Gangguan Irama Jantung Mengintai, Artificial Intelligence Jadi Penyelamat
Gangguan irama jantung kerap tak terdeteksi mata manusia, namun kecerdasan buatan kini mampu membaca ancaman itu lebih cepat dan akurat.
Tidak semua gangguan irama jantung berteriak lewat rasa sakit. Sebagian justru datang dalam diam, bersembunyi di balik rekaman EKG yang tampak normal – hingga kecerdasan buatan membuka apa yang luput dari mata manusia.
Tuturbangsa.com – Jantung manusia adalah musisi paling setia di alam semesta. Ia bermain tanpa jeda, tanpa libur, tanpa satu pun permintaan tepuk tangan. Namun ketika iramanya terganggu – ketika detak itu terlalu cepat, terlalu lambat, atau kacau tak beraturan – itulah aritmia. Dan aritmia bukan sekadar gangguan ritme. Ia bisa menjadi ancaman yang diam-diam mengintai nyawa.
Berdasarkan data nasional, lebih dari 600.000 kematian setiap tahun disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, dengan total sekitar 15,5 juta kasus tercatat. Tingginya angka tersebut belum sebanding dengan ketersediaan tenaga medis, di mana jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah masih berkisar antara 1.200 hingga 2.000 orang, jauh dari kebutuhan ideal yang mencapai 3.000 hingga 5.000 dokter untuk melayani lebih dari 280 juta penduduk.
Dalam acara Siloam Cardic Summit 2026 Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), tidak hanya memaparkan angka dan prosedur penyakit aritmia di Indonesia, ia mengajak kita untuk melihat seberapa jauh dunia kedokteran telah melangkah – dan seberapa jauh lagi perjalanan yang masih harus ditempuh.
Ketika Kecerdasan Buatan Membaca Jantung Lebih Cepat dari Manusia
Salah satu lompatan terbesar dalam penanganan aritmia dewasa ini datang dari tempat yang tak terduga: kecerdasan buatan. Bukan untuk menggantikan dokter, melainkan untuk mempertajam indera mereka di saat-saat paling kritis.
Prof. Yoga memaparkan sebuah temuan yang mengejutkan dari publikasi terbaru sebuah kasus di mana rekaman EKG seorang pasien tampak hampir normal di mata manusia, termasuk di mata dokter-dokter senior sekalipun. Namun ketika rekaman yang sama dimasukkan ke dalam sistem berbasis Artificial Intelligence (AI), hasilnya berbicara lain: intervensi segera harus dilakukan. Dan benar pasien tersebut ternyata mengalami penyumbatan total pada pembuluh darahnya, kondisi yang jika terlambat ditangani dapat berujung fatal.
“Ini satu hal yang luar biasa. AI dilibatkan di dalam proses diagnosis, dan sensitivitas diagnosisnya meningkat dari 71 persen menjadi 92 persen. Ini adalah advancement yang harus kita jadikan bagian dari pelayanan kita, sehingga kita bisa lebih cepat menyelamatkan otot jantung – karena miokard adalah survival,” kata Prof. Yoga
Namun Prof. Yoga juga tidak menutup mata terhadap keterbatasan teknologi ini. Dengan kejujuran yang menyegarkan, ia berbagi pengalaman pribadi menguji beberapa platform AI dengan sebuah EKG yang kompleks dan membingungkan. Hasilnya? Jawaban yang datang dari AI tidak lebih baik dari jawaban para dokter muda – bahkan ada yang keliru.
“Hati-hati dengan AI. Ia adalah alat yang sangat kuat, tapi ia bukan pengganti kedalaman klinis. Prompt yang kita berikan, cara kita mengajukan pertanyaan kepada AI, itu sangat menentukan kualitas jawabannya,” Prof. Yoga.
Pesan itu terasa seperti pengingat penting di tengah euforia teknologi: kecerdasan buatan adalah sekutu, bukan otoritas tertinggi.
Pacu Jantung Tanpa Kabel: Solusi Bagi Gangguan Irama Jantung

Jika AI adalah revolusi di ranah diagnostik, maka teknologi pacu jantung tanpa kabel – atau yang dikenal sebagai leadless pacemaker – adalah revolusi di ranah terapeutik. Selama puluhan tahun, pacu jantung konvensional memerlukan kabel yang ditanam melewati pembuluh darah, membawa risiko infeksi dan komplikasi yang tidak kecil. Kini, alat sekecil biji kacang dapat ditanamkan langsung ke dalam bilik jantung, tanpa kabel, tanpa bekas luka yang berarti.
Prof. Yoga juga memperkenalkan pendekatan yang lebih baru lagi: conduction system pacing (CSP) – teknik yang memancang stimulasi langsung pada sistem konduksi alami jantung, sehingga impuls listrik menyebar persis seperti yang dikehendaki alam. Bukan sekadar menggantikan detak yang hilang, melainkan memulihkan harmoni yang sesungguhnya.
“CSP itu much better dalam hal kesesuaian dengan propagasi impuls yang asli. Kita tidak lagi memaksa jantung berdenyut dengan cara yang asing baginya – kita mengembalikannya kepada jalur yang memang sudah dirancang oleh alam,” katanya.
Tentu saja, kemajuan ini bukan tanpa pertimbangan. Biaya CSP yang dua hingga dua setengah kali lebih mahal dari pacu jantung konvensional menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Prof. Yoga mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi bukan alasan untuk menerapkannya secara serampangan – setiap pasien harus dievaluasi secara individual, apakah ia benar-benar kandidat yang tepat.
Fibrilasi Atrium dan Energi yang Lebih Cerdas
Fibrilasi atrium – kondisi di mana serambi jantung bergetar tak beraturan – adalah salah satu aritmia yang paling umum sekaligus paling berisiko. Angka kejadiannya terus meningkat seiring bertambahnya harapan hidup manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Selama bertahun-tahun, ablasi dengan energi radiofrekuensi menjadi andalan terapi. Namun energi panas yang digunakan bisa berdampak pada jaringan di sekitarnya yang seharusnya tidak tersentuh. Kini, hadir teknologi baru bernama Pulsed Field Ablation (PFA) – energi yang bekerja secara selektif, menargetkan hanya jaringan yang memang perlu dihentikan aktivitasnya, tanpa merusak yang lain.
“PFA itu lebih aman karena spesifik pada jaringan yang ditarget. Jaringan di sekitarnya tidak terpengaruh – ini berbeda secara mendasar dengan energi termal yang selama ini kita gunakan,” katanya.
Yang membanggakan, Prof. Yoga juga mengungkapkan bahwa praktik integrasi prosedur – yakni melakukan ablasi dan pemasangan alat sekaligus dalam satu sesi – yang ia kembangkan di Indonesia ternyata jauh melampaui praktik di banyak negara ASEAN lainnya. Ketika data ini dipresentasikan dalam forum regional, tak sedikit sejawat dari negara tetangga yang terkejut.
Riset adalah Nafas Kemajuan

Di penghujung paparannya, Prof. Yoga menyampaikan satu pesan yang terasa seperti seruan: tanpa riset yang berkelanjutan, semua kemajuan ini hanya akan menjadikan kita pengikut, bukan pelopor.
Ia berbagi tentang sebuah mimpi besar yang sedang ia perjuangkan bersama timnya – mengembangkan sistem konduksi jantung buatan yang suatu hari bisa disuntikkan untuk menggantikan jaringan yang rusak. Penelitian yang masih panjang, mahal, dan penuh ketidakpastian. Namun justru di situlah letak keberaniannya.
“Advancement tanpa continued research hanya akan menjadikan kita pengikut saja. Kita harus melakukan lebih banyak, mendukung riset secara lebih masif – karena dari sanalah masa depan pasien kita sesungguhnya ditentukan,” kuncinya.
Jantung boleh kehilangan iramanya untuk sesaat. Tapi selama ada dokter-dokter yang terus berpikir, terus meneliti, dan terus berani bermimpi – harapan itu tidak pernah benar-benar berhenti berdenyut.