Gut-Brain Axis Cara Usus dan Otak Saling Berinteraksi

Usus dan otak ternyata saling berbicara setiap saat. Inilah yang disebut Gut-Brain Axis - dan memahaminya bisa mengubah cara kita menjaga kesehatan selamanya.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Gut-Brain Axis Cara Usus dan Otak Saling Berinteraksi
Ilustrasi AI

Tuturbangsa.com – Ada sebuah percakapan yang berlangsung diam-diam di dalam tubuh kita setiap saat, percakapan antara usus dan otak ini disebut gut-brain axis. Ini bukan metafora, bukan pula kiasan. Ini adalah fakta ilmiah yang semakin kuat landasannya. Memahaminya bisa mengubah cara kita memaknai kesehatan secara menyeluruh.

Kita hidup di zaman yang penuh paradoks. Informasi kesehatan tersedia melimpah, namun penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas justru terus meningkat. Kita rajin mencari obat, tetapi jarang bertanya: dari mana sesungguhnya akar masalah ini bermula? Jawabannya, menurut ilmu pengetahuan modern, kerap kali tersembunyi di tempat yang paling tidak kita duga di dalam usus kita.

Usus: Lebih dari Sekadar Saluran Pencernaan

Selama bertahun-tahun, kita memandang usus semata sebagai jalur lalu lintas makanan. Makanan masuk, dicerna, diserap, selesai. Namun pemahaman itu kini telah bergeser secara fundamental.

Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menjelaskan dengan lugas bahwa pencernaan kita adalah pusat kendali metabolik. “Semua makanan pertama kali masuk lewat usus. Dia yang mengendalikan – mau diserap semuanya, atau hanya yang dibutuhkan tubuh,” katanya.

Artinya, usus bukan sekadar pipa penyalur. Ia adalah pengatur cerdas yang memutuskan apa yang boleh masuk ke aliran darah, berapa banyak, dan kapan. Ketika seseorang makan makanan manis dan kadar gulanya tidak melonjak drastis, itu bukan keberuntungan semata. Itu kerja keras usus yang sehat.

“Kalau usus kita sehat, dia bisa membuat insulin untuk mengatur gula darah lebih sensitif – lebih mampu untuk segera menurunkan dan menyampaikan ke otot untuk menyerap kelebihan gula,” lanjut Rita.

Sebaliknya, usus yang tidak sehat membiarkan ketidakseimbangan itu terjadi: gula menumpuk di darah, lemak mengendap di dinding pembuluh, hormon bekerja kacau. Inilah awal mula perjalanan panjang menuju penyakit kronis.

Siapa yang Menentukan Kesehatan Usus?

Gut-Brain Axis Cara Usus dan Otak Saling Berinteraksi_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Kunci kesehatan usus bukan terletak pada makanan tertentu atau suplemen ajaib semata. Kuncinya ada pada keberagaman dan jumlah mikrobiota – triliunan bakteri kecil yang menghuni saluran cerna kita. Rita menegaskan “Yang menentukan pencernaannya sehat atau tidak adalah banyak tidaknya jumlah mikrobiotanya, banyak ragamnya atau sedikit ragamnya. Keragaman dan jumlahnya itulah yang menentukan.”

Di antara sekian banyak jenis mikrobiota, ada satu yang perannya paling fundamental – bifidobacterium bifidum. Bakteri ini adalah yang pertama kali hadir di usus manusia -bahkan sejak hari pertama kehidupan seorang bayi. “Bifidobacterium bifidum adalah bakteri pertama kali yang terdeteksi pada usus bayi. Tidak ada yang lain, cuma dia dulu. Dan dia yang mendidik mikrobiota berikutnya,” jelas Rita.

Keistimewaan bifidobacterium bifidum terletak pada dua hal: kemampuannya melekat kuat pada dinding usus sehingga bisa mengatur penyerapan nutrisi secara presisi, serta kemampuan komunikasinya yang luar biasa dengan organ-organ lain – termasuk otak. Ia bagaikan seorang pemimpin di ekosistem usus; tanpa kehadirannya, seluruh koloni bakteri lain kehilangan arah.

Gut-Brain Axis: Jembatan Tak Kasat Mata antara Perut dan Pikiran

Inilah bagian yang paling menakjubkan sekaligus paling sering luput dari perhatian kita: usus dan otak tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka berkomunikasi – setiap saat, dua arah, tanpa henti. Sistem komunikasi ini dikenal dalam dunia ilmiah sebagai gut-brain axis. Dan konsekuensinya jauh lebih dalam dari sekadar “perut kembung bikin tidak fokus.”

