Tradisi Tutur Nusantara dan Reinkarnasi Digital
Menjelajah jejak tradisi tutur Nusantara dari wayang kulit hingga podcast modern. Temukan benang merah oralitas primer dan sekunder dalam evolusi budaya dengar.
Tuturbangsa.com, Jakarta – Tradisi tutur merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang telah diturunkan sejak zaman nenek moyang di nusantara. Mari sedikit menjelajah ruang dan waktu melalui imaji, bayangkan suatu malam di pesisir utara Jawa, ratusan tahun lalu. Lampu minyak menyala di balik kelir putih. Gamelan mulai berdenting pelan. Dan seorang dalang — satu orang, satu suara — menghidupkan puluhan karakter berbeda, membawa ratusan penonton masuk ke dalam dunia yang sepenuhnya lahir dari kata-kata dan bunyi.
Kini bayangkan satu pagi di Jakarta hari ini. Seseorang memasang earphone, membuka aplikasi berbagi audio, dan membiarkan suara seorang podcaster — satu orang, satu suara — mengisi perjalanan komutnya selama 40 menit.
Dua gambar yang terpisah ratusan tahun. Tapi apakah keduanya sesungguhnya melakukan hal yang sama?
Ketika Pengetahuan Hidup di Dalam Suara

Jauh sebelum aksara menjadi cara utama manusia menyimpan pengetahuan, ada suara. Dalam kajian komunikasi dan sastra, tradisi ini dikenal sebagai tradisi lisanatau oral — sistem di mana pengetahuan, nilai, sejarah, dan imajinasi sebuah komunitas hidup bukan di atas kertas, melainkan di dalam ingatan, tuturan, dan pertunjukan.
Di Nusantara, tradisi lisan ini bukan fenomena pinggiran. Ia adalah tulang punggung peradaban. Seperti dicatat dalam kajian teater tradisional Indonesia (Bookchapter ISBI Bandung, 2025), tradisi lisan berfungsi sebagai repositori pengetahuan, nilai-nilai, dan identitas kolektif suatu masyarakat — bukan sekadar medium penyampai cerita, melainkan institusi budaya yang hidup. UNESCO sendiri pada 2003 menetapkan wayang kulit sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, pengakuan bahwa warisan tutur ini memiliki nilai universal yang melampaui batas kebudayaan.
Bentuknya beragam: wayang kulit dan dalangnya di Jawa, kentrung dan dalang jemblung, randai di Minangkabau, hikayat dalam tradisi Melayu, kelong dan elong di Sulawesi Selatan. Masing-masing adalah sistem transmisi pengetahuan yang canggih — mengemas filsafat, etika, sejarah, bahkan kritik sosial ke dalam narasi yang bisa dinikmati siapa saja, dari anak-anak hingga orang tua, dari petani hingga bangsawan.
Yang menyatukan semua tradisi ini adalah peran sentral penutur — sang dalang, juru hikayat, atau tukang cerita. Ia bukan sekadar pembaca naskah. Ia adalah kurator pengetahuan, penjaga memori kolektif, dan penghubung antara dunia yang diceritakan dengan dunia yang ditinggali pendengarnya.
Walter Ong dan Misteri Oralitas

Untuk memahami mengapa tradisi ini tidak pernah benar-benar mati, kita perlu berkenalan dengan seorang cendekiawan Amerika bernama Walter J. Ong. Dalam karyanya yang monumental, Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982), Ong membedakan dua jenis oralitas yang penting.
Oralitas primer adalah dunia yang sepenuhnya belum tersentuh tulisan — di mana pengetahuan hanya hidup di dalam ingatan dan tuturan, di mana tak ada catatan, hanya bunyi. Inilah dunia para dalang Nusantara sebelum lontar dan kertas menjadi umum.
Tapi Ong juga mengidentifikasi sesuatu yang lebih menarik: oralitas sekunder. Ini adalah kondisi di mana suara dan tuturan kembali menjadi medium utama komunikasi — bukan karena belum ada tulisan, melainkan justru karena teknologi memungkinkannya. Radio, televisi, dan kini podcast dan konten audio-visual digital adalah wujud nyata dari oralitas sekunder ini. Ong menulis bahwa media elektronik seperti radio dan televisi “memenuhi udara dengan kata-kata, bercampur dengan bunyi-bunyi lain” — sebuah deskripsi yang terasa sangat akurat untuk lanskap podcast dan konten digital hari ini.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Education (Williams, 2024) memperkuat ini: podcast secara inheren “membangkitkan kembali tradisi lisan, di mana pendidik menciptakan lingkungan belajar yang lebih mengikat dan komprehensif, memperdalam keterlibatan dan pemahaman.” Sementara peneliti Reginold Royston (2023) dalam kajiannya tentang podcast Afrika memperluas pemikiran Ong untuk menunjukkan bagaimana dimensi aural dari podcast mewakili apa yang ia sebut oralitas baru — yang memiliki akar dalam tradisi bercerita asli masing-masing budaya.
DNA yang Sama, Tubuh yang Berbeda

