Kenali Dampak Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau bagi Kesehatan, Terutama untuk Anak

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Dyah Wardani
Dyah Wardani Terverifikasi
Editor
Pencinta kata dan cerita, selalu mencari cara baru untuk berbagi inspirasi.
Diterbitkan 7 September 2026, 09:29 WIB
Kenali Dampak Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau bagi Kesehatan, Terutama untuk Anak
Ketika abu vulkanik berada di lingkungan sekitar, mengurangi aktivitas di luar rumah menjadi salah satu langkah penting. (Ilustrasi Tuturbangsa.com)

TuturBangsa.com – Sejak Minggu, 6 September 2026, media online dan media sosial diramaikan dengan berbagai unggahan terkait abu vulkanik[1] yang disebabkan oleh kondisi erupsi anak Gunung Krakatau. Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak, persoalannya bukan hanya tentang udara dan langit yang tampak kelabu atau lapisan abu yang menempel di kendaraan serta teras rumah. Ada risiko kesehatan yang perlu dipahami, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit pernapasan dan anak-anak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG[2]) melaporkan pada 6 September 2026 bahwa hasil pemantauan menemukan dua klaster sebaran abu vulkanik. Material pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan Samudra Hindia.

Menurut Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, “Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).

Jarak sebaran tersebut menunjukkan satu hal penting: abu vulkanik bukan persoalan yang hanya perlu diperhatikan oleh masyarakat yang tinggal dekat gunung.

Apa Itu Abu Vulkanik dan Mengapa Berbahaya bagi Kesehatan?

Abu vulkanik kerap disebut seperti debu karena bentuknya yang menyerupai partikel debu. Namun, material penyusunnya berbeda.

Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, “Abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi.”

Partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Dampaknya bisa berupa batuk dan iritasi tenggorokan hingga gangguan yang menyerupai bronkitis.

“Karena abu vulkanik ini terhisap masuk ke paru dan saluran napas maka secara langsung akan dapat menyebabkan keluhan batuk, iritasi tenggorok, gangguan seperti bronkitis (“bronchitis-like illnesses“) dan juga perburukan pada mereka yang punya penyakit paru kronik seperti asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK),” ujar Prof. Tjandra.

Artinya, orang dengan kondisi paru yang sudah sensitif perlu memberi perhatian lebih terhadap kualitas udara ketika abu vulkanik mulai berada di lingkungan sekitar.

Pada paparan yang sangat berat, risikonya bahkan dapat lebih serius. “Pada keadaan ekstrem dimana kadar abu yang terhisap sangat banyak sekali -utamanya pada mereka yang berada amat dekat dengan lokasi letusan- maka dapat saja terjadi keadaan asfiksia yang terasa seperti tercekik.”

Karena itu, melindungi diri dari abu vulkanik bukan sekadar persoalan merasa tidak nyaman akibat udara berdebu. Yang sedang dijaga adalah saluran pernapasan.

Bagaimana Melindungi Diri dari Paparan Abu Vulkanik?

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi paparan. Dokter spesialis paru Prof. Erlina Burhan mengingatkan bahwa pilihan masker perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Pada paparan yang relatif ringan, masker medis dapat digunakan. Namun, ketika konsentrasi abu sangat tinggi hingga udara terlihat berkabut tebal, penggunaan masker dengan tingkat filtrasi lebih tinggi seperti N95 menjadi penting pada kondisi tertentu.

“Kalau masker itu untuk mencegah debu terhirup. Kalau masih enggak terlalu banyak debunya, bisa pakai masker biasa, masker medis. Tapi kalau abunya sampai berkabut tebal, mungkin di daerah yang terdampak atau yang dekat banget, untuk kondisi tertentu kita harus pakai N95,” ujar Erlina.

Ada pula hal kecil yang sering luput ketika masyarakat mulai membersihkan abu. Erlina menyarankan agar individu mengganti masker yang sudah kotor terkena debu. “Masker lamanya sebaiknya dibasahi dulu sebelum dibuang, supaya abunya tidak beterbangan lagi,” tulis Erlina pada Instagram pribadinya, Minggu (6/9).

Sedangkan ketika membersihkan rumah yang terpapar abu vulkanik akibat erupsi anak Gunung Krakatau[3], Erlina menganjurkan untuk lebih dulu menyiram teras atau pekarangan dengan air sebelum disapu.

“Menyaou abu yang masih kering hanya akan menerbangkannya kembali ke udara yang kita hirup.”

Demikian pula ketika hendak membersihkan bagian dalam rumah yang sekira ikut terpapar abu vulkanik. “Kaca jendela, kusen, dan daun pintu sebaiknya dibasahi lebih dahulu, baru dilap. Hindari kemoceng dan sapu kering, karena keduanya hanya memindahkan abu dari permukaan ke Udara yang kita hirup.”

Dengan kata lain, upaya membersihkan abu juga perlu dilakukan dengan cara yang tidak menciptakan paparan baru.

Mengapa Anak Lebih Rentan terhadap Abu Vulkanik?

Anak memiliki kebutuhan perlindungan yang tidak selalu sama dengan orang dewasa. Materi edukasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai anak dan bencana erupsi gunung berapi menekankan pentingnya perhatian khusus terhadap paparan abu vulkanik. Anak dengan asma, misalnya, dapat mengalami kekambuhan atau perburukan gejala ketika terpapar partikel di udara.

Karena itu, ketika abu vulkanik berada di lingkungan sekitar, mengurangi aktivitas di luar rumah menjadi salah satu langkah penting. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu, sementara kegiatan anak dapat dialihkan ke dalam ruangan.

Persoalan perlindungan anak juga tidak berhenti pada masker. Bayi dan balita membutuhkan perhatian berbeda karena penggunaan respirator seperti N95 tidak dapat disamakan dengan penggunaannya pada anak yang lebih besar. Untuk kelompok usia sangat kecil, mengurangi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan menjadi bagian penting dari perlindungan.

Yang juga sering terlupakan adalah kondisi psikologis anak.

Melindungi Anak Juga Berarti Mengedukasi Cara Mengelola Rasa Takut

Bencana alam hadir bukan hanya melalui perubahan lingkungan, tetapi juga melalui informasi yang beredar tanpa henti. Video letusan, gambar abu yang pekat, kabar mengenai bandara yang ditutup, hingga berbagai pesan berantai dapat membuat anak merasa bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di sekeliling mereka.

Karena itu, IDAI juga menekankan pentingnya komunikasi sesuai usia. Anak usia prasekolah tidak membutuhkan penjelasan teknis mengenai aktivitas vulkanologi. Mereka membutuhkan penjelasan sederhana mengenai mengapa untuk sementara waktu harus bermain di dalam rumah.

Anak usia sekolah dapat mulai memahami apa itu abu vulkanik dan mengapa jendela perlu ditutup. Sementara remaja dapat dilibatkan dalam persiapan kebutuhan keluarga ketika terjadi keadaan darurat.

Selain itu, anak juga perlu diberi ruang untuk mengakui rasa takutnya. Membuat anak merasa aman bukan berarti menyembunyikan kenyataan. Justru dengan informasi yang sesuai usia, orang tua membantu anak memahami situasi tanpa menambah kecemasan.

Kapan Paparan Abu Vulkanik Perlu Diperiksakan?

Sebagian keluhan akibat paparan abu vulkanik mungkin berupa iritasi ringan. Namun, ketika muncul gangguan pernapasan atau keluhan yang memburuk, kondisi tersebut tidak sebaiknya diabaikan.

Prof. Tjandra mengingatkan, “Secara umum tentu mereka yang kini ada keluhan kesehatan maka segeralah konsultasi ke fasilitas kesehatan yang ada.”

Pesan ini ditujukan terutama bagi orang yang memiliki asma atau PPOK, perubahan gejala pernapasan perlu diperhatikan lebih serius.

Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak. Kesulitan bernapas, batuk yang menetap atau memburuk, tampak sangat lemas, atau perubahan kondisi yang tidak biasa merupakan alasan untuk mencari pertolongan medis.

Waspada Tanpa Menambah Kepanikan

Erupsi Gunung Anak Krakatau juga memperlihatkan bagaimana satu fenomena alam dapat berdampak pada berbagai sektor sekaligus. BMKG tidak hanya memantau sebaran abu di atmosfer, tetapi juga keselamatan penerbangan dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Pada pemantauan yang disampaikan 6 September, BMKG melaporkan tidak menemukan anomali muka air laut pada sensor tsunami yang dipantau dan analisis radar menunjukkan probabilitas tsunami yang rendah pada saat pengamatan tersebut.

Di sektor penerbangan, sebaran abu hingga ketinggian puluhan ribu kaki juga membuat informasi meteorologi menjadi bagian penting dalam menentukan keselamatan penerbangan. BMKG telah menerbitkan SIGMET secara berkala sejak erupsi awal dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait.

Semua informasi tersebut sepatutnya membawa kita pada sikap yang sama: waspada, tetapi tidak panik.

Mengikuti informasi dari BMKG, Badan Geologi atau PVMBG, pemerintah daerah, dan kanal resmi lainnya jauh lebih penting daripada meneruskan kabar yang belum jelas sumbernya.

Persebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengajarkan bahwa memahami bencana alam tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa sebuah gunung sedang erupsi. Kita perlu memahami bagaimana materialnya bergerak, bagaimana tubuh meresponsnya, siapa yang paling rentan, bagaimana mengurangi paparan, dan kapan sebuah keluhan kesehatan membutuhkan pertolongan.

Prof. Tjandra menutup pesannya dengan pengingat yang sederhana, “Marilah tetap kita jaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga dengan baik.”

Sebab dalam menghadapi bencana, informasi yang benar baru benar-benar berguna ketika mampu membantu seseorang mengambil keputusan yang tepat.

Playlist Saya