Parfum adalah Cermin, Saat Aroma Pilihan Mengungkap Kepribadian
Pilihan aroma parfum bisa mengungkap kepribadian seseorang.
Tuturbangsa.com, Jakarta – Aroma parfum bisa menjadi identitas individu. Faktanya, pilihan wewangian ternyata mampu mengungkap cukup banyak tentang seseorang.
Kita mungkin sudah terbiasa “membaca kepribadian” dari cara seseorang berpakaian, berbicara, atau memilih musik. Tapi para peneliti kini semakin menemukan bahwa pilihan wewangian seseorang bukan sekadar soal selera estetika — ia adalah ekspresi psikologis yang lebih jujur dari yang kita sadari. Parfum, dalam banyak hal, adalah autobiografi yang kita semprotkan setiap pagi.
Aroma Parfum dan Kepribadian, Ada Korelasinya?
Pada 2023, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology meneliti hubungan antara preferensi aroma dan profil kepribadian menggunakan kerangka Big Five Personality Traits — model psikologi kepribadian yang paling banyak digunakan secara ilmiah, yang membagi kepribadian ke dalam lima dimensi: openness (keterbukaan terhadap pengalaman), conscientiousness (kehati-hatian), extraversion (ekstroversi), agreeableness (keramahan), dan neuroticism (kecenderungan emosi negatif).
Hasilnya tidak mengejutkan bagi para perfumer berpengalaman, tapi sangat menarik bagi sains: ada pola yang konsisten antara dimensi kepribadian tertentu dan kecenderungan preferensi aroma tertentu. Orang dengan skor openness tinggi — mereka yang cenderung ingin tahu, imajinatif, dan terbuka terhadap pengalaman baru — cenderung lebih tertarik pada aroma yang tidak biasa, kompleks, dan tidak mudah dikategorikan: oud, iris, atau komposisi yang aneh dan menantang hidung. Sementara orang dengan conscientiousness atau kesadaran tinggi, teratur, disiplin, berorientasi pada detail, lebih sering memilih aroma yang bersih, segar, dan rapi seperti aquatic atau green notes.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah cermin.
Alasan Kita Memilih Aroma Parfum Tertentu
Untuk memahami mengapa preferensi aroma parfum bisa berbicara tentang kepribadian, kita perlu kembali ke cara kerja otak dalam memproses bau.
Seperti yang sudah disinggung dalam artikel sebelumnya dalam seri ini, bau memiliki jalur langsung ke sistem limbik — pusat emosi dan memori. Tapi ada hal lain yang terjadi di sana: sistem limbik juga terhubung erat dengan prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pembentukan identitas diri.
Artinya, ketika kita memilih parfum, kita tidak hanya merespons stimulus sensoris. Kita sedang membuat keputusan identitas — secara sebagian besar, tanpa kita sadari.
Psikolog Rachel Herz dari Brown University, yang risetnya sudah kita rujuk dalam artikel pertama seri ini, menegaskan dalam bukunya The Scent of Desire (2007) bahwa preferensi aroma manusia hampir sepenuhnya dibentuk oleh asosiasi emosional dan pengalaman hidup, bukan oleh biologi murni. Tidak seperti rasa pahit yang secara universal dihindari karena menjadi sinyal racun, tidak ada aroma yang secara bawaan “baik” atau “buruk” bagi semua orang. Kita belajar menyukai apa yang kita sukai, dan pembelajaran itu sangat personal, sangat terikat pada siapa kita dan dari mana kita berasal.
Dengan kata lain, parfum yang kita pilih adalah akumulasi dari seluruh pengalaman hidup kita.
Membaca Kepribadian dari Kelompok Aroma
Tanpa harus masuk ke laboratorium psikologi[1], ada cara yang lebih mudah untuk memahami pola ini — yaitu dengan melihat kelompok aroma (fragrance families) dan kepribadian yang sering berkorespondensi dengannya. Ini tentu bukan aturan kaku, melainkan kecenderungan yang berulang dalam penelitian dan observasi industri parfumeri.
Floral
Mereka yang gravitasinya menuju aroma bunga — mawar, melati, peony, lily — sering dideskripsikan sebagai hangat, empatik, dan berorientasi pada hubungan. Penelitian yang diterbitkan di International Journal of Cosmetic Science menemukan bahwa preferensi terhadap aroma floral berkorelasi positif dengan skor agreeableness dalam tes kepribadian. Mereka yang memilih floral cenderung peduli pada harmoni dan koneksi emosional.