Rita memberi contoh yang mudah dicerna. “Gut-brain axis adalah sistem komunikasi dua arah. Otak dan saluran cerna kita ngobrol terus, komunikasi terus. Sistem komunikasi dua arah inilah yang menentukan mereka akan menghasilkan kegiatan apa,” tuturnya.

Ambil contoh serotonin – hormon yang kerap disebut sebagai “hormon kebahagiaan.” Selama ini kita mengira serotonin sepenuhnya diproduksi di otak. Kenyataannya berbeda. “Serotonin yang diproduksi di usus itu berjumlah 70-80% dari seluruh serotonin kita. Usus yang produksi terlebih dahulu, baru dikomunikasikan dengan otak untuk menyempurnakan, maka kita merasakan bahagia,” ungkap Rita.

Ini menjelaskan mengapa orang yang ususnya tidak sehat sering merasa murung, lesu, atau sulit merasakan kegembiraan – meskipun tidak ada masalah besar dalam hidupnya. Sebaliknya, stres yang berkepanjangan pun bisa langsung berdampak pada kondisi pencernaan, memunculkan gejala seperti mual, diare, atau perut yang terasa tidak nyaman tanpa sebab jelas.

Lebih jauh lagi, Rita menyampaikan temuan yang mengejutkan: kesehatan usus bahkan berkaitan dengan risiko demensia dan Alzheimer. “Orang yang saluran cernanya sehat, risiko untuk demensia dan Alzheimer itu lebih rendah,” ujarnya.

Mikrobiota usus membantu memberi sinyal bahaya kepada otak ketika ada ancaman radikal bebas yang dapat merusak sel-sel saraf – sebuah sistem pertahanan alami yang hanya bisa bekerja optimal ketika usus dalam kondisi sehat.

Ketika Lingkungan Mengancam Keseimbangan Usus

Gut-Brain Axis Cara Usus dan Otak Saling Berinteraksi_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Sayangnya, ekosistem mikrobiota kita tidak hidup dalam ruang hampa. Ia rentan terhadap banyak hal yang sering kita anggap sepele: konsumsi antibiotik berlebihan, pola makan tidak seimbang, polusi udara, hingga tekanan emosional yang terus-menerus.

Rita mengingatkan, “Kondisi-kondisi lingkungan yang kita anggap biasa-biasa saja, nyata ikut mempengaruhi kesehatan mikrobiota. Karena mikrobiota itulah yang pertama kali membunyikan alarm-alarm yang tidak normal.”

Antibiotik, misalnya, bekerja tanpa pandang bulu. Ia membunuh bakteri jahat sekaligus bakteri baik. “Ketika ada pemberian antibiotik, mestinya didampingi dengan pemberian mikrobiota,” tegasnya. Tanpa pemulihan koloni bakteri baik setelah konsumsi antibiotik, sistem pertahanan tubuh kita ibarat benteng yang diruntuhkan namun tidak pernah dibangun kembali.

Data lapangan pun bicara. Pemeriksaan mikrobiota pada masyarakat Indonesia menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan: hampir seluruhnya berada di bawah nilai normal. Ini bukan sekadar angka – ini adalah gambaran betapa rentannya kondisi kesehatan kita secara kolektif.

Memahami gut-brain axis bukan berarti kita harus menjadi ahli biologi. Pesannya jauh lebih sederhana jaga usus, dan usus akan menjaga seluruh tubuhmu. Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, polutan, dan makanan ultra-proses, menjaga keseimbangan mikrobiota bukan lagi sebuah pilihan gaya hidup – ia adalah kebutuhan mendasar. Seperti tubuh membutuhkan karbohidrat, protein, dan vitamin, ia juga membutuhkan probiotik untuk bisa berfungsi optimal.

Kesehatan, pada akhirnya, dimulai dari hal-hal yang tidak terlihat. Dari triliunan bakteri kecil yang bekerja tanpa kenal lelah di dalam usus kita. Dari percakapan sunyi antara perut dan pikiran yang terus berlangsung setiap detik. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita harus memperhatikan kesehatan usus. Pertanyaannya adalah: kapan kita mulai?

Playlist Saya