Bifidobacterium Bifidum, Pahlawan Kecil yang Setia Menjaga Kesehatan Kita
Di antara triliunan mikrobiota yang menghuni usus kita, ada satu yang paling pertama hadir dan paling dihormati - Bifidobacterium Bifidum
Tuturbangsa.id, Jakarta – Dari sekian miliar bakteri yang menghuni usus manusia, ada satu yang hadir paling pertama, bekerja paling fundamental, dan dihormati oleh seluruh koloni mikrobiota lainnya. Namanya Bifidobacterium bifidum. Kini saatnya kita berkenalan lebih dekat.
Sebagian besar dari kita mengenal probiotik sebatas nama yang tercetak di label kemasan yogurt atau suplemen kesehatan. Jika ditanya lebih jauh bakteri apa yang dimaksud, apa perannya, dan mengapa kita membutuhkannya – jawaban yang muncul sering kali hanya satu nama: Lactobacillus.
Padahal, di balik popularitas Lactobacillus, ada sosok yang jauh lebih tua, lebih mendasar, dan lebih berpengaruh dalam ekosistem usus kita. Sosok yang kehadirannya sudah terdeteksi bahkan sejak detik-detik pertama seorang manusia lahir ke dunia.
Tamu Pertama yang Datang di Hari Pertama Kehidupan
Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, ahli gizi yang telah lama mendalami ilmu mikrobiota, mengungkap fakta yang mengagumkan sekaligus mengharukan tentang bakteri ini.
“Bifidobacterium bifidum adalah bakteri pertama kali yang terdeteksi pada usus bayi. Tidak ada yang lain, cuma dia dulu. Dan dia yang mendidik mikrobiota berikutnya,” ujar Rita.
Bayangkan: seorang bayi yang baru saja meninggalkan rahim ibunya, memasuki dunia yang penuh dengan paparan bakteri, virus, dan berbagai ancaman lingkungan. Tubuh mungilnya belum memiliki sistem pertahanan yang matang. Di sinilah Bifidobacterium bifidum mengambil peran pertamanya – hadir lebih awal dari siapa pun, membangun fondasi imunitas, dan menjadi pemandu bagi seluruh koloni mikrobiota yang akan datang setelahnya.
Ada tiga pintu masuk utama yang memungkinkan bayi mendapatkan bakteri berharga ini: proses persalinan normal yang membuka kontak pertama dengan saluran lahir ibu, inisiasi menyusu dini, dan pemberian ASI eksklusif. Ketiga momen ini bukan sekadar ritual biologis biasa – melainkan proses transfer warisan kesehatan yang luar biasa dari ibu kepada anaknya.
“70-80% imunitas manusia itu berada di saluran cerna. Sementara bayi yang semula dilindungi oleh imunitas ibunya, sekarang harus berdiri sendiri di dunia. Dan di situlah keberadaan mikrobiota itu – untuk sistem imunitas,” jelas Rita.
Mengapa Ia Disebut “Suhu” di Antara Para Bakteri?
Dalam ekosistem mikrobiota usus yang dihuni oleh ratusan hingga ribuan spesies bakteri berbeda, Bifidobacterium bifidum tidak sekadar menjadi salah satu anggota. Ia adalah pemimpin – sosok yang oleh Rita disebut layak menyandang gelar “suhu” di antara rekan-rekannya.
Pertama, karena kemampuan perlekatannya yang luar biasa pada dinding usus. Tidak semua bakteri bisa bertahan dan menetap dengan baik di lapisan usus. Bifidobacterium bifidum melakukannya dengan sangat efektif – dan dari posisi itulah ia bekerja.
“Bagaimana caranya mikrobiota melindungi usus kita? Adalah dengan perlekatan pada dinding usus. Yang paling gampang melekat dengan baik adalah Bifidobacterium bifidum,” papar Rita.
Dari posisi melekat itulah ia mengatur lalu lintas penyerapan nutrisi secara presisi. Ketika tubuh kekurangan protein, ia meningkatkan penyerapannya. Ketika kadar gula darah sudah tinggi lalu seseorang mengonsumsi makanan manis lagi, ia memperlambat – bahkan membatasi – penyerapannya. Ia seperti penjaga gerbang yang cerdas, yang tahu persis apa yang dibutuhkan dan apa yang harus dibatasi.
