Toxic Competition: Naik Tangga dengan Menginjak Bahu Kawan

Toxic competition membuat seseorang rela menjatuhkan rekan demi meraih kesuksesan. Mengapa ambisi tanpa etika dapat merusak kepercayaan?

Evisa Nindya Rimadhani, S.I.Kom
Evisa Nindya Rimadhani, S.I.Kom Terverifikasi
Mahasiswa MIKOM UNAS
Evisa merupakan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional sekaligus tenaga kependidikan di salah satu universitas di Jakarta. Ia memiliki minat dalam dunia kepenulisan, baik jurnal maupun artikel. Baginya, menulis merupakan cara untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan berbagi pemahaman kepada orang lain.
Diterbitkan 4 November 2026, 09:23 WIB
Toxic Competition: Naik Tangga dengan Menginjak Bahu Kawan
Ilustrasi AI

Tuturbangsa.com – Siapa menanam, dia menuai, begitu kata pepatah. Namun, di tengah toxic competition yang kian lumrah di ruang kerja, kampus, dan organisasi, ada orang yang memanen tanaman orang lain. Ia naik setapak demi setapak dengan berpijak pada bahu kawan-kawannya sendiri.

Cerita seperti ini sudah lama kita kenal. Bedanya, kini ia makin terasa lumrah, seiring budaya kompetisi yang dipuja sebagai satu-satunya jalan menuju sukses. Kita sering diajari menjadi yang pertama, yang terbaik, yang paling menonjol. Jarang sekali ada yang mengajari cara menjadi yang terbaik tanpa membuat orang lain terpuruk.

Di dunia kerja, perilaku ini dekat dengan apa yang disebut toxic competition, atau persaingan tidak sehat. Kompetisi yang mestinya mendorong orang berkembang malah menjadi ajang saling menjatuhkan. Ukuran keberhasilan pun bergeser dari kemampuan dan kontribusi pribadi ke seberapa jauh seseorang bisa melampaui orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan mereka.

Wajah-Wajah Menginjak yang Sering Tak Disadari

Menginjak bahu kawan tidak selalu tampak kasar. Sering kali caranya halus dan sulit dibuktikan. Seorang rekan memaparkan gagasan kelompok di depan atasan tanpa menyebut siapa yang merancangnya. Seorang teman berkata, “kita tidak perlu bersaing”, lalu menghilang ketika penghargaan dibagikan. Ada yang membisikkan kelemahan rekannya kepada pimpinan dengan dalih “hanya memberi masukan”. Ada pula yang sengaja menahan informasi penting agar dirinya tampak lebih siap.

Semua itu punya alasan yang terdengar masuk akal: efisiensi, strategi, persaingan yang wajar. Intinya tetap sama. Keuntungan satu orang dibangun di atas kerugian orang lain, yang tidak mengetahuinya atau tidak berdaya membantahnya.

Di lingkungan profesional, beginilah toxic competition sering bekerja. Orang tak lagi bersaing lewat mutu pekerjaan, tetapi lewat manipulasi, perebutan pengakuan, dan tindakan yang merugikan rekan sendiri. Yang lebih mengherankan, perilaku ini kadang malah dianggap strategi bertahan dan meniti karier.

Kerusakan yang Menjalar

Dampaknya tidak berhenti pada satu korban. Di lingkungan yang membiarkan perilaku semacam ini, orang belajar bahwa kejujuran tidak membawa untung. Mereka yang tulus merasa dirugikan, sementara yang pandai berkamuflase dan bermuka dua justru lebih dihargai.

Lambat laun kepercayaan menipis. Orang berhenti berbagi ide, enggan bekerja sama, dan mulai saling curiga. Mutu kerja ikut turun. Tim yang seharusnya saling menopang berubah menjadi kumpulan individu yang saling mengawasi, dan energi untuk berkarya habis dipakai menjaga diri.

Kerugiannya kemudian ditanggung seluruh organisasi. Budaya kerja yang semestinya berpijak pada kolaborasi berganti menjadi suasana penuh tekanan, tempat kreativitas sulit tumbuh dan produktivitas tim melemah.

Bagi korbannya, luka yang tertinggal sering lebih dalam daripada sekadar kehilangan kesempatan. Dikhianati orang yang dianggap teman menyisakan malu, marah, dan kesulitan untuk percaya lagi. Ada yang menarik diri. Ada pula yang akhirnya ikut bermain dengan cara yang sama.

Tangga yang Rapuh

Tangga yang dibangun dari bahu kawan itu rapuh. Posisi yang diraih dengan cara tidak jujur harus terus dijaga dengan cerita, kepura-puraan, dan kewaspadaan. Begitu kebenaran terungkap, dan cepat atau lambat biasanya terungkap, orang akan mengingat bagaimana seseorang naik, bukan hanya seberapa tinggi ia berada.

Jabatan yang tidak ditopang kemampuan nyata juga cenderung menuntut lebih dari yang sanggup diberikan. Orang yang terbiasa mengandalkan hasil kerja orang lain akan kesulitan ketika harus berdiri sendiri. Saat itulah kekosongan kompetensinya terlihat jelas.

Dari luar, kesuksesan yang lahir dari toxic competition mungkin tampak mengesankan. Namun, pengakuan yang didapat dengan mengambil hak orang lain tidak memberi rasa aman yang sesungguhnya. Yang tersisa hanyalah ketakutan bahwa suatu hari orang akan tahu bagaimana keberhasilan itu diraih.

Apa yang Perlu Dilakukan dalam Situasi Toxic Competition?

Toxic Competition di Tempat Kerja: Naik Tangga dengan Menginjak Bahu Kawan_Tuturbangsa.com
Toxic Competition di Tempat Kerja: Naik Tangga dengan Menginjak Bahu Kawan/Ilustrasi AI

Persoalan ini tidak selesai hanya dengan menasihati pelakunya. Perubahan perlu terjadi di tiga level.

Di level pribadi, tanyakan kepada diri sendiri apakah pencapaian yang kita banggakan benar-benar milik kita. Biasakan menyebut kontribusi orang lain. Sikap ini tidak mengurangi nilai kita, malah menunjukkan kepercayaan diri dan kedewasaan. Persaingan seharusnya mendorong kita mengasah kemampuan, bukan menjadi alasan untuk menjatuhkan orang lain.

Bagi korban atau saksi, dokumentasikan pekerjaan sendiri, sampaikan kontribusi secara terbuka, dan jangan ragu menyuarakan ketidakadilan melalui jalur yang tepat. Diam sering dianggap setuju. Mengenali pola toxic competition juga penting agar tindakan manipulatif tidak terus dianggap bagian wajar dari dinamika pekerjaan.

Di level institusi, bangun sistem penilaian yang transparan sehingga siapa mengerjakan apa tercatat dengan jelas. Beri penghargaan pada kerja tim, tidak hanya pada individu yang paling vokal. Sediakan pula saluran pengaduan yang aman bagi mereka yang merasa dirugikan.

Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti tanpa kompetisi. Persaingan tetap diperlukan untuk mendorong kemajuan, asalkan berjalan bersama kejujuran, penghargaan atas kontribusi, dan sikap saling menghormati. Dalam persaingan seperti itu, seseorang bisa berkembang tanpa membuat orang lain kehilangan kesempatan.

Tangga menuju puncak memang harus didaki, dengan kaki sendiri dan dengan tangan yang saling menguatkan, bukan dengan menginjak bahu kawan. Keberhasilan yang sejati adalah keberhasilan yang bisa kita ceritakan tanpa harus menyembunyikan siapa pun dari kisahnya.

Kontributor : Evisa Nindya Rimadhani
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Universitas Nasional (UNAS)
Playlist Saya