Vaksin HPV: Perisai Ampuh Lawan 90% Risiko Kanker Serviks
Indonesia darurat kanker serviks tertinggi di Asia Tenggara - Vaksin HPV hadir sebagai harapan nyata.
Vaksin HPV mampu mencegah lebih dari 90 persen kasus – namun 8 dari 10 orang sudah terpapar tanpa sadar.
Tuturbangsa.com – dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD, K-AI mengungkapkan sebuah fakta yang membuat banyak orang terdiam. Bukan tentang angka kematian, bukan tentang statistik rumah sakit melainkan tentang kemungkinan besar bahwa virus berbahaya itu sudah ada di dalam tubuh kita, diam-diam, tanpa kita sadari.
“Bahkan 8 dari 10 pria dan wanita itu sebenarnya, kalau kita cek di laboratorium, memiliki virus HPV di dalam tubuhnya,” ujar dokter spesialis penyakit dalam itu dengan nada serius namun tenang. “Tetapi karena mungkin sistem imun kita baik, itu tidak menyebabkan gejala kanker, kutil, dan lain sebagainya.”
Pernyataan itu bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya – ini adalah panggilan sadar untuk bertindak.
Lebih dari Sekadar Kanker Serviks
Selama ini, Human Papillomavirus atau HPV identik dengan kanker serviks pada perempuan. Tapi dr. Anshari menegaskan bahwa pemahaman itu jauh dari lengkap.
“Virus HPV ini bisa menyebabkan bukan hanya kanker serviks yang selama ini kita kenal. Bisa juga menyebabkan kanker anus, kanker vagina, kanker vulva, kemudian kutil kelamin, dan lain-lain,” jelasnya.
Yang lebih mengejutkan, HPV bukan semata urusan perempuan. Laki-laki pun berisiko sama besarnya.
“Kita-kita nih, laki-laki juga bisa kena HPV. Jangan lupa ya, bukan hanya perempuan – kita sebagai laki-laki juga harus waspada,” tegasnya, disambut anggukan dari para peserta.
Virus ini menular melalui berbagai jalur: hubungan seksual melalui vagina, anal, maupun oral. Bahkan penularan non-seksual pun bisa terjadi – dari ibu kepada bayi saat proses persalinan melalui vagina, atau melalui alat medis yang tidak disterilisasi dengan sempurna.
“Kalau misalnya di rumah sakit, ibu-ibu diperiksa menggunakan alat tertentu, kemudian alatnya kurang bersih sterilisasinya, maka bisa menularkan virus HPV jika dipakai kepada pasien yang lainnya,” papar dr. Anshari, mengingatkan pentingnya standar kebersihan fasilitas medis.
Tipe Risiko Tinggi Mendominasi

HPV bukan virus tunggal. Ia hadir dalam puluhan tipe yang dikategorikan menjadi dua kelompok: high-risk (risiko tinggi) dan low-risk (risiko rendah).
“High-risk artinya risiko tinggi menyebabkan kanker. Kalau low-risk, risiko rendah menyebabkan kanker dan umumnya menyebabkan kutil. Tapi kutil juga tetap berbahaya dan menyakitkan akan merepotkan sekali,” jelas dr. Anshari.
Tipe-tipe seperti HPV 16, 18, 52, dan 58 termasuk dalam kategori high-risk dan menjadi yang paling banyak beredar di Indonesia. Data menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen kasus kanker serviks, vagina, vulva, dan anus berhubungan dengan 9 tipe virus HPV yang kini menjadi target vaksin terbaru.
Indonesia: Darurat di Asia Tenggara

Data yang disampaikan dr. Anshari tidak kurang mengkhawatirkan di tingkat regional. Indonesia tercatat sebagai negara dengan angka kejadian kanker serviks tertinggi di Asia Tenggara – melampaui Malaysia, Thailand, Vietnam, maupun Filipina.
“Indonesia adalah negara di Asia yang paling tinggi angka kejadian kanker serviks, termasuk juga kanker vagina dan kanker vulva, jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya,” ungkapnya.
Ia menduga kondisi ini berkaitan dengan besarnya populasi Indonesia yang melebihi 250 juta jiwa, ditambah masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya skrining dan vaksinasi HPV. Setiap jam, dua perempuan Indonesia meninggal dunia akibat kanker serviks – sebuah angka yang semestinya bisa ditekan secara signifikan.
Ironisnya, kanker serviks adalah kanker yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk berkembang. “Kanker serviks butuh waktu puluhan tahun untuk berkembang. Dia menetap dulu di leher rahim dari perempuan, kemudian 10-20 tahun pelan-pelan menimbulkan risiko kanker,” terang dr. Anshari.
Artinya, ada jendela waktu yang cukup lebar untuk deteksi dini – jika saja masyarakat mau memanfaatkannya.
Beban ekonomi yang ditanggung pun tidak kecil. “Kalau kita lihat di BPJS, salah satu pengeluaran negara yang paling besar untuk pengeluaran penyakit adalah kanker, dan ini adalah salah satu kanker yang paling sering terjadi pada masyarakat di Indonesia,” tambahnya.
Vaksin: Perisai Paling Efektif
Di tengah semua gambaran suram itu, ada satu kabar baik yang disampaikan dr. Anshari dengan penuh keyakinan: HPV bisa dicegah. “Vaksinasi HPV yang baru ini bisa mencegah lebih dari 90 persen kasus yang disebabkan oleh HPV,” tegasnya.
Vaksin generasi terbaru tersebut dirancang untuk melindungi tubuh dari 9 tipe HPV sekaligus mencakup tipe-tipe paling berbahaya yang menjadi pemicu utama kanker. Ia mengklasifikasikan pencegahan HPV ke dalam dua pendekatan. Pencegahan primer dilakukan melalui vaksinasi, yang idealnya diberikan sebelum seseorang terpapar virus. Sementara pencegahan sekunder dilakukan melalui skrining rutin, terutama bagi perempuan.
“Nah, siapa di sini yang pernah melakukan Pap smear? Tujuannya salah satunya untuk melihat apakah di serviks itu ada infeksi HPV atau tidak,” ujarnya, mendorong peserta untuk tidak menunda pemeriksaan.
Selain Pap smear, tersedia pula metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) yang lebih mudah dijangkau, hingga pemeriksaan HPV-DNA yang lebih canggih untuk deteksi yang lebih akurat.
Saatnya Bergerak
Sebelum menutup pemaparannya, dr. Anshari menyampaikan pesan langsung kepada para jurnalis yang hadir dan melalui mereka, kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Pak, ibu, kalau mau terhindar dari kanker serviks, kanker anus, kanker vulva, kutil – tolong divaksin. Teman-teman jurnalis nanti kalau sudah pulang, langsung ke rumah sakit, minta vaksin. Dan tolong sebarkan info ini kepada khalayak masyarakat kita. Agar harapannya, masyarakat Indonesia kejadian kanker serviks-nya dapat dikurangi secara drastis. Ini demi masyarakat kita juga.”
HPV mungkin tidak terlihat, tidak terasa, dan tidak bersuara. Tapi ancamannya nyata dan datanya jelas. Di negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara ini, pertarungan melawan HPV bukan hanya soal kesehatan individu – melainkan soal masa depan bangsa. Dan seperti yang diingatkan dr. Anshari, pertarungan itu dimulai dari satu langkah sederhana: vaksin.