Kedua, dan ini yang menjadikannya benar-benar istimewa: kemampuan komunikasinya.
“Kemampuan komunikasi Bifidobacterium bifidum itu luar biasa. Yang lain malah belajar dari dia – cara komunikasi dengan otak, dengan ginjal, dengan seluruh organ kita,” ungkap Rita dengan nada kagum.
Dalam mekanisme gut-brain axis sistem komunikasi dua arah antara usus dan otak Bifidobacterium bifidum adalah salah satu aktor utamanya. Ia yang menyampaikan sinyal ke otak bahwa ada bahaya, bahwa ada ketidakseimbangan, bahwa tubuh membutuhkan respons tertentu. Tanpa komunikasi itu, otak pun tidak akan tahu harus berbuat apa.
Ketika Bifidobacterium Bifidum Melemah

Seperti halnya pemimpin yang bijak, Sang Suhu pun tidak kebal terhadap tekanan. Berbagai kondisi kehidupan modern secara perlahan menggerus populasinya tanpa kita sadari.
Konsumsi antibiotik adalah salah satu yang paling signifikan. Antibiotik bekerja tanpa pandang bulu – ia membunuh bakteri jahat sekaligus bakteri baik, termasuk Bifidobacterium bifidum. Rita mengingatkan bahwa setiap kali kita mengonsumsi antibiotik tanpa diimbangi asupan probiotik, kita sedang meruntuhkan benteng pertahanan tubuh yang sudah dibangun sejak hari pertama kelahiran.
Belum lagi ancaman dari stres berkepanjangan, polusi udara, pola makan yang miskin serat, hingga lingkungan hidup yang semakin jauh dari kondisi alami. Semua itu perlahan melemahkan koloni mikrobiota – dan ketika sang suhu melemah, seluruh ekosistem usus ikut terguncang.
“Kalau kita sudah banyak minum antibiotik, kemudian stres, terpapar polutan juga – jangan-jangan Bifidobacterium bifidum-nya sudah berkurang. Jadi masukin dulu dianya, nanti dia akan mengatur yang lain-lainnya,” saran Rita.
Bahkan data pemeriksaan mikrobiota pada masyarakat Indonesia menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan: hampir seluruh nilai berada di bawah angka normal. Artinya, mayoritas dari kita kemungkinan besar sudah hidup dengan koloni mikrobiota yang tidak optimal – tanpa menyadarinya.
Memulihkan Kembali Mikrobiota
Kabar baiknya, ekosistem mikrobiota bersifat responsif. Ia bisa dipulihkan. Untuk gangguan ringan, populasi bakteri bisa kembali normal dalam 3 hingga 7 hari dengan bantuan suplementasi probiotik yang tepat. Untuk gangguan yang lebih berat – seperti pada penderita diabetes tidak terkendali atau mereka yang lama mengonsumsi antibiotik – pemulihannya membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan.
Yang penting untuk dipahami: tidak ada kasus kelebihan mikrobiota yang pernah ditemukan dalam penelitian ilmiah. Tubuh kita, dalam kondisi kehidupan modern seperti saat ini, selalu membutuhkan lebih banyak bakteri baik – bukan lebih sedikit.
“Mestinya dalam kondisi lingkungan hari ini kita hidup, kita tidak hanya membutuhkan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan air – tapi salah satu yang paling penting, kita juga harus penuhi probiotik,” tegas Rita.
Menghormati Tamu yang Sudah Ada Sejak Hari Pertama
Ada sesuatu yang begitu dalam ketika kita merenungkan fakta ini: bakteri yang pertama kali hadir dalam tubuh kita adalah Bifidobacterium bifidum – bukan saudara, bukan orang tua, bukan dokter. Ia sudah ada bahkan sebelum kita mengenal dunia.
Selama bertahun-tahun ia bekerja tanpa pernah kita sadari. Menjaga usus, mengatur metabolisme, melindungi otak, membangun imunitas. Kini, ketika ilmu pengetahuan akhirnya menyingkap perannya yang luar biasa, mungkin sudah saatnya kita mulai memberikan perhatian yang selayaknya.
Karena merawat Bifidobacterium bifidum bukan sekadar soal menjaga pencernaan. Ini soal menjaga fondasi kesehatan yang paling mendasar yang sudah bekerja untuk kita sejak hari pertama kita hadir di dunia.