Episode ini membahas bagaimana podcast bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari tradisi tutur Nusantara. Percakapan mengangkat perbandingan antara dalang wayang kulit dengan podcaster modern, serta bagaimana suara tetap menjadi medium utama dalam menyimpan dan menyebarkan pengetahuan.
Isi Percakapan:
Tradisi tutur sebagai cara masyarakat menyampaikan sejarah, nilai, humor, dan kritik sosial.
Wayang kulit, kentrung, randai, hingga hikayat Melayu sebagai contoh tradisi lisan yang beragam.
Dalang sebagai penjaga memori kolektif, yang menyelipkan etika, politik, spiritualitas, dan komentar sosial dalam pertunjukan.
Teori oralitas Walter Ong: perbedaan oralitas primer dan sekunder, serta relevansinya di era digital.
Podcast sebagai mata rantai baru: suara, narasi, dan komunitas pendengar yang kini hadir dalam bentuk intim dan digital.
UNESCO dan warisan budaya: pengakuan terhadap wayang kulit sebagai warisan budaya lisan manusia.
Takeaway: Podcast budaya bukan sekadar konsumsi konten digital. Ia adalah bagian dari sejarah panjang cara manusia Nusantara merawat ingatan. Dari kelir putih dan lampu minyak hingga earphone dan platform digital, pusatnya tetap sama: suara manusia yang bercerita.
Transkrip
Obrolan Santai Redaksi tuturbangsa.com Tradisi Tutur Nusantara dan Reinkarnasi DigitalHost: Halo semuanya, welcome back to obrolan santai redaksi tuturbangsa.com! Bareng gue Andi Mardana. Fyi nih, hari ini Bob lagi absen, jadi gue cuma berdua aja nih bareng bestie gue sekaligus writer artikel mind-blowing kita hari ini, Dyah Wardani.
Guest: Hai, Di. Aduh, pressure-nya langsung naik ya dibilang mind-blowing. Tapi yes, hari ini kita ngomongin suara, wayang, podcast, dan kenapa semuanya surprisingly nyambung.
Host: Exactly. Jadi buat lo yang lagi buka artikelnya, judulnya tuh "Tradisi Tutur Nusantara dan Reinkarnasi Digital." Dan gue jujur pas baca langsung mikir, wait, jadi podcaster tuh ibarat reinkarnasi dalang?
Guest: Basically, iya, tapi jangan dibayangin podcaster langsung pegang gunungan ya. Intinya sama-sama pakai suara buat bikin dunia, nyimpen memori, dan nyambungin orang. Bedanya, mediumnya udah ganti baju.
Host: Oh wow, oke, kita pelan-pelan dulu. Di artikel itu kebuka dengan dua scene kan, malam di pesisir utara Jawa, dalang di balik kelir, terus pagi di Jakarta orang pakai earphone denger podcast pas komuter. Dua-duanya "satu orang, satu suara."
Guest: Nah, itu hook-nya. Yang satu pakai lampu minyak, gamelan, penonton rame-rame. Yang satu pakai aplikasi audio, earphone, dan mungkin lagi berdiri di KRL.
Host: Tapi pertanyaannya, mereka sebenernya doing the same cultural job nggak sih? Kayak, cuma bentuknya aja yang beda?
Guest: Mhm, itu poin besarnya. Tradisi tutur itu dari dulu bukan sekadar orang cerita buat hiburan. Dia tuh semacam hard disk budaya, tapi hard disk-nya hidup di ingatan dan suara manusia.
Host: Hard disk budaya, gue suka banget. Jadi sebelum tulisan dominan, pengetahuan itu literally disimpan di kepala orang-orang dan ditransfer lewat cerita?
Guest: Iya. Nilai, sejarah, etika, kritik sosial, bahkan cara komunitas ngeliat dunia, semua dibungkus dalam tuturan. Makanya di Nusantara, tradisi lisan tuh bukan sampingan, tapi backbone peradaban.
Host: Make sense sih. Karena kalau kita lihat wayang, hikayat, randai, kelong, elong, kentrung, itu bukan cuma show ya. Itu kayak kelas filsafat, kelas sejarah, plus ruang publik, all in one.
Guest: Exactly, Di. Dalang atau juru hikayat itu bukan cuma pembaca naskah. Dia kurator pengetahuan, penjaga memori kolektif, sekaligus mediator antara cerita lama dan hidup orang sekarang.
Host: Nah ini penting. Karena kadang kita modern people suka mikir oral tradition itu kuno, kurang sistematis, padahal justru sophisticated banget. UNESCO aja 2003 ngakuin wayang kulit sebagai warisan oral dan takbenda dunia.
Guest: Yes, pengakuan itu penting karena wayang punya nilai universal. Tapi lebih dari sertifikat, yang keren adalah cara dia survive. Dia bisa adaptasi dari zaman ke zaman tanpa kehilangan fungsi dasarnya.
Host: Oke, sekarang masuk ke bagian yang agak akademik tapi fun: Walter Ong. Gue pas baca ini kayak, siapa nih Om Ong, dan kenapa dia tiba-tiba nongol di obrolan podcast?
Guest: Hahaha, Om Ong ini scholar komunikasi yang nulis "Orality and Literacy." Dia ngebedain oralitas primer dan oralitas sekunder. Simpelnya, dia bantu kita ngerti kenapa suara balik lagi jadi powerful di era digital.
Host: Terus bedanya apa dong, oralitas primer sama sekunder?
Guest: Oralitas primer itu dunia sebelum tulisan jadi umum. Pengetahuan hidup cuma di ingatan, ucapan, performa. Kayak masyarakat yang cerita, nyanyi, dan menghafal sebagai cara utama menyimpan dunia.
Host: Jadi literally nggak ada Google Docs, nggak ada arsip PDF, nggak ada thread panjang. Yang ada cuma manusia, memori, dan suara.
Guest: Iya, dan itu bukan berarti primitif. Justru teknik mengingatnya kompleks banget: repetisi, ritme, formula cerita, karakter kuat. Semua itu bikin pengetahuan gampang nempel.
Host: Nah oralitas sekunder?
Guest: Ini yang spicy. Oralitas sekunder muncul saat suara jadi medium utama lagi, tapi karena teknologi. Radio, TV, podcast, video pendek, semua bikin kata-kata memenuhi udara lagi.
Host: Oh I see. Jadi podcast itu bukan balik ke masa lalu karena kita anti-tulisan, tapi karena teknologi bikin suara jadi gampang diproduksi, disebar, dan didengar kapan aja.
Guest: Exactly. Makanya gue suka nyebut podcast sebagai Orality 2.0. Dia punya akar lama, tapi operating system-nya digital.
Host: Orality 2.0, noted. Tapi wait, kalau gitu podcaster modern sama dalang punya DNA yang sama di mana aja?
Guest: Pertama, narasi. Dalang nggak cuma kasih informasi, dia bangun dunia. Podcaster yang bagus juga gitu, dia ngajak pendengar masuk ke perjalanan, bukan cuma bacain poin-poin.
Host: True banget. Podcast yang memorable biasanya bukan yang paling banyak datanya, tapi yang bikin kita ngerasa, "gue ikut ada di situ."
Guest: Kedua, suara sebagai instrumen. Dalang mainin timbre, intonasi, jeda, ritme, karakter. Podcaster juga, walau lebih subtle, tetap pakai nada dan pause buat nganterin makna.
Host: Ini gue relate sebagai editor audio. Kadang satu jeda setengah detik bisa bikin kalimat terasa lebih dalem. Teks nggak selalu bisa kasih itu.
Guest: Betul. Suara punya emosi bawaan. Lo bisa dengar ragu, hangat, marah, sedih, bahkan ironi, tanpa harus dijelasin panjang.
Host: Ketiga, komunitas ya? Karena di artikel disebut penonton wayang itu aktif, bukan cuma duduk manis.
Guest: Iya, mereka ketawa, komentar, bereaksi, kadang ngobrol balik. Di podcast, komunitasnya pindah ke komentar, grup diskusi, DM, forum. Jadi partisipasi komunalnya ada, cuma bentuknya digital.
Host: Tapi ada yang agak paradoks. Podcast itu didengar sendiri, pakai earphone, vibes-nya private banget. Tapi efek sosialnya bisa kolektif, karena setelah itu orang diskusi bareng.
Guest: Nah, itu menarik. Dia intim di momen mendengar, tapi bisa komunal di ruang setelahnya. Kayak pengalaman personal yang punya ekor sosial.
Host: Love that. Terus poin keempat, pengetahuan sebagai pengalaman. Ini yang menurut gue bikin audio tuh kuat banget.
Guest: Iya, budaya lisan biasanya dekat sama kehidupan nyata, atau istilahnya close to the human lifeworld. Jadi pengetahuan nggak berdiri abstrak di awang-awang. Dia nempel ke pengalaman, tubuh, tempat, dan emosi.
Host: Makanya orang bisa lebih inget cerita nenek soal asal-usul kampung daripada paragraf ensiklopedia yang super rapi tapi dingin.
Guest: Persis. Podcast juga begitu. Ketika ada suara manusia cerita langsung, otak kita nangkepnya bukan cuma informasi, tapi presence.
Host: Oke tapi kita jangan terlalu romanticize juga ya. Artikel ini juga bilang ada perbedaan yang nggak bisa diabaikan. Dalang hadir fisik, ada ritual, ada kelir, gamelan, malam, komunitas.
Guest: Yes, itu penting. Wayang bukan cuma konten audio-visual. Dia event sosial dan kadang ritual, dengan energi tubuh, ruang, waktu, dan komunitas yang nyata.
Host: Sedangkan podcast, walaupun intim, sering banget sendirian. Lo denger sambil cuci piring, jogging, atau ngantuk di transportasi.
Guest: Iya. Jadi jangan bilang podcast menggantikan wayang. Itu simplifikasi banget. Podcast bisa meneruskan sebagian fungsi tutur, tapi nggak otomatis bawa seluruh kedalaman tradisi.
Host: Nah, soal kedalaman ini gue pengin lo elaborate. Karena dalang tuh belajarnya bertahun-tahun, nguasain lakon, tembang, kosmologi, bahkan etika sosial. Podcaster modern kadang modal mic dan opini.
Guest: Hahaha, agak pedes tapi valid. Dalang itu institusi berjalan, bukan sekadar performer. Sementara podcaster punya jangkauan global dan akses luas, tapi kedalaman kontennya tergantung riset, etika, dan tanggung jawab.
Host: Jadi teknologi memperluas akses, tapi belum tentu memperdalam isi.
Guest: Exactly. Bahkan ada riset yang ngingetin digitalisasi bisa mengubah nuansa transmisi oral. Ketika sesuatu yang lahir dari kehadiran fisik dipindah ke speaker, ada rasa, konteks, dan relasi yang bisa hilang.
Host: Ini deep sih. Kayak, kita bisa rekam suara sesepuh adat dan didengar jutaan orang, itu keren. Tapi kalau dipotong dari konteks upacara, tempat, dan hubungan sosialnya, maknanya bisa berubah.
Guest: Iya iya. Makanya digitalisasi bukan cuma soal upload. Harus ada sensitivitas budaya: siapa yang bicara, buat siapa, dalam konteks apa, dan apa konsekuensinya.
Host: Jadi kalau kita ngomong podcast sebagai reinkarnasi digital tradisi tutur, maksudnya bukan "yang lama selesai, yang baru menang." Lebih ke mata rantai baru ya?
Guest: Exactly, Di. Ini bukan replacement, tapi evolution. Tradisi lisan Nusantara dari dulu juga adaptif: menyerap Islam, Barat, politik modern, humor lokal, sekarang digital.
Host: Yang berubah kelir-nya. Dulu layar putih diterangi lampu minyak. Sekarang kelirnya speaker kecil di earphone orang yang lagi jalan di Jakarta, Surabaya, Makassar.
Guest: Dan yang nggak berubah adalah kebutuhan manusia buat mendengar manusia lain bercerita. Itu basic banget. Selama ada suara dan telinga, tradisi tutur masih punya ruang hidup.
Host: Gue jadi kepikiran, podcaster Indonesia punya peluang besar banget ya. Bukan cuma bikin obrolan viral, tapi bisa jadi penjaga memori, misalnya rekam cerita kampung, bahasa daerah, sejarah keluarga, dongeng leluhur.
Guest: Betul. Tapi kuncinya jangan cuma ambil estetika "tradisional"-nya. Ambil juga etikanya: hormat pada sumber, akurat, sadar konteks, dan nggak mengubah warisan jadi gimmick.
Host: Mhm, penting. Karena kalau nggak, tradisi cuma jadi sound effect eksotis, bukan pengetahuan yang dihargai.
Guest: Iya. Padahal tradisi tutur itu hidup karena relasi, bukan cuma karena format. Voice note, podcast, arsip digital, semuanya bisa bermakna kalau relasinya dijaga.
Host: Oke, jadi kesimpulan santainya: podcast itu bisa dibaca sebagai Orality 2.0, podcaster bisa punya fungsi mirip dalang modern, tapi dengan catatan harus sadar kedalaman dan konteks. Bukan cosplay dalang digital, ya.
Guest: Hahaha, iya, bukan cosplay. Lebih tepatnya, belajar dari dalang: gimana suara bisa membawa memori, emosi, kritik, dan identitas. Itu PR kreator audio hari ini.
Host: Gue suka banget. Dan buat yang lagi dengerin sambil baca artikel, mungkin next time pas lo play podcast, lo bisa mikir, "oh, gue lagi ikut tradisi panjang manusia bercerita."
Guest: Iya, sesederhana itu tapi juga sedalam itu. Dari kelir sampai earphone, benangnya belum putus. Cuma bentuk simpulnya aja yang beda.
Host: Nice banget, Dyah. Thank you udah nemenin gue ngobrol dan ngebongkar artikel ini dengan super clear tapi tetap santai. Bob rugi sih absen hari ini.
Guest: Hahaha, Bob nanti wajib dengerin ulang. Thanks juga, Di. Seru banget ngebahas warisan tutur tanpa bikin terasa kayak kuliah pagi.
Host: Oke teman-teman, thanks udah dengerin obrolan santai redaksi tuturbangsa.com. Kalau artikelnya masih kebuka, boleh banget lanjut baca detailnya pelan-pelan. Sampai ketemu di obrolan berikutnya, dadah!
Host Andi MardanaPenulis Opini & Pengamat MediaAndi Mardana adalah seorang penulis opini senior dan pengamat media yang secara konsisten mengawal perkembangan industri komunikasi serta...
Narasumber Dyah WardaniPakar Literasi & Penulis JurnalistikDyah Wardani adalah seorang pakar literasi dan penulis jurnalistik yang mendedikasikan dedikasinya pada pengembangan kecakapan membaca, menulis, serta...
Narasumber Rita AyuningtyasJurnalis Investigasi & Praktisi MediaAkrab disapa Bobby, perempuan yang mendedikasikan kariernya sebagai jurnalis investigasi dan praktisi media ini percaya bahwa pers yang...