyata dari krisis global – ia tidak berhenti di meja perundingan para diplomat, melainkan meresap hingga ke sudut-sudut pasar tradisional, dapur rumah tangga, dan lapak-lapak kecil di seluruh Nusantara.

Api di Timur Tengah, Asapnya Sampai ke Jakarta

Konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang kembali memanas sejak awal 2026 bukan sekadar tragedi kemanusiaan di kawasan yang jauh. Ia adalah pemantik krisis ekonomi global yang dampaknya merambat cepat dan tak pandang batas negara. Jalur Selat Hormuz salah satu arteri terpenting distribusi minyak dunia menjadi zona rawan yang memaksa kapal-kapal tanker memutar rute, menaikkan biaya logistik secara dramatis.

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam, dan efek dominonya terasa hampir di semua lini kehidupan: biaya transportasi naik, ongkos produksi pupuk meningkat, harga pangan bergolak. Bagi negara-negara yang ekonominya masih sangat bergantung pada impor energi dan pangan, situasi ini bukan sekadar tekanan ia adalah alarm bahaya yang seharusnya sudah dibunyikan jauh-jauh hari.

Indonesia, dengan segala potensi alamnya yang luar biasa, ternyata belum sepenuhnya kebal dari guncangan ini. Ketergantungan pada rantai pasokan global yang rapuh menjadi titik lemah yang sulit disembunyikan saat dunia sedang tidak baik-baik saja.

Bukan Sekadar Krisis Ekonomi – Ini Krisis Jati Diri

Di balik angka-angka inflasi dan grafik harga minyak yang menanjak, sesungguhnya ada pertanyaan yang jauh lebih fundamental: seberapa mandiri kita sebagai bangsa?

A. Edi Wahyudi Y, Ketua Umum Dewan Ekonomi Rakyat (DER), membingkai momen ini bukan sebagai musibah semata, melainkan sebagai cermin. “Krisis global akibat konflik geopolitik dunia harus menjadi pelajaran penting bahwa bangsa Indonesia tidak boleh bergantung pada sistem ekonomi global semata. Indonesia harus membangun kekuatan ekonominya sendiri melalui sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan rakyat,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan retorika kosong. Ia menampar sebuah realitas yang kerap kita hindari: bahwa selama ini pembangunan ekonomi nasional terlalu berorientasi ke luar mengejar investasi asing, mengikuti pasar global, dan mendefinisikan kemajuan dengan tolok ukur yang bukan milik kita sendiri. Ketika rantai itu putus oleh pandemi, oleh perang, oleh krisis geopolitik kita kelabakan mencari pijakan.
Krisis ini, dengan demikian, bukan hanya soal ekonomi. Ia adalah krisis jati diri ekonomi bangsa.

DERNOMICS: Menawarkan Jalan Pulang

Merespons situasi tersebut, Dewan Ekonomi Rakyat (DER) memperkenalkan DERNOMICS sebuah kerangka sistem ekonomi yang menempatkan rakyat bukan sekadar sebagai konsumen, melainkan sebagai pemilik, produsen, dan penggerak utama roda perekonomian nasional.

Gagasan ini bertumpu pada integrasi antara kekuatan negara, kapital, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menopang. Lewat pembangunan Industri Rakyat Terpadu, DERNOMICS menyasar sektor-sektor yang paling strategis dan paling rentan terhadap guncangan eksternal: pangan, energi, manufaktur berbasis sumber daya lokal, serta logistik nasional.

Instrumen utama pelaksanaannya adalah BUMDER – Badan Usaha Milik Dewan Ekonomi Rakyat yang berbadan hukum Koperasi Rakyat Modern. Model ini dirancang untuk memadukan logika kapital dengan semangat kepemilikan kolektif: sebuah perkawinan antara efisiensi industri modern dan nilai-nilai gotong royong yang sejatinya sudah lama mengakar dalam budaya Indonesia.

Untuk mewujudkan transformasi ini, DER menyiapkan program investasi rakyat tahap pertama senilai Rp 2.178 triliun, yang akan dialirkan ke sektor-sektor prioritas: industri pangan, energi rakyat, infrastruktur ekonomi, kawasan industri, dan sistem logistik nasional. Angka yang besar namun sekaligus mencerminkan betapa seriusnya kebutuhan untuk membangun fondasi ekonomi yang tidak mudah runtuh hanya karena angin geopolitik bertiup kencang di belahan dunia lain.

Sudahkah Kita Berani Berdiri?

Setiap krisis selalu meninggalkan dua pilihan: kita bisa menunggu badai berlalu sambil berharap dunia kembali normal, atau kita bisa menggunakannya sebagai momentum untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh.

Konflik Iran–Israel mengingatkan kita bahwa stabilitas dunia adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah seberapa siap kita menghadapinya. Dan kesiapan itu tidak datang dari sekadar menumpuk cadangan devisa atau menegosiasikan perjanjian dagang ia lahir dari kemampuan bangsa untuk menghidupi dirinya sendiri: dari benih yang ditanam di tanah sendiri, dari energi yang diproduksi dengan tangan sendiri, dari sistem ekonomi yang berakar pada kekuatan rakyatnya sendiri.

Pedagang bumbu di Pasar Minggu itu tidak butuh penjelasan panjang soal geopolitik. Ia hanya butuh kepastian bahwa ketika dunia berguncang, ada sistem di dalam negeri yang cukup kuat untuk menyangganya. Membangun sistem itulah perlahan, tekun, dan dengan keberpihakan yang jelas pada rakyat yang menjadi tugas besar kita bersama hari ini.

Dewan Ekonomi Rakyat terbuka untuk kolaborasi seluruh elemen bangsa pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan Masyarakat dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi nasional.

Playlist Saya