Woody dan Earthy
Aroma kayu cedar, vetiver, tanah, dan patchouli menarik mereka yang memiliki kedalaman introspektif. Studi kepribadian menunjukkan korelasi dengan skor openness yang tinggi dan kecenderungan introvert yang reflektif — seseorang yang tidak terburu-buru, yang nyaman dengan keheningan dan kompleksitas.
Fresh dan Aquatic
Orang yang memilih aroma segar — jeruk, mint, laut, hujan — cenderung memiliki energi yang aktif, pendekatan praktis terhadap hidup, dan kebutuhan akan kejernihan mental. Korelasi dengan conscientiousness dan ekstroversi ringan sering muncul dalam penelitian profil konsumen parfum.
Oriental dan Spicy
Oud, amber, vanila, kayu manis, kesturi. Ini adalah pilihan mereka yang tidak takut mengambil ruang — secara harfiah maupun figuratif. Aroma yang berat dan bertahan lama ini sering dipilih oleh orang dengan kepercayaan diri tinggi, kecenderungan sensoris yang kuat, dan toleransi rendah terhadap hal-hal yang terlalu biasa.
Ketika Parfum Adalah Persona yang Kita Pilih
Ada dimensi lain yang tidak kalah menariknya: parfum bukan hanya mencerminkan siapa kita, tapi juga siapa yang ingin kita jadikan diri kita.
Psikolog sosial dari Northwestern University, Adam Galinsky, dalam rangkaian risetnya tentang enclothed cognition, bagaimana pakaian memengaruhi cara berpikir pemakainya, membuka jalan bagi pemahaman serupa tentang aksesori sensoris seperti parfum. Jika memakai jas dokter membuat seseorang lebih teliti dan fokus, bukan tidak mungkin mengenakan aroma tertentu juga mengaktifkan self-schema yang berbeda: lebih percaya diri, lebih tenang, lebih siap menghadapi dunia.

Inilah mengapa banyak orang punya aroma “parfum kerja” dan “parfum akhir pekan” yang berbeda. Semata-mata karena mereka secara intuitif memahami bahwa aroma adalah instrumen self-presentation, alat untuk menghadirkan versi diri tertentu sesuai konteks yang dibutuhkan.
Dalam tradisi psikologi Jungian, ini bahkan bisa dibaca sebagai ekspresi persona, topeng sosial yang kita kenakan untuk berinteraksi dengan dunia. Parfum, dengan cara yang sangat halus, adalah bagian dari topeng itu. Dan seperti topeng yang dipilih dengan sadar, ia bisa menjadi jembatan antara siapa kita di dalam dan siapa yang ingin kita tunjukkan di luar.
Ketika Hidung Tidak Bisa Berbohong
Yang membuat parfum berbeda dari aksesori identitas lainnya adalah sifatnya yang sulit dimanipulasi secara sadar.
Kita bisa memilih pakaian berdasarkan apa yang “seharusnya” kita pakai. Kita bisa berbicara dengan nada yang diperhitungkan. Tapi ketika kita mencium tester di toko parfum dan satu botol terasa seperti kita sementara yang lain tidak — reaksi itu hampir selalu datang sebelum pikiran sempat turun tangan.
Neurosains mendukung ini. Karena bau diproses di sistem limbik sebelum mencapai korteks, bagian otak yang berpikir dan menganalisis, respons kita terhadap aroma adalah salah satu respons yang paling prereflective dalam kehidupan sehari-hari. Ia datang dari lapisan diri yang lebih tua dan lebih dalam dari bahasa.
Ketika seseorang berkata “parfum ini bukan aku,” mereka sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam dari soal rasa. Mereka sedang mengatakan bahwa aroma itu tidak selaras dengan narasi batin yang mereka pegang tentang diri mereka sendiri.
Siapa Kamu, Sebenarnya?
Pertanyaan tentang identitas adalah salah satu pertanyaan paling tua yang manusia ajukan kepada dirinya sendiri. Filsafat menjawabnya dengan argumen. Psikologi menjawabnya dengan tes dan wawancara. Sastra menjawabnya dengan cerita.
Tapi mungkin ada jawaban yang lebih sederhana — yang sudah kita praktikkan setiap pagi tanpa sadar. Membuka lemari. Ambil botol parfum yang selalu kita pilih ketika ingin merasa paling diri sendiri. Semprotkan. Tunggu sebentar sampai top notes menguap dan heart notes mulai berbicara. Di situlah kita.