Mengurai Kompleksitas Penyakit Ginjal di Indonesia

Penyakit ginjal diam-diam menjadi krisis kesehatan terbesar Indonesia - 674 juta penderita global, dan biaya penanganannya terus meroket tanpa henti.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Mengurai Kompleksitas Penyakit Ginjal di Indonesia
Dok. Tuturbangsa.com

Tuturbangsa.com – Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap kesehatan Indonesia menghadapi tantangan serius yang bergeser dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah peningkatan signifikan kasus penyakit ginjal. Fenomena ini tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai masalah medis individual, melainkan telah bermetamorfosis menjadi persoalan kesehatan publik yang kompleks.

Meningkatnya jumlah pasien gagal ginjal kronik membawa implikasi luas, mulai dari beban pembiayaan negara hingga penurunan kualitas hidup masyarakat secara umum. Kenyataan ini menuntut respons yang tidak hanya bersifat kuratif atau pengobatan semata.

Sekretaris Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI), Andi Saguni, menekankan bahwa penanganan isu ini memerlukan sinergi lintas sektor. “Ketika kita berbicara mengenai program kesehatan, termasuk bagaimana meningkatkan awareness atau kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal dan mencegah penyakit ginjal, maka upaya ini tidak mungkin dikerjakan oleh Pemerintah saja,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi fondasi penting untuk memahami bahwa penyakit ginjal adalah cerminan dari sistem kesehatan, kebijakan publik, dan perilaku masyarakat yang saling berkaitan.

Krisis Ginjal Bukan Hanya Masalah Indonesia

Sebelum memahami konteks nasional, penting untuk menempatkan persoalan ini dalam perspektif global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO[1]) mencatat bahwa diperkirakan 674 juta orang di seluruh dunia hidup dengan penyakit ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) – dan sebagian besar dari mereka berada di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.

WHO juga mencatat bahwa penyakit ginjal telah naik dari peringkat ke-19 menjadi peringkat ke-9 penyebab kematian terbanyak di dunia antara tahun 2000 dan 2021 – dengan jumlah kematian meningkat hingga 95 persen dalam dua dekade. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya prevalensi diabetes dan hipertensi secara global. WHO bahkan memperkirakan bahwa 530.000 kematian akibat penyakit ginjal setiap tahunnya disebabkan langsung oleh diabetes.

Yang memperburuk situasi adalah karakter penyakit ini yang sering tidak menunjukkan gejala hingga stadium lanjut – sebuah sifat yang WHO sebut sebagai tantangan utama dalam deteksi dini. Ketimpangan akses terhadap fasilitas pengobatan, tenaga kesehatan, dan terapi pengganti ginjal menjadi hambatan global yang berkontribusi pada jutaan kematian yang seharusnya bisa dicegah setiap tahunnya.

Indonesia, sebagai negara berpenghasilan menengah dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, menghadapi tekanan ganda: beban penyakit yang besar sekaligus keterbatasan sistem layanan kesehatan yang belum merata.

Pentingnya Fenomena Penyakit Ginjal di Indonesia

Mengurai Kompleksitas Penyakit Ginjal di Indonesia_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Mengapa penyakit ginjal menjadi isu yang begitu krusial di tingkat nasional? Pertama, dari sisi biologis, ginjal adalah organ vital dengan fungsi yang jauh melampaui produksi urine. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, menjelaskan kompleksitas peran organ ini.

“Ginjal memiliki fungsi yang sangat luar biasa. Bukan hanya memproduksi urine dengan membuang sisa hasil metabolisme tubuh, tetapi juga memiliki beberapa fungsi penting lainnya. Karena itu, ketika terjadi gagal ginjal, berbagai fungsi tubuh tersebut juga akan terganggu,” ujarnya.

Kerusakan ginjal berdampak pada keseimbangan elektrolit, produksi sel darah merah, hingga regulasi tekanan darah, sehingga gagal ginjal sering kali memicu komplikasi sistemik yang fatal. Kedua, dari sisi ekonomi, penyakit ginjal menjadi beban katastropik terbesar dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data menunjukkan lonjakan biaya penanganan gagal ginjal yang drastis, dari sekitar Rp2,32 triliun pada 2019 menjadi proyeksi Rp13,38 triliun pada 2025. Angka ini menyerap porsi anggaran yang sangat besar, yang seharusnya dapat dialokasikan untuk layanan preventif.

Sebagian besar biaya ini habis untuk terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau cuci darah, yang harus dijalani pasien seumur hidup jika tidak mendapatkan transplantasi. Ketiga, sifat penyakit ini yang sering disebut sebagai silent disease – selaras dengan peringatan WHO di tingkat global membuatnya berbahaya.

Banyak pasien baru menyadari kondisi mereka ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis. Pada tahap ini, opsi pengobatan menjadi terbatas, mahal, dan melelahkan. Hal ini menciptakan beban berlapis bagi keluarga pasien yang harus menguras waktu, tenaga, dan pendapatan untuk perawatan rutin, sering kali mengharuskan mereka meninggalkan produktivitas harian.

Analisis Perspektif Kesehatan Masyarakat dan Sistem

Melihat fenomena ini melalui kacamata kesehatan masyarakat mengungkap akar masalah yang lebih dalam. Penyakit ginjal kronik sering kali merupakan “ujung hilir” dari kegagalan pengendalian penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes – dua kondisi yang juga menjadi perhatian utama WHO secara global.

Dr. Moh Fiqri Qoidhafy, Koordinator Kardiovaskuler Tim Kerja Gangguan Paru, Otak, dan Kardiovaskuler Kementerian Kesehatan RI, menyoroti pentingnya pendekatan holistik. “Pengendalian penyakit ginjal harus dilihat dari hulu ke hilir. Artinya, perhatian tidak boleh berhenti pada pasien yang sudah menjalani cuci darah, tetapi harus dimulai sejak pencegahan, skrining, pengobatan penyakit penyebab, hingga penguatan sistem pelayanan dan pembiayaan,” paparnya.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi penyakit ginjal mencapai sekitar 18 persen populasi, angka yang jauh lebih tinggi dari estimasi sebelumnya. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah rendahnya pengendalian faktor risiko. Dari jutaan peserta skrining kesehatan, hanya sekitar 3,1 persen penderita hipertensi yang terkendali.

Ini menunjukkan adanya “kehilangan kesempatan” dalam sistem kesehatan – pasien terdeteksi namun tidak selalu mendapatkan tindak lanjut terapi yang konsisten. Kondisi ini bukan anomali Indonesia semata: WHO mencatat bahwa secara global, beban penyakit ginjal terus meningkat seiring dengan diabetes, hipertensi, dan penuaan populasi, dengan ketimpangan akses terhadap pengujian, obat-obatan esensial, dan terapi pengganti ginjal sebagai tantangan utama yang berkontribusi pada jutaan kematian yang seharusnya bisa dicegah.

Analisis ini juga menyoroti ketimpangan akses layanan nasional. Fasilitas kesehatan dengan layanan ginjal lengkap masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, di mana sekitar 64 persen dokter spesialis ginjal berada. Pasien di daerah terpencil harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan dialisis, yang menjadi hambatan serius bagi keberlangsungan terapi.

Selain itu, terdapat dimensi keberlanjutan lingkungan yang sering terabaikan. Terapi hemodialisis membutuhkan sumber daya besar, termasuk air dan listrik, serta menghasilkan limbah medis. Satu prosedur hemodialisis dapat menghasilkan emisi karbon signifikan, sehingga peningkatan pasien tanpa strategi efisiensi akan menambah jejak ekologis sistem kesehatan.

Arah Kebijakan: Dari Pengobatan ke Pencegahan

Oleh karena itu, strategi pemerintah kini diarahkan pada penguatan layanan primer. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan integrasi data melalui platform SatuSehat diharapkan dapat mendeteksi kerusakan ginjal lebih dini melalui pemeriksaan laboratorium sederhana seperti kreatinin dan urine. Langkah task shifting – yakni pelimpahan kewenangan terbatas kepada perawat atau bidan di layanan primer – juga menjadi kunci untuk menjangkau masyarakat lebih luas sebelum penyakit berkembang menjadi gagal ginjal tahap akhir.

Arah kebijakan ini selaras dengan rekomendasi WHO yang pada Mei 2025 melalui World Health Assembly telah menyepakati Resolusi khusus tentang pengurangan beban penyakit tidak menular melalui promosi kesehatan ginjal dan penguatan pencegahan serta pengendalian penyakit ginjal. Resolusi ini menegaskan bahwa mengintegrasikan kesehatan ginjal ke dalam layanan primer adalah kunci deteksi dini dan penanganan tepat waktu – sebuah pendekatan yang kini sedang dijalankan Indonesia.

Penyakit ginjal di Indonesia mengajarkan bahwa kesehatan modern bukan hanya soal kecanggihan teknologi pengobatan, melainkan soal kemampuan membangun rantai pencegahan yang kuat. Fenomena ini tumbuh di ruang yang sama dengan hipertensi yang diabaikan, diabetes yang tidak terkendali, dan sistem tindak lanjut yang belum optimal.

Jika pencegahan diperkuat, skrining ditindaklanjuti dengan serius, dan layanan primer diberi kapasitas lebih baik, banyak kasus gagal ginjal tahap akhir sesungguhnya bisa diperlambat atau bahkan dicegah. Ke depan, arah pemikiran yang perlu dibangun adalah melihat ginjal bukan sekadar organ yang gagal, melainkan sebagai penanda bagaimana masyarakat dan kebijakan publik bekerja.

Merawat ginjal berarti merawat masa depan kesehatan yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat menjadi kunci utama. Dengan mengubah paradigma dari sekadar mengobati penyakit menjadi menjaga kesehatan, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi beban penyakit ginjal dan membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh bagi generasi mendatang.

Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menanamkan kesadaran bahwa pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan, demi kualitas hidup manusia yang lebih baik.

Playlist Saya