WFH, Coworking Space, dan Ingatan yang Nyaris Terlupakan
Menelusuri makna kerja di balik kebijakan WFH ASN, coworking space, dan filosofi laku para leluhur Nusantara: dari empu keris hingga psychological safety.
Tuturbangsa.com, Jakarta – Aturan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) efektif diterapkan pada Jumat, 10 April 2026. Kebijakan berdasarkan SE Menteri PANRB Nomor 3 Tahun 2026[1] ini lahir dari kebutuhan praktis, efisiensi energi di tengah situasi global yang tidak menentu. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, apa yang terlihat sederhana di permukaan sering kali menyimpan pertanyaan yang jauh lebih dalam.
Apakah bekerja dari rumah hanya soal lokasi? Atau sebenarnya kita sedang secara diam-diam mengubah cara kita memahami kerja itu sendiri?
Di saat yang hampir bersamaan, ribuan coworking space tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Dari Jakarta hingga Bali, ruang-ruang kerja alternatif ini menawarkan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diberikan oleh kantor, dan juga tidak ditemukan di rumah.
Kedua fenomena ini–WFH dan coworking space–sering dibaca sebagai tren. Padahal, jika kita mundur sedikit, keduanya mungkin adalah gejala dari pertanyaan yang jauh lebih tua: di mana, dan dalam kondisi seperti apa, manusia bisa bekerja dengan paling bermakna?
Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya tidak dimulai di Silicon Valley[2]. Ia sudah ada jauh sebelum itu—di ruang-ruang sunyi tempat lontar disalin, di bengkel empu yang penuh bara api, dan di kebun-kebun tempat ramuan diracik dengan sabar.
Para penyalin lontar di Bali, berabad-abad lalu, tidak sekadar menyalin teks. Mereka menjaga pengetahuan. Prosesnya panjang: memilih daun tal, merebusnya, menjemurnya, menyiapkan alat, hingga akhirnya menorehkan aksara satu per satu dengan penuh kehati-hatian. Ini bukan pekerjaan cepat. Ini adalah praktik yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan—yang sering kita lupakan hari ini—keterhubungan batin dengan apa yang dikerjakan.
Begitu juga dengan empu keris. Menempa bilah logam bukan sekadar teknik, melainkan proses yang melibatkan disiplin diri, laku spiritual, dan kesadaran penuh. Dalam tradisi keris Jawa, ada ungkapan yang terasa sederhana namun dalam: yang sakti bukan kerisnya, melainkan empunya—lantaran hatinya dekat dengan sang pencipta. Hasilnya bukan hanya benda, tetapi juga makna.
Lalu ada para peramu jamu—tabib yang memahami tubuh manusia melalui pengalaman yang diwariskan lintas generasi. Pengetahuan mereka tidak selalu tertulis, tetapi hidup dalam praktik.
Ketiga tradisi ini berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: kerja tidak dipisahkan dari kondisi batin. Apa yang dihasilkan seseorang sangat bergantung pada bagaimana ia hadir dalam pekerjaannya. Ini adalah sesuatu yang, perlahan tapi pasti, mulai hilang ketika dunia memasuki era industri.
Memasuki abad ke-20, cara manusia bekerja berubah drastis. Frederick Winslow Taylor[3] memperkenalkan gagasan, kerja bisa diukur, dipecah, dan dioptimalkan seperti mesin. Efisiensi menjadi kata kunci. Manusia diposisikan sebagai bagian dari mekanisme—sesuatu yang bisa distandarisasi.
Di sinilah jarak antara dua dunia itu terasa paling nyata: seorang empu menilai kualitas kerjanya dari kondisi batinnya, sementara Taylor menilainya dari stopwatch. Yang satu bertanya “apakah saya hadir sepenuhnya?” Yang lain bertanya “berapa unit yang dihasilkan per jam?”
Model Taylor memang membawa kemajuan. Produktivitas meningkat, proses menjadi lebih cepat. Namun ada harga yang dibayar: kerja menjadi semakin terpisah dari makna. Berbagai eksperimen pun dilakukan—kantor terbuka untuk kolaborasi, kubikel untuk privasi—namun setiap pendekatan membawa masalah baru. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa kantor terbuka justru dapat mengurangi interaksi tatap muka. Alih-alih mendekatkan, ia kadang menciptakan jarak yang berbeda.
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa masalahnya bukan pada bentuk ruang, tetapi pada sesuatu yang lebih mendasar.
Rasa Aman yang Tak Terlihat

Salah satu konsep penting dalam memahami kerja modern adalah psychological safety[4]—dikembangkan oleh Amy C Edmondson dari Harvard Business School.
Sederhananya: ini adalah kondisi di mana seseorang merasa aman untuk berbicara, bertanya, bahkan melakukan kesalahan tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Edmondson menemukan bahwa tim yang paling efektif bukanlah tim yang paling sedikit melakukan kesalahan, tetapi tim yang paling terbuka dalam mengakuinya. Di sana, kepercayaan menjadi fondasi utama.
Tanpa rasa aman ini, kerja berubah menjadi aktivitas yang penuh kehati-hatian berlebihan. Orang memilih diam, menghindari risiko, dan bekerja sekadar untuk memenuhi standar minimum. Fenomena quiet quitting—bekerja tanpa keterlibatan emosional—adalah gejala dari kondisi ini.
Menariknya, jika kita kembali ke tradisi Nusantara, konsep ini sebenarnya tidak asing. Hubungan antara empu dan murid dibangun di atas kepercayaan. Murid diberi ruang untuk belajar, mencoba, dan bahkan gagal—tanpa takut dipermalukan di depan orang banyak. Artinya, apa yang kini kita pelajari melalui riset modern, sebagian sudah pernah menjadi praktik hidup di masa lalu.
Indonesia dan Dilema Budaya Kerja

Dalam konteks Indonesia, persoalan ini menjadi lebih berlapis. Kita memiliki budaya yang kaya, tetapi juga membawa tantangan tersendiri.
Banyak dari kita tumbuh dengan nilai ewuh pakewuh[5]—rasa sungkan yang dalam terhadap atasan atau yang lebih tua. Nilai ini sesungguhnya lahir dari niat baik: menjaga harmoni, menghormati pengalaman. Namun di ruang kerja, ia sering berubah menjadi sesuatu yang lain. Bawahan yang sebenarnya punya ide lebih baik memilih diam. Masalah yang seharusnya disampaikan sejak awal, baru terungkap ketika sudah terlambat. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena takut dianggap tidak tahu tempat.
Dan inilah yang menjadikan coworking space menarik secara psikologis—terutama bagi banyak pekerja muda Indonesia. Di luar kantor dengan hierarki formalnya, ada kemungkinan untuk berbicara lebih bebas, bergaul lebih setara, dan mencoba hal baru tanpa beban tatapan atasan. Bukan pelarian, tetapi pencarian ruang untuk bernafas.
Sosiolog Ray Oldenburg menyebut konsep third place—ruang ketiga di luar rumah (tempat pertama) dan kantor (tempat kedua). Ini adalah ruang netral, di mana orang bisa bertemu tanpa tekanan formal, tanpa hierarki yang kaku, tetapi dengan energi kolektif yang terasa.
Coworking space modern mencoba mengisi kebutuhan ini. Ia memberi fleksibilitas, tetapi juga menghadirkan komunitas. Seseorang bisa bekerja sendiri, tetapi tidak merasa sendirian.
Menariknya, konsep ini sebenarnya tidak asing di Indonesia. Warung kopi, gardu ronda, hingga pendopo desa sudah lama menjadi ruang ketiga—tempat orang berkumpul, berdiskusi, dan membangun relasi tanpa formalitas. Dengan kata lain, coworking space bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Ia adalah bentuk modern dari kebutuhan yang sudah lama ada—hanya kini dilengkapi WiFi berkecepatan tinggi.
WFH: Kebebasan atau Ilusi?

Kembali ke WFH, kebijakan ini sering dipandang sebagai simbol fleksibilitas. Kita bisa bekerja dari rumah, mengatur waktu lebih bebas, menghindari perjalanan panjang.
Namun fleksibilitas juga membawa tantangan. Batas antara kerja dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Tanpa pengelolaan yang baik, WFH bisa berubah menjadi “kerja tanpa henti”.
Lebih dari itu, WFH menguji satu hal yang paling mendasar: kepercayaan. Apakah atasan percaya bahwa pekerjaan tetap berjalan tanpa pengawasan langsung? Apakah pekerja merasa dihargai berdasarkan hasil, bukan kehadiran?
Tanpa kepercayaan, WFH hanya memindahkan kontrol dari ruang fisik ke layar laptop. Pengawasan tetap ada, hanya bentuknya yang berubah. Namun jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi kesempatan untuk membangun budaya kerja yang lebih sehat—berbasis hasil, bukan sekadar kehadiran.
Ada satu hal kecil yang menarik dari kebijakan ini yang rasanya layak untuk dicatat: ia jatuh pada hari Jumat.
Bagi sebagian orang, Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan. Dalam banyak tradisi—Islam, Jawa, Melayu—Jumat adalah waktu untuk melambat, berefleksi, dan mengisi ulang. Ada semacam ironi yang indah di sini: kebijakan yang lahir dari kebutuhan ekonomi justru berpotensi membuka ruang untuk kebutuhan yang lebih manusiawi.
Jika dimanfaatkan dengan baik, WFH Jumat bukan hanya soal efisiensi energi—tetapi juga tentang memberi ruang bagi manusia untuk kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Menuju Cara Kerja yang Lebih Manusiawi

Di balik semua perubahan ini, ada tiga hal yang tampaknya semakin penting—dan menariknya, ketiganya bukan konsep baru:
Ruang kerja yang memberi makna, bukan sekadar tempat. Hubungan kerja yang dibangun di atas kepercayaan, bukan ketakutan. Dan ritme kerja yang menghormati kebutuhan manusia, bukan hanya tuntutan sistem.
Para penyalin lontar tahu ini. Para empu tahu ini. Para tabib tahu ini. Mereka hanya tidak menyebutnya dengan istilah-istilah yang kita gunakan hari ini.
Pada akhirnya, semua ini membawa kita kembali pada pertanyaan yang sederhana namun mendasar: di mana kita bekerja, dan mengapa itu penting?
Jawabannya mungkin berbeda untuk setiap orang. Ada yang paling produktif di kantor, ada yang menemukan ritme terbaik di rumah, ada yang membutuhkan ruang ketiga untuk merasa hidup. Tapi satu hal tampaknya universal: kerja menjadi bermakna ketika kita bisa hadir sepenuhnya di dalamnya—dengan pikiran yang fokus, tubuh yang nyaman, dan batin yang tenang.
Mungkin, di tengah semua perubahan ini, kita tidak benar-benar mencari cara kerja yang baru. Kita hanya sedang mencoba mengingat kembali sesuatu yang pernah kita miliki.
Sesuatu yang oleh para leluhur kita tidak disebut sebagai “work culture”, tetapi cukup dengan satu kata sederhana: laku.