Jika kita meletakkan dalang wayang dan seorang podcaster di atas meja yang sama dan memeriksa cara kerja mereka, persamaannya mengejutkan.
Pertama: narasi sebagai kendaraan. Dalang tidak sekadar menyampaikan informasi — ia membangun dunia melalui cerita. Begitu pula podcaster terbaik. Mereka tidak membacakan data; mereka mengajak pendengar masuk ke dalam sebuah perjalanan.
Kedua: suara sebagai instrumen. Seorang dalang menguasai berbagai timbre suara — dari gondrong Bima yang berat hingga serak Semar yang bijaksana — untuk membedakan karakter dan membangun emosi. Podcaster yang baik pun memahami bahwa intonasi, jeda, dan ritme bicara bukan sekadar gaya, melainkan alat transmisi makna yang tidak bisa digantikan teks.
Ketiga: komunitas pendengar yang aktif. Dalam pertunjukan wayang, penonton bukan konsumen pasif — mereka tertawa, bereaksi, bahkan berinteraksi. Podcast di era digital memiliki komunitas yang juga bukan sekadar pendengar: mereka berkomentar, berdebat, membentuk kelompok diskusi, dan memengaruhi arah konten berikutnya. Ong menyebut ini sebagai salah satu ciri oralitas sekunder — ia meniru partisipasi komunal dari oralitas primer.
Keempat: pengetahuan sebagai pengalaman. Kajian ilmu komunikasi mencatat bahwa budaya lisan cenderung menyimpan pengetahuan dalam bentuk yang close to the human lifeworld — dekat dengan kehidupan nyata, kontekstual, dan tidak abstrak. Ini persis yang membuat podcast lebih diingat daripada artikel panjang: kita mendengar suara manusia bicara tentang pengalaman nyata, bukan membaca baris teks.
Bukan Tanpa Perbedaan

Tentu, ada jarak yang tidak boleh diabaikan. Seorang dalang hadir secara fisik — ada kontak visual, ada energi pertunjukan, ada ritual yang membingkai seluruh peristiwa. Podcast adalah pengalaman yang intim tapi privat: dinikmati sendiri, dengan earphone, seringkali tanpa pendengar lain.
Ada pula pertanyaan tentang kedalaman. Tradisi tutur Nusantara bukan sekadar hiburan — ia adalah sistem pendidikan, sistem hukum adat, dan sistem filsafat yang terajut menjadi satu. Seorang dalang menguasai puluhan lakon, ribuan tembang, dan kosmologi yang rumit, yang dipelajarinya selama bertahun-tahun. Seorang podcaster masa kini memiliki kelebihan lain — jangkauan global dan aksesibilitas — tapi tidak selalu kedalaman itu.
Kajian dari International Journal of Research and Innovation in Social Science (Saad et al., 2024) mengingatkan bahwa meskipun digitalisasi meningkatkan aksesibilitas tradisi lisan, ia juga berisiko “mengubah nuansa transmisi oral” — ada sesuatu yang hilang ketika tradisi yang lahir dari kehadiran fisik dipindahkan sepenuhnya ke layar dan speaker.
Mata Rantai yang Belum Putus

Tapi mungkin inilah cara yang lebih tepat untuk melihatnya: podcast dan konten digital bukan pengganti tradisi tutur, melainkan mata rantai terbarunya. Tradisi lisan Nusantara tidak pernah berhenti berevolusi. Wayang menyerap unsur Islam, lalu unsur Barat, lalu kini unsur digital — tanpa kehilangan fungsi intinya sebagai wahana cerita dan makna.
Ketika seorang podcaster Indonesia berbicara tentang sejarah yang terlupakan, atau merekam wawancara dengan sesepuh adat, atau menceritakan dongeng leluhur dalam format audio yang bisa didengar jutaan orang — ia melakukan apa yang dilakukan para penutur Nusantara selama ribuan tahun: menjaga pengetahuan tetap hidup di dalam suara, dan memastikannya menemukan telinga generasi berikutnya.
Yang berubah hanyalah kelir-nya. Dulu kelir adalah layar putih yang diterangi lampu minyak. Kini kelir itu adalah speaker di earphone seseorang yang sedang berjalan kaki di Jakarta, Surabaya, atau Makassar.
Dan di balik semua teknologi itu, ada satu hal yang tidak berubah: suara manusia yang bercerita, dan telinga manusia yang mendengarkan.