Gumoh vs GERD: Ibu Wajib Tahu Bedanya

Gumoh dialami 30 persen bayi di dunia, namun masih banyak ibu yang salah memahaminya sebagai tanda penyakit serius.

Andi Mardana
Andi Mardana Terverifikasi
Managing Editor
Menyukai eksplorasi budaya, pendidikan, dan gagasan kreatif melalui tulisan serta proyek digital
Gumoh vs GERD: Ibu Wajib Tahu Bedanya
Ilustrasi AI

Gumoh dalam bahasa medis disebut regurgitasi yakni keluarnya kembali sebagian isi lambung ke kerongkongan atau mulut, tanpa upaya yang terlihat dari si bayi.

Tuturbangsa.com – Sebagian besar ibu muda pernah mengalami kegelisahaan ini: si Kecil baru saja menyusu, lalu seperti biasa-cairan putih mengalir keluar lagi dari sudut mulutnya. Kondisi itu dikenal dengan sebutan “gumoh”. Sekali, dua kali, bahkan bisa jadi tiga kali terjadi dalam sehari. Sang ibu pun kemudian mulai bertanya-tanya, apakah hal itu normal? Apakah ada yang salah dengan kondisi bayinya? Apakah si Kecil mengalami penyakit refluks, seperti yang ia baca di Internet semalam?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak asing bagi para dokter spesialis anak. Di ruang-ruang konsultasi, di forum diskusi ilmiah, bahkan dalam percakapan antara dokter dan orangtua–gumoh kerap jadi topik yang penuh kekhawatiran sekaligus kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman itulah yang justru perlu diluruskan, sebelum beralih menjadi kecemasan yang tidak perlu.

Dalam sebuah forum edukasi kesehatan yang diselenggarakan baru-baru ini, CEO RS Premier Bintaro dr. Relia Sari, MARS menyampaikan betapa pentingnya landasan pengetahuan yang benar bagi para orangtua, khususnya terkait gumoh.
“Edukasi kesehatan anak berbasis bukti ilmiah adalah bagian dari komitmen kami dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal. Peran media sangat penting untuk membantu menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat, khususnya kepada para orangtua,” kata dr. Relia Sari.

Apa yang disampaikan dr Relia menjadi pengingat yang relevan: di era informasi yang berlimpah namun tidak selalu dapat dipercaya, satu artikel yang tepat bisa mengubah cara seorang ibu merespons gumoh bayinya – dari kepanikan menjadi ketenangan yang berdasar.

Gumoh: Tamu yang Tidak Diundang, tapi Lumrah

Gumoh vs GERD: Ibu Wajib Tahu Bedanya_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Gumoh dalam bahasa medis disebut regurgitasi yakni keluarnya kembali sebagian isi lambung ke kerongkongan atau mulut, tanpa upaya yang terlihat dari si bayi. Gumoh bukan muntah, juga bukan penyakit. Ini merupakan bagian dari respons anatomi bayi yang masih berkembang: katup antara kerongkongan dan lambung belum sepenuhnya sempurna, sehingga isi lambung lebih mudah naik kembali ke atas.

Data klinis yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan angka yang mencengangkan. Sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia tiga hingga empat bulan, sebelum kemudian berangsur berkurang menjelang usia satu tahun. Para dokter bahkan punya sebutan yang terasa menghangatkan hati untuk kondisi ini: happy spitter – bayi yang tetap ceria, menyusu dengan lahap, dan tumbuh dengan normal, meskipun sering gumoh.
Jadi, jika bayi Anda termasuk dalam kategori ini, pesannya jelas: tenang. Ia baik-baik saja.

GER dan GERD: Satu Huruf Berujung Dua Kondisi Berbeda

Gastroesophageal Reflux atau GER adalah proses fisiologis ketika isi lambung naik ke kerongkongan. Pada bayi, GER adalah variasi normal yang berkaitan erat dengan regurgitasi yang sudah kita bicarakan tadi. Sedangkan GERD adalah cerita yang sepenuhnya lain. Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi patologis – ketika refluks terjadi terlalu sering atau terlalu lama sehingga menyebabkan kerusakan nyata: peradangan dinding kerongkongan, gangguan makan, hambatan tumbuh kembang, bahkan anemia. Memang, prevalensinya jauh lebih kecil, hanya sekitar tiga hingga delapan persen. Tapi kedua kondisi ini sering tertukar dalam benak orangtua yang cemas.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi yang dikenal sebagai salah satu pakar terkemuka bidang gastroenterologi anak di Indonesia, menegaskan hal ini dengan sangat gamblang.

“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD itu jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” katanya.

Penjelasannya perlu diresapi perlahan. Menurutnya, tidak setiap bayi yang sering gumoh adalah pasien GERD. Tidak setiap bayi rewel sedang mengalami nyeri refluks. Beliau juga menegaskan, tangisan berkepanjangan bisa ditemukan pula pada bayi yang sehat. Bahkan sebelum dokter menetapkan diagnosis GERD, kemungkinan alergi protein susu sapi perlu disingkirkan lebih dulu – karena gejalanya bisa sangat serupa dan penanganannya berbeda.

Tanda Bahaya Yang Perlu Diwaspadai

 

Gumoh vs GERD: Ibu Wajib Tahu Bedanya_Tuturbangsa.com
Ilustrasi AI

Berikut sejumlah tanda bahaya yang perlu diwaspadai orangtua yang memiliki bayi yang kerap gumoh:

  • Berat badan tidak naik atau cenderung turun (gagal tumbuh)
  • Terdapat bercak darah pada gumoh atau muntahan
  • Nyeri yang tampak hebat dan berlangsung terus-menerus
  • Gangguan neurologis yang menyertai keluhan
  • Regurgitasi disertai demam tinggi atau tanda dehidrasi

Yang Bisa Dilakukan, Sebelum Obat

Penanganan awal regurgitasi dan GER bersifat sederhana dan berbasis perubahan kebiasaan – bukan obat-obatan. Langkah pertama adalah edukasi orang tua: memahami bahwa gumoh adalah bagian dari proses normal, bahwa ASI tetap dianjurkan untuk dilanjutkan, dan bahwa overfeeding – memberi makan terlalu berlebihan – justru sering menjadi penyebab utama gumoh yang sebenarnya mudah diatasi tanpa intervensi apapun.

Pengaturan posisi juga membantu secara bermakna: menggendong atau menidurkan bayi pada kemiringan sekitar 45–60 derajat setelah menyusu, atau memiringkan bayi ke kanan selama satu jam pasca makan untuk mengurangi refluks, lalu beralih ke posisi miring kiri agar pengosongan lambung berlangsung lebih cepat. Bila ASI tidak mencukupi dan diperlukan susu formula. Susu formula yang diberikan terbukti dalam penelitian klinis dapat mengurangi frekuensi regurgitasi secara signifikan.

Pemberian obat bukan pilihan lini pertama. Hanya pada GERD yang terkonfirmasi secara medis – bukan berdasarkan asumsi orang tua atau diagnosis mandiri – intervensi farmakologis akan dipertimbangkan. Ini bukan soal meragukan kekhawatiran orang tua; ini soal memastikan bahwa setiap langkah terapi benar-benar diperlukan.

Di akhir forum tersebut, pesan yang ditinggalkan terasa ringan namun padat makna: selama anak tumbuh dengan baik dan tampak bahagia, tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Gumoh akan berkurang seiring waktu. Usia bekerja sebagai obat paling alami yang ada.

Mungkin itulah yang sesungguhnya perlu disampaikan kepada ibu yang berjaga di malam hari, mengelap dagu bayinya untuk kesekian kalinya: bahwa gumoh itu tidak selalu berbahaya, bahwa kecemasan yang berlebihan pun tidak akan membantu si kecil, dan bahwa ketenangan seorang ibu adalah nutrisi yang tidak ternilai sama berharganya dengan ASI yang ia perjuangkan setiap hari.

Playlist